Harga Plastik Meroket, Pedagang Ungkap Bisa Naik hingga 100 Persen
pengelola penjualan plastik, Joni membenarkan adanya kenaikan yang terjadi sekitar 29 Maret 2026.-Disway/Dimas Rafi-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Ditengah kondisi gejolak peperangan antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran berimbas kepada negara lain seperti, bahan bakar minyak (BBM) serta bahan baku pembuatan plastik.
Perang tersebut berakibat pada kenaikan kantung kemasan yang sampai kini melambung tinggi dari imbasnya kejadian tersebut.
BACA JUGA:Dampak Harga Plastik Mahal Akibat Konflik Iran vs AS-Israel, Apa Langkah Pemerintah?
Meskipun harga dari kantung kemasan berada di trend yang tinggi, namun salah satu tempat penjualan plastik tetap ramai.
Hal tersebut tersebut terlihat dari pantauan disway.id di Jalan Gandaria, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur tetap didatangi para pembeli.
Salah satu pembeli, Surayati mengaku sangat keberatan dengan adanya kenaikan harga kantung kemasan. Biasanya, ia dapat membeli 15 pack kantung kemasan untuk kebutuhan berdagang.
BACA JUGA:Tumbuh Setiap Aspeknya, Krom Bank Catatkan Kinerja Positif Sepanjang Tahun 2025
Namun dengan adanya kenaikan ini, membuat wanita paruh baya mengurangi pembelian jumlah plastik.
"Kacau harga pelastik naik, biasanya bisa beli 15. Sekarang cuman bisa beli setengahnya atau 5 aja," ucap Suryati kepada disway.id di lokasi pada Senin, 6 April 2026.
Sedangkan, pengelola penjualan plastik, Joni membenarkan adanya kenaikan yang terjadi sekitar 29 Maret 2026.
"Untuk kenaikan harga jual plastik dari pertengahan puasa," kata Joni saat ditemui disway.id pada Senin, 6 April 2026.
Kenaikan tersebut, lanjut pria berusia 27 tahun, menduga bahwa dapat mencapai 100 persen. Bila perang itu terus berlanjut,
"Naiknya sekitar 60 sampai 70 persen, dan harga itu busa naik-naik terus mungkin 100%, bisa jadi," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis untuk menekan kenaikan harga bahan baku plastik yang sebagian besar bergantung pada pasokan industri besar dan impor.
"Harapannya ada pembicaraan antara pemerintah dengan produsen besar atau pabrik plastik supaya ada solusi. Supaya bahan baku bisa masuk dengan harga yang tidak terlalu mahal," pungkas Joni.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: