Pada saat yang sama, Achmad menambakan, The Fed pada Maret 2026 mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5–3,75 persen, yang berarti kondisi global masih cenderung ketat.
Dampaknya bagi Indonesia sendiri adalah dolar AS tetap kuat, namun tekanan terhadap rupiah berlanjut, dan ruang pelonggaran moneter menjadi terbatas.
"Dengan kata lain, rumah tangga menghadapi kombinasi yang tidak nyaman: biaya hidup masih tinggi, bunga belum murah, dan sentimen global masih rawan," jelas Achmad.
Tekanan tersebut kini nyata dirasakan pelaku usaha di lapangan.
Raiza Andini pengusaha katering di Jakarta paling merasakan dampak kenaikan harga plastik.
Biaya operasional yang meningkat memaksa mereka memutar otak agar tetap bisa bertahan tanpa kehilangan pelanggan.
Raiza Andini mengatakan kenaikan harga plastik ini mempengaruhi biaya operasional. Raiza khawatir pelanggannya bisa kabur apabila terdapat kenaikan harga.
"Saya khawatir pelanggan bakal kabur, karena ada tambahan sedikit biaya operasional disebabkan karena harga plastik naik," kata Raiza.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik Akibat Konflik Global, Purbaya: Belum Ada Permintaan Relaksasi Bea Masuk
Tak Ada Rotan, Akar pun Jadi
Raiza putar akal meski harga plastik naik, seperti kata pepatah bahwa tak ada rotan akar pun jadi.
Meski harga plastik naik, Raiza mengaku dirinya tak menaikkan harga pada kateringnya.
Ia mengaku memiliki strategi lain untuk mengurangi plastik yaitu dengan cara menggunakan daun pisang dan daun jati juga besek bambu.
"Saya tidak menaikkan secara drastis harga katering tapi lebih mengambil strategi mengurangi plastik dengan berjualan nasi menggunakan daun pisang dan daun jati juga besek bambu," ungkapnya.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik, Pedagang Akui Stok Pasokan Mulai Langka di Pasaran
Meski tekanan biaya meningkat, ia berupaya mempertahankan porsi dan kualitas makanan. Namun, jika harga plastik melonjak tajam hingga dua kali lipat, penyesuaian harga tetap tak terhindarkan.