"Selain itu, patroli-patroli rutin juga harus diadakan untuk meningkatkan pengawasan di tempat-tempat yang strategis, seperti pasar-pasar, kawasan UMKM, sampai dengan area-area komersial besar sebagai objek-objek ekonomi yang penting," pungkasnya.
Ia menjelaskan, setelah langkah tersebut dilakukan, Pemprov DKI harus mempertimbangkan revisi terhadap Perda Nomor 8 Tahun 2007 yang tidak responsif terhadap gejala premanisme yang kini menjadi momok bagi warga Jakarta.
BACA JUGA:Sejarah Tanah Abang: 'Politik Jatah Preman', Pusat Perdagangan Rawan Keamanan
Memang, dalam Perda itu, ada larangan untuk menggunakan bahu jalan alias trotoar yang tidak sesuai ketentuannya tanpa izin Gubernur. Salah satunya adalah parkir liar.
"Ketentuan-ketentuan terkait gangguan-gangguan lainnya seperti kekasaran, pemalakan, intimidasi, hingga pungli terhadap warga Jakarta, terutama para pedagang," paparnya.
Sementara itu, pedagang dan pengendara-pengendara transportasi umum tak jarang menjadi korban pemalakan bahkan pungli. Mirisnya, kebanyakan dari mereka adalah ‘wong cilik’ yang sebetulnya sudah hidup susah.
"Tapi, harus menderita lebih parah lagi karena berhadapan dengan praktik-praktik premanisme seperti intimidasi dan punglik,"katanya.
Ia menegaskan, tidak boleh ada kompromi terhadap praktik pungli, intimidasi, atau pemaksaan oleh kelompok tertentu.
"Kalau ini dibiarkan, efeknya bukan hanya ke ekonomi, tapi juga ke kepercayaan publik terhadap pemerintah," tegasnya.
Soal Premanisme Pramono Tak akan Ragu
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merasa geram dengan aksi premanisme yang kerap terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Adapun kasus premanisme yang viral dalam beberapa hari terakhir salah satunya insiden pemalakan terhadap tukang bakso dengan dalih uang keaman.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, tampak si preman memecahkan sejumlah mangkuk disertai ancaman kekerasan terhadap tukang bakso yang enggan memberikan uang keamanan.
Selain itu terdapat pula video viral lainnya yang menampakan seorang sopir bajaj dipalak preman di jalanan kawasan Tanah Abang.
Dalam rekaman video si sopir bajaj mengaku, dirinya sampai harus merogoh kocek ratusan ribu rupiah per hari untuk uang kemananan.
Jika tidak memberikan uang, si sopir mengaku kerap mendapat ancaman kekerasan hingga perusakan bajaj.