Kalau saja kemakmuran bisa menular, maka yang punya potensi makmur berikutnya adalah: Iran dan Suriah.
Katakanlah dalam 25 tahun ke depan. Di belakang itu bisa menyusul: Irak, Jordania, Mesir dan Lebanon. Berarti, itu 50 tahun kemudian. Maka dalam 50 tahun wilayah Arab bagian timur menjadi wilayah yang maju. Sampai Parsi.
Di utara itu ada Turkiye yang sudah lebih dulu makmur.
Setelah itu praktis semua negara bekas kejayaan Turki Usmani bisa kembali ke era jaya.
Itu kalau perang Israel-Iran benar-benar selesai. Dan tidak kambuh lagi. Juga bila tidak ada lagi sanksi Barat atas Iran dan Suriah.
Di belahan Timur, kemajuan Tiongkok menular sampai Vietnam. Di belakang itu bisa menyusul Malaysia dan Kamboja. Entah apakah bisa menular terus sampai ke Tenggara: Indonesia dan Filipina.
Di belahan Selatan terlihat sudah India juga menuju kemakmuran. Yang lebih dulu tertular India kelihatannya Bangladesh. Sedang Pakistan, Afghanistan, Uzbekistan kelihatannya perlu waktu lebih lama. Pun Laos dan Burma.
Anda sudah tahu: Jepang dan Korea sudah jauh lebih dulu makmur di belahan Timur. Sedang Arab Saudi dan negara-negara Teluk juga sudah lebih dulu makmur di belahan Barat Asia.
Dengan demikian di kawasan Asia tinggal 12 negara yang miskin: Laos, Korut, Burma, Filipina, Nepal, Pakistan, Yaman, Afghanistan dan empat negara di kanan-kiri Afghanistan.
Dengan adanya 20 negara maju di Asia rasanya mereka sudah bisa menjadi mayoritas: 20 negara itu mengepung 12 negara miskin. Kebalikan dari sekarang: negara miskin mengepung negara kaya.
Maka kalau skenario itu terjadi maka akan ada 20 negara Asia yang maju dan 12 yang masih miskin. Betapa raksasanya Asia. Belum lagi dihitung dari jumlah penduduk dibandingkan dengan keseluruhan penduduk Asia.
Sementara itu Anda juga sudah tahu: satu negara yang mendominasi dunia selalu berganti. Dari satu abad ke abad lainnya. Amerika baru mendominasi dunia 100 tahun terakhir. Belum sampai. Belum begitu lama untuk hitungan sejarah dunia.
Bedanya: di zaman Amerika sedang menguasai dunia pikiran manusia sudah semakin pintar. Apalagi pikiran orang Amerika.
Maka di Amerika pasti berkembang diskusi dengan tema “penyebab-penyebab runtuhnya penguasa dunia di masa lalu”. Jangan sampai itu terjadi lagi. Jangan sampai Amerika hanya menguasai dunia hanya 100 tahun.
Mereka tentu belajar dari situ agar Amerika bisa abadi menguasai dunia. Apa saja yang harus dilakukan. Apa saja yang tidak boleh dilakukan.
Itu sama dengan orang-orang kaya masa kini. Mereka tahu dari sejarah: kekayaan itu akan habis di generasi ketiga. Kekuasaan keuangan runtuh atau diturunkan di generasi ketiga.
Seminar-seminar tentang itu pun banyak dilakukan. Laris. Penyebab-penyebab keruntuhan dipelajari. Dikaji. Mereka terus mencari cara agar kekayaan itu bisa abadi. Sudah ada yang mulai menemukan jalan keluar: menciptakan family constitution. Dr Hadi Cahyadi salah satu ahlinya di Indonesia.
Semua skenario penyelamatan kekayaan itu fokus pada internal di orang kaya: bagaimana bisa kokoh. Tidak rapuh. Tidak satu pun studi menyebut perlunya memiskinkan orang lain. Memiskinkan tetangga. Teman. Lingkungan. Bukan itu jalan untuk terus menjadi terkaya.
Di level negara mungkin saja caranya sama: jaga negara agar tetap kokoh, tetap lebih produktif, tetap lebih pintar. Tidak harus dengan cara mengadu domba negara lain. Tidak perlu membuat negara lain yang terlihat akan maju dihambat kemajuannya.
Betapa enteng Presiden Trump mengucapkan itu tanggal 6 April: “whole civilization will die tonight, never to be brought back again.”
Iran mungkin contoh paling nyata. Negara itu memenuhi syarat untuk bisa menjadi negara makmur asal penduduknya tidak dimusnahkan—apalagi hanya dalam satu malam.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 22 April 2026: Halo Wani
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MBAK WANI SABU, MEMANG BERANI.. Nama Wani Sabu seperti takdir. “Wani”—kalau bahasa Jawa, artinya "berani". Tapi keberaniannya bukan yang berisik. Ia sunyi. Tekun. Dari sarjana hukum, nyemplung ke audit. Itu bukan jalur nyaman. Ia tempuh 18 bulan pendidikan berat. Lulus terbaik. Itu bukan bakat. Itu napas panjang. Ia lalu jadi “polisi” bank. Ahli fraud. Bahkan mengejar doktor kriminologi. Saat dipindah ke call center, banyak orang akan merasa “diturunkan”. Wani justru menaikkan standar. Ia bawa disiplin auditor ke ruang penuh emosi. Tombol-tombol waktu itu terlihat sepele. Tapi dari situlah budaya dibentuk. Dari detik. Dari kebiasaan kecil. Di Bank Central Asia, ia merapikan hal yang tak kasat mata: 1) nada suara, 2) pilihan kata, 3) kesabaran. Ia bahkan meneliti kata makian. Lalu menghapusnya. Itu kerja yang tidak glamor. Tapi dampaknya terasa sampai ke nilai perusahaan. Di bawah Armand Hartono, ia diberi panggung. Dan ia tidak sekadar tampil. Ia mengubah permainan. Juara dunia datang berkali-kali. Bukan kebetulan. Wani tidak mengejar sorot. Ia menata fondasi. Dan dari fondasi itulah, gedung tinggi bernama reputasi berdiri. Tanpa banyak suara. Tapi menggema. ### (("Wani tenan mbak Wani iki"..))
Ahmed Nurjubaedi
Bu Wani Sabu berada di tempat yang tepat. Saya juga yakin beliau tidak akan tergoda masuk rimba raya birokrasi pemerintahan aka area politik. Seperti Abah DI dulu. Atau Bu Ira. Atau Nadim. Dll. Wong Kang Dasep yang mrepet sedikit saja harus membayar mahal. Dosen saya almarhum pernah cerita. Beliau mengikuti pendidikan kader sebuah parpol di jaman orba. Suatu ketika, ia dan seluruh peserta diminta berdiri dengan sikap istirahat. Lalu sang mentor yang juga tentara tiba-tiba menempelengnya begitu keras. Tepat kena telinga sebelah kanan. Hingga mengeluarkan darah. Sang mentor lantas berkata. Kenapa ia saya tempeleng? Dan tidak boleh membalas? Jika sudah berani masuk arena politik, kalian harus siap diperlakukan tidak adil. Sejak itu telinga beliau yang kena tempeleng tuli. Dan beliau memutuskan keluar total dari dunia politik. Lantas menjadi direktur di sebuah perusahaan besar. Salam hormat, Bu Wani Sabu. Anda sungguh inspirasi dahsyat.
Kalender Bagus
Metode pencet tombol itu ga bakal bisa diterapkan di perusahaan lain, apalagi di pemerintahan. Bakal di demo pegawainya. Tema demonya: "Kejam Nian"
Wilwa
Out of topic. Dari penjelasan Kyai Said Aqil Sirodj, kita jadi tahu bahwa Iran lah yang berjasa membuat Islam dipeluk hampir 2 milyar penduduk bumi ini. Mulai dari penyempurnaan aksara Arab, para cendekiawan yang tak hanya terkenal dalam science seperti Ibnu Sina atau Ibnu Rushdi, tapi Iran juga melahirkan Sufi/Tasawuf yang berupaya menyucikan hati dan pikiran. Dan dari Luthfi Assyaukanie, kita tahu bahwa semasa Abbasiyah awal era Harun Al Rasyid, ketika yang disebut Syiah adalah mayoritas maka filsafat Yunani tumbuh pesat selain science yang Abbasiyah warisi baik dari Romawi maupun Iran. Itulah era Golden Age Islam ketika yang disebut ulama adalah para scientist dan filsuf. Namun Islam mengalami kemunduran setelah era Abbasiyah akhir ketika Al Qadir berkuasa mulai kong kali kong dengan pemuka agama “Sunni” garis keras yang mengkafir-kafirkan para filsuf dan scientist serta penganut Syiah. Sejak itulah Islam mundur dan dikuasai agamawan sehingga ulama alias educated people bukan lagi philosophers atau scientists tapi religionists. Dan dengan power yang dimiliki, Abbasiyah membuat “Sunni” mayoritas di dunia Islam dan “Syiah” menjadi minoritas namun tetap eksis hingga kini. Pengetahuan macam ini jarang diketahui Muslim masa kini yang makin terbelakang karena makin dipengaruhi aliran garis keras dari dunia Arab. Hmmm
Dr. Nugroho
Maaf... Semua orang BCA yang cukup senior tahu, yang merintis Halo BCA selama bertahun2 adalah ibu Rini Sari.
alasroban
"Apakah anda pernah bermasalah dengan BCA yang CS-nya juara dunia itu?" "pernah" "berapa kali?" "sekali" "tahun berapa?" "sekitar tahun 1997" "nyaris 30 tahun yang lalu ya" "iya" "apa masalah anda dengan BCA waktu itu" "gagal buka rekening karena ngulang tanda tangan berkali-kali tak bisa sama persis" "terus nggak jadi buka rekening BCA?" "nggak jadi" "jadinya nabung di mana" "di depanya" "ada bank apa di depanya" "waktu itu bank exim, tapi sekarang jadi bank mandiri" "lolos verifikasi tandatangan?" "iya lolos tak seribet BCA waktu itu"
Liáng - βιολί ζήτα
Maka saya menetapkan hati bahwa Kartini saya tahun ini adalah ini: Wani! (Dahlan Iskan) Tentu saja itu haknya Abah DI..... setiap orang punya persepsinya masing-masing..... Tetapi, bagi saya pribadi..... "Kartini" terbesar belakangan ini adalah : Ibu Ratna Indah Kurniawati. ---> Perawat Hebat yang terkenal gigih merawat dan memberdayakan pasien kusta di Puskesmas Grati, Pasuruan..... https://www.ellafitria.com meruntuhkan-tembok-dusta-kisah-ratna-indah-kurniawati-melawan-stigma-kusta Ibu Ratna Indah Kurniawati..... Kartini masa kini yang sesungguh-sungguhnya.....
Wilwa
Luthfie Assyaukanie adalah pemikir setaraf filsuf yang langka di negeri ini. Dapat dikatakan beliau mewakili pemikiran almarhum Cak Nur, Gus Dur, Buya Syakur dll tokoh pembaharu Islam. Bila beliau dibandingkan dengan dibandingkan dengan Rocky Gerung atau Felix Siauw jelas bagaikan langit dan dasar sumur.:) Saya setuju dengan solusi yang Luthfie Assyaukanie sodorkan mengenai Agama yang Cocok buat Orang Indonesia: Agama Sipil Sebagai Alternatif Agama-Agama Tradisional. 19 Aug 2024. Idetopia. Sayangnya gagasan paling waras dari Cak Nur (dan Gus Dur ini) seolah hilang ditelan gaduh yang disuarakan aliran-aliran agama garis keras atau filsafat yang dangkal dan “setengah matang” yang marak di negeri ini. Salam akal sehat / common sense dan salam nurani / conscience. Semoga korupsi dan koruptor lenyap di negeri ini. Seperti permintaan di videoklip Djarum 76 yang dijawab om Jin: Wani Piro? :):):)
Wilwa
Wan 婉 memang dieja seperti One dalam bahasa Inggris. Tapi artinya bukan Satu. 婉 terdiri dari dua simbol yaitu wanita 女 di samping kiri yang menjadi semantic / makna dan mangkok 碗 sebagai phonetic / pinjam bunyinya. Artinya cantik, elegan
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TERNYATA BCA MENGGUNAKAN ISTILAH CONTACT CENTER, DAN BUKAN CALL CENTER: APA BEDANYA? 1) Call center itu sempit. Telepon masuk, telepon dijawab. Selesai. Dunia lama. Dunia kabel. Dunia tunggu nada sambung. 2) Contact center lebih luas. Ia tidak peduli medianya. Telepon, email, chat, WhatsApp, aplikasi. Semua masuk satu dapur. Semua dicatat. Semua diolah. Nasabah tidak lagi “menelpon bank”. Nasabah “berinteraksi”. ### Di Bank Central Asia, pergeseran istilah ini bukan kosmetik. Ini perubahan cara berpikir. 1) Dari reaktif ke proaktif. 2) Dari menjawab komplain ke membangun relasi. Bahkan bisa jualan. Buka rekening tanpa datang. Transaksi tanpa antre. Kelebihannya terasa di data. 1) Setiap sentuhan tercatat. 2) Pola keluhan terbaca. 3) Solusi bisa disiapkan sebelum masalah datang. Seperti dokter yang tahu penyakit sebelum pasien batuk. Di tangan Wani Sabu, contact center jadi jantung. 1) Bukan sekadar operator. 2) Ia pusat denyut pengalaman nasabah. Jadi bedanya sederhana. 1) Call center itu telinga. 2) Contact center itu otak plus hati. Yang satu mendengar. Yang satu memahami—lalu bertindak.
Wilwa
@JoNeka. Yunani dan Iran itu musuh bebuyutan. Perang berabad-abad. Saling membenci. Saling menghancurkan. Uniknya adalah Iran kemudian mempelajari filsafat Yunani dan kebebasan berpikir ala filsuf Yunani. Juga ilmu kedokteran Yunani. Sebaliknya, Yunani juga belajar science dan teknologi yang dimiliki Iran. Seperti bagaimana membuat kubah setengah bola dalam bidang teknik sipil. Dua bangsa ini kemudian saling belajar kelebihan masing-masing. Tukar menukar ilmu. Unik memang.
David Kurniawan
kebiasaan halo bca itu mngulang ulang pertanyaan. misal saya email saya ddd@gmail.com eh di balaes betul emailnya ddd@gmail.com...kalo dalam situasi biasa gpp tapi kalo kita juga lagi terdesak rasanya...emosi saja.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
ANTRIAN PANJANG, JADI IDE BESAR DI BCA DAN TELKOM.. Tahun 90-an. Saya Manajer Keuangan Telkom Surabaya. Membawahi akunting, budgeting, treasury dan collection. Tapi pagi itu, yang paling terasa justru antrean. Di Jalan Urip Sumoharjo, orang mengular bayar telepon. Masuk halaman 1 Jawa Pos. Panjang. Seperti ular, tulis Jawa Pos. Antrian panjang, karena ada sanksi: telat bayar, outgoing diisolir. Jam 7 pagi besoknya, Kadivre menelepon saya. Marah besar. Pelanggan naik dua kali lipat. Saya tidak menambah jumlah loket pembayaran. Sistim saat itu, kalau bayarnya, misal di BNI, ke depan tetap harus di BNI. Lalu datanglah pak Berry Lesmana dari BCA ke ruangan saya. Saya kaget. Pejabat tinggi BCA datang seakan dikirim Alloh membantu saya mengatasi layanan dan kemarahan Kadivre. Belio baru dari Indomobil, masuk BCA sebagai VP Consumer Banking. Membawa ide sederhana: bayar tagihan telepon lewat ATM. Pak Berry mendapat ide itu dari pengalaman mengantar istrinya bayar tilpun. IA merasakan sakitnya antre bayar tilpun. Dari situ lahir solusi bagi BCA dan juga Telkom, kata pak Berry menawarkan ATM BCA—yang baru ratusan—jadi loket baru. Seketika, kapasitas melonjak. Surabaya jadi yang pertama. Jakarta menyusul. Karier pak Berry sempat melesat. Dari VP BCA, lalu ke puncak sebagai Presiden Direktur Citibank Indonesia. ### Ide kecil. Dampak besar. Antrean hilang. Pelajaran datang. Karier mengikuti.. Saya tetap dimarahi pak Kadivre V Jawa Timur. He he. Gpp.
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja. Menurut cerita orang tua saya..... Duluuuuu sekali..... tahun 1980an berdirilah pusat perbelanjaan modern pertama di Bandung, namanya "Kings Shopping Centre" berlokasi di pusat kota, di Jalan Kepatihan tembus ke Jalan Dalem Kaum. Ramai sekali, pengunjung silih berganti terus menerus sepanjang hari, sepertinya Kings Shopping Centre tidak mengenal hari sepi..... Bukan Shopping Centre nya yang ingin saya tulis, tetapi sisi lainnya..... Kebetulan, orang tua saya kenal baik dengan salah seorang pimpinan pengelola Shopping Centre tersebut. Dan..... orang tua saya sempat tertegun ketika mengetahui dari sahabatnya itu, bahwa pendapat uang parkir basement Shopping Centre tersebut lebih dari cukup untuk membayar upah team security plus team cleaning service nya, yang jumlahnya puluhan orang tersebut..... Itu..... contoh kecil..... Mari kita bayangkan..... berapa besar pendapatan Bank dari berbagai biaya administrasi perbankan yang dikenakan terhadap para nasabah ?? Bahkan, berbagai biaya administrasi perbankan tersebut, konon, sudah menjadi komponen utama "fee based income" nya Bank !! Maka..... ketika kita mendapatkan pelayanan perbankan yang teramat-sangat baik-sekali..... mungkin ada baiknya kita bergumam : "lu orang kité-kité yang ngegaji kan....." wkwkwkwkwk.....
Allen Enrico Doloksaribu
Soal pembukaan rekening online di BCA, saya punya pengalaman saat istri pindah kerja dan sedang OJT di Medan kemudian diminta membuka rekening BCA or Mandiri. Karena keterbatasan waktu sehingga tidak sempat kalau harus ke kantor cabang Bank tsb. namun oleh karena alamat KTP di Jakarta Barat (alamat lama) dan domisili saat ini di Bekasi namun menelepon halo BCA dari Medan walhasil disuruh oleh operator BCA tanpa alasan yang jelas untuk mendatangi KCP BCA. akhirnya istri beralih ke Mandiri sebagai payrollnya yang pembukaan rekening online nya tidak seribet BCA. mungkin kalau ada petinggin BCA yang membaca ini bisa menjadi masukan
Wilwa
@MbahMars. Khan dari sejarah kita tahu bahwa Yunani kemudian mundur dan perannya diambilalih Romawi yang dulunya adalah protektorat Yunani. Dan kemudian dari Romawi pindah lagi ke Jerman-Perancis-Inggris. Lalu pindah lagi ke USA.
Herry Isnurdono
Doktor Nathalya Wani Sabu (Wani Sabu), nama Chinesenya Huang Wan Ik, Wan dari kata One (Satu dlm bhs Inggris), orangtuanya mengharapkan menjadi selalu nomer satu dlm segala hal. Meraih S3 di PTIK di hari Kartini (21 April 2026) di PTIK Jakarta (Alumni FH Unpar Bandung, Angk. 1987) lihat di IG ybs sudah memakai kain kebaya selempang S3 PTIK. Pelopor kemajuan Halo BCA dgn predikat terbaik saat ini. Dari peringkat 20 menjadi nomer 1 mengalahkan BMRI, BRI, BNI dll. Wani Sabu, terakhir menjabat Executive Vice President Central of Digital. Saat ini menjabat Senior Advisor/EVP BCA. Ybs telah merubah budaya kerja pegawai di Call Center yg semula tidak ada KPI, menjadikan KPI sebagai tolok ukurnya. Call Center BCA menjadi profit center BCA, berkat Wani Sabu. Ingat Call Center BCA, 1500888, nomor cantik yg mahal. Ada angka 888, angka hokki utk kaum Tionghwa. Pegawai CC BCA pasti tahu angka 2 7, 2 7 yg menandakan setiap pegawai, melakukan tengok kekiri 2 cm, tersenyum, tengok kekanan 2 cm, tersenyum, serta 7 gigi depan dibuka dan tersenyum. Jika anda telp. ke Halo BCA terputus, karena pulsa habis, maka petugas akan menghubungi kembali ke ybs, dan tidak perlu diulang kembali. Halo BCA sudah menggunakan sistem/aplikasi, jika telp. ke Halo BCA pulsa tidak terpotong, bisa masuk ke Whatsapps atau Webnya. BCA saat ini tidak terkalahkan oleh pesaing2 nya utk Call Center nya, semua berkat wanita kelahiran Jambi, yg bernama Dr. Nathalya Wani Sabu.
Taufik Hidayat
Wah melihat naa Wani yang ternyata nama Tionghoa nya wan yi (dibaca wani juga) jadi sangat bagus karena tidak usah ganti nama? Tapi memang salut dengan karir nya di BCA. Apalagi melihat bahwa Wani lulusan Unpar thn 1987. Jadi ingat pernah juga hampir kuliah di sana.. sudah ikut tes dan diterima tahun 1980 : Pilihnya jurusan arsitektur dan bayarnya waktu itu 100 ribu rupiah(pilihan paling murah ), tapi memang gak jodoh kuliah di kampus Ciuembeluit ) he he. Lalu Wani juga kulia S2 di tarumanegara .. jadi inga juga pernah tes di Taruma Negara tahun 1979. Jurusannya
Thamrin Dahlan YPTD
Point Bu Wani Sabu : Pertama jangan terlalu tegang menghadapi permasalahan pekerjaan kuncinya mudah move on./ Kedua membuat sistem kerja terukur sehingga produktivitas optimal. Ketika pelayanan publik khusus nasabah memenuhi syarat akuntabel dan transparansi Keempat saya ikut Bangga Bu Wani Sabu satu daerah dengan awak yaitu Jambi. Kelima Setuju banget Kartini 2026 untuk Bu Wani Sabu berdasarkan Prestasi tingkat dunia bidang perbangkan. Halo BCA . Maka kegalauan / keheranan saya terjawab ketika melahat kenapa antrian ATM BCA kog mengalahkan ATM Bank lainnya. Salam salamam. Salut Disway mensyiarkan berita positif untuk dicontoh para birokrat bagaimana bekerja profesional Ibu Wani Sabu : Science, Skill and Atittude