Neo Pop
--
"Pelukisnya ini anak umur berapa?" tanya seorang pengusaha yang melihat tiba-tiba ada banyak lukisan di kantor Harian Disway.
"Lukisan ini mengingatkan saya ke pelukis wanita damar kurung dari pedalaman Gresik," ujar Dhimam Abror, mantan pemred Jawa Pos di masa lalu.

--
Memang ada pameran lukisan di Disway. Temanya pameran ndugHal –ndugal adalah bahasa Jawa untuk anak yang semau-maunya yang kalau melakukan sesuatu tidak mempertimbangkan apakah orang lain bisa menerima atau tidak. Predikat ndugal sering juga dikenakan untuk anak yang kurang ajar, tidak tahu sopan santun.
Nama pelukis ndugHal itu Anda sudah tahu: Daniel Kho, bukan anak-anak lagi. Anaknya sudah tujuh orang dari lima perkawinannya dengan wanita dari lima negara.

--
Kantor Disway sendiri dulunya memang galeri lukisan Emmitan. Beberapa wartawan Disway masih ingat sering ke galeri itu untuk meliput pameran lukisan.
"Pameran ndugHal" itu sendiri memang diadakan oleh Hendro Tan, pemilik Emmitan Contemporary Art Gallery untuk mengenang mendiang istrinya yang meninggal karena kanker lebih 10 tahun lalu. Saya pun senang ketika Hendro, pengusaha yang juga penggemar lukisan itu, ingin mengadakan pameran di Disway.

--
Saya ingat: gelar ndugHal untuk pelukis Daniel Kho diberikan kali pertama oleh Harian Kompas sekitar 10 tahun lalu. Rasanya predikat ndugHal itu tidak berlebihan.
Daniel sendiri tidak keberatan dengan predikat itu. Di dunia wayang ada dua tokoh hebat yang mendapat gelar ndugal: Ontoseno dan Wisanggeni. Dua tokoh itu sakti semua. Pembela kebenaran semua. Pemberani melawan siapa pun yang bersalah –termasuk ke bapak mereka.

--
Istri terakhir Daniel orang Jawa dari Indonesia. Sang istri adalah adik dalang kondang dari Yogyakarta: almarhum Seno Nugroho. Seno, Anda sudah tahu, telah berhasil mengubah tokoh wayang Bagong dari dulunya hanya tokoh lucu menjadi lucu nan ndugal.
Istri terakhirnya itu kini tinggal di Jerman –menjadi guru tari di sana. Status Daniel pun menjadi duda setelah dalam 18 tahun perkawinan itu memiliki dua anak –dua-duanya ikut ibu mereka di Jerman.
Aliran lukisan Daniel disebut Neo Pop Art. Tidak hanya dua dimensi, ada yang empat dimensi.
Di pembukaan Jumat sore lalu Daniel mengenakan kacamata seperti Batman. Banyak pelukis Surabaya hadir. Konsul Tiongkok di Surabaya Ye Su, ikut memberi sambutan. Management Advisor Wisma Jerman Mike Neuber juga hadir.

--
Setelah puas melihat lukisan ini baiknya Anda minta petugas untuk mematikan lampu. Lalu lihatlah lukisan Daniel di kegelapan. Lukisan itu lebih indah. Ada pantulan warna-warninya. Cat yang dipakai melukis memang khusus: jenis fluorescent molotow.
Warna yang bisa terlihat di kegelapan itu datang dari bebatuan tambang yang disebut fluorescent yang dicampurkan ke dalam cat. Bebatuan tambang itu bisa menyimpan cahaya yang bisa muncul di kegelapan. Tentu tetap harus ada bantuan sedikit cahaya dari jauh, pun bila cahayanya hanya sedikit –apalagi kalau cahaya itu dari UV.
Orang awam menyebut warna seperti itu warna "neon" meski sebutan itu sebenarnya kurang pas. Bagi yang hobi mancing warna itu juga sudah familiar: ditaruh di dekat umpan. Polisi juga biasa pakai rompi dengan warna fluorescent.
Bahwa lukisan Daniel sempat disangka karya anak-anak itu karena pop art-nya itu. Warna-warninya mencolok. Pop art lahir dari pengakuan atas karya-karya komersial dalam bentuk iklan, anime, komik, dan sebangsanya.
Karya itu lantas menjadi inspirasi bagi seni lukis dan pelukis mengangkatnya menjadi karya seni. Aliran pop art kali pertama muncul di Jepang dan negara Asia timur lainnya.
Kian lama unsur seninya kian dominan sehingga rasa komersialnya lenyap: jadilah neo pop art seperti yang dilakukan Daniel. Datanglah sendiri ke Disway di Jalan Walikota Mustajab 76, Surabaya.
Meski mulai dibuka kemarin, hari ini masih buka –sampai dua minggu mendatang (19 Juni 2026).
Saya pun ingin tahu lebih banyak siapa si nDugHal. Saya ajak Daniel makan malam. Perjalanan ke-ndugal-annya pun ia ceritakan semua. Termasuk dari negara mana saja mantan-mantan istrinya.
"Kok orang-orang bule itu bisa jatuh cinta dengan pelukis dari Indonesia ya?" tanya saya bernada iri.
"Saya kan ganteng....," jawabnya.
Itu tidak benar. Rasanya saya lebih ganteng. Kemarin itu saya tidak melihat kegantengannya sama sekali. Rambutnya awut-awutan meski sudah dikuncir di belakang kepala. Badannya ceking. Kalau berjalan kurang tegak. Lama saya memandang wajahnya yang seperti kurang tidur.
Rupanya ia merasa bahwa saya meragukan kegantengannya. Maka ia keluarkan kaca mata seninya. Ia pakai. Wow! Benar. Dengan kacamata itu ia ganteng sekali. Saya pun tidak merasa iri lagi. Ia memang lebih ganteng dari saya. Dengan kacamata itu saya pun ingat penyanyi shuffle LMFAO.

--
Ternyata Daniel mulai ndugal sejak remaja. Mungkin karena ayahnya meninggal saat ia masih SD. Sang ayah seorang pedagang. Di kota Klaten, Jateng.
Marganya Guo –yang kalau di Fujian disebut Khoe dan di Indonesia jadi Kho. Daniel delapan bersaudara, sebelum bungsu. Kakak sulungnya kuliah di ITB, jurusan farmasi. Ibunda Daniel berarti wanita luar biasa. Harus mengurus delapan anak. Sukses semua.
Si anak sulung, kelak, setamat ITB jadi orang sangat sukses. Anda tahu namanya. Anda juga sering menggunakan jasanya: Andi Wijaya, pendiri Prodia –lab terbesar di Indonesia yang sudah melantai di pasar modal.
Adik bungsunya juga jadi pelukis terkenal: Antonius Kho. "Awalnya saya justru kenal adiknya itu," ujar Wahyudin, kurator pameran ndugHal itu. Tentu Hendro Tan juga kenal Daniel. Hendro sering ke Bali. Ke Ubud. Ke rumah Daniel yang sekaligus sanggar lukisnya. Daniel sekarang memang menetap di Bali.
Setelah suami meninggal, sang ibu pindah ke Bandung. Semua anaknyi dibawa pindah ke Bandung. Daniel menamatkan SMA-nya di SMA Kristen BPPK Bandung. Suasana politik tahun 1970-an belum stabil. Sebagai Tionghoa ia merasa kurang nyaman.
"Tapi kakak Anda kan justru bisa kuliah di ITB?"
"Iya. Saya saja yang merasa tidak nyaman," katanya.

--
Maka di usia remajanya itu, 18 tahun, Daniel berkelana. Ingin ke Australia dengan cara terjangkau. Ia melakukan perjalanan darat ke arah timur: Jateng, Jatim, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Kupang, Makassar, Ambon, Sorong, Jayapura, Papua New Guinea, Darwin, Sydney. Sambil berkelana ia bekerja apa saja. Termasuk cuci piring di restoran. Begitu punya uang secukupnya ia pindah lagi. Yang penting cukup untuk transportasi ke tujuan berikutnya. Tidak ada target waktu.
Tiba di Australia ia justru menemukan kenyataan yang lebih rasis. Tiga bulan di sana ia pergi ke Portugal. Dengan cara yang sama. Lalu ke Spanyol, ke Jerman, dan ke mana saja. Total sudah 151 negara ia kunjungi.
Di Jerman ia jatuh cinta dengan seorang gadis Venezuela.
"Berarti dia cantik sekali. Bukankah dari 10 gadis Venezuela yang cantik 15?"
"Iya. Cantik sekali," jawabnya.

--
Daniel pun diajak pulang ke Maracaibo, kota pantai yang indah di teluk bagian barat Venezuela. Ternyata gadis itu anak seorang pemilik hasienda –perkebunan dan peternakan besar. Tapi kakak-kakak lelaki gadis itu tidak suka kepada Daniel yang pengangguran –bagi pebisnis besar melukis sering dianggap pekerjaan orang yang menganggur.
Setelah enam bulan di Maracaibo, Daniel pergi ke perbatasan. Ia menyeberang ke Colombia. Di situ ia bekerja pada seorang wanita muda pekerja sosial. Akhirnya jatuh cinta, entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta.
Cintanya hanya beberapa bulan. Daniel menyeberang lagi perbatasan: ke Peru. Dari Peru Daniel kembali ke Eropa. Ketika tiba di Polandia ia jatuh cinta kepada wanita setempat. Sampai punya dua anak. Pisah. Daniel pun ke Jerman. Jatuh cinta lagi dengan wanita Jerman. Punya dua anak. Pisah. Ketemu lagi wanita dari Hawaii. Tentu tidak lama juga.
Beberapa tahun kemudian Daniel ketemu mantan istri Hawaii-nya itu di Jerman. Sangat kebetulan. "Kamu punya anak lho di Hawaii," ujar sang mantan. "Laki-laki".
"Wah, harus tes DNA," jawab Daniel.
Tet pun dilakukan. Benar. Itu anaknya Daniel. "Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan semua anak saya," katanya.

--
Lalu, di Jerman pula Daniel ketemu adik Seno Nugroho. Kawin. Punya dua anak. "Perkawinan saya yang paling lama ya dengan adik dalang Seno itu," kata Daniel.
Kini di usianya yang 70 tahun masih produktif. Sudah lebih 40 tahun konsisten dengan gaya neo pop art. Dalam hal lukisan, Daniel dan Antonius, adik bungsunya, bersaing siapa lebih hebat. Beda aliran tapi sama-sama banyak dikoleksi kolektor di Eropa.
Daniel tetap bangga sebagai orang Indonesia. Setiap kali diwawancarai, di luar negeri, ia hanya mau menjawab dengan bahasa Indonesia.
Pertanyaannya boleh pakai bahasa Jerman, Spanyol, Portugis, Inggris, atau Belanda tapi jawabnya dalam bahasa Indonesia. "Biasanya saya minta wartawannya membawa penerjemah," katanya. Kalau tidak punya penerjemah lebih baik tidak jadi wawancara.
Hanya bahasa Prancis yang Daniel tidak mau belajar. Ia tidak suka dengan bahasa yang mengandung kesombongan. Karena itu ia tidak pernah jatuh cinta dengan wanita Prancis. Mungkin ia baru mau belajar bahasa Prancis kalau dimarahi Presiden Prabowo. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 6 Juni 2026: Lewat Pasrah
Liam Then
Ini teori asal-asalan, penjelasan atas kebingungan Pak Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia bagis kok, tumbuh 5+% , tapi kok rupiah masih tersuruk?
Kita mulai dari potongan informasi ini.
Harga emas pada perdagangan spot dunia Juni 2024
sekitar US$2.300–2.380/troy ounce.
Saat ini Awal Juni 2026
sekitar US$4.400–4.500/troy ounce.
Itu fakta keras, penurunan nilai intrinsik seluruh mata uang FIAT yang dikeluarkan oleh 190+ negara di dunia.
Kemudian fakta berikut : model moneter ekonomi dunia yang tergantung pada USD sebagai mata uang reserve alias cadangan devisa, dan USD sebagai mata uang utama dalam struktur aliran modal dunia.
Akibatnya, penurunan nilai intrinsik mata uang fiat vs emas ini, lebih banyak ditanggung oleh mata uang dunia non dollar.
Karena cadangan atau fundamental kekuatan ekonomi banyak negara itu berbeda-beda, yang kena duluan dari efek penurunan intriksik ini, pasti negara-negara yang fundamental ekonominya lebih lemah.
Rupiah sayangnya, sudah sejak 20 tahun terakhir mengalami trend penurunan.
Memang data ekonomi 2025 RI baik, ada pertumbuhan, bahkan jika konsumsi pemerintah (MBG dan KDMP), itu masih ada pada angka hijau.
Karena penurunan nilai intrinsik ini, struktur nilai mata uang negara-negara di dunia, sedang mengalami penyesuaian.
Yang dipersepsi lemah fundamental ekonominya dan lemah prospek ke depannya , tentu akan jadi yang paling cepat kena efek restrukturisasi aliran modal.
.....
Liam Then
Kebijakan terbaru pemerintah MBG,KDMP, PP DSI, cara mereka diterapkan, kebetulan juga dianggap pasar sebagai elemen disruptif, sehingga menambah velocity proses restrukturisasi aliran nilai modal dunia akibat kenaikan harga emas 100% dua tahun terakhir.
Akibatnya. Ya makin kena.
Jadi tanpa MBG, KDMP, Atau DSI.
Mari kita akui dulu, nilai rupiah 20 tahun belakangan memang berada pada down slope, turun terus.
MBG, KDMP, DSI guma katalisator ekstra.
Lantas bursa bagaimana? Ini juga esktra katalisator. Pengurus bursa BEI, bukankah sudah lama diperingati oleh MSCI ? Urus yang bener. Tapi malah dianggap enteng.
Akhirnya ya makin cepat, penyesuaiannya.
Makanya kita lihat, ada wacana dari pemerintah, banyak negara lain juga mengalami penekanan penurunan nilai mata uang.
Cuma yang tak dijelaskan pemerintah, tekanan penurunan mata uang di negara lain, efeknya tidak begitu heboh seperti yang terjadi di Indonesia.
MULYADI PEGE
"di Indonesia bulunya murid ngga dipandang, pokoknya gratis tis".
Abah nulis begitu. Tapi info yg saya dapat dari guru-guru yg mengajar di sekolah-sekolah yg berlabel terpadu, tidak begitu kenyataannya.
Mereka mengatakan sekolah mereka tidak ada MBG, karena ketika diawal pelaksanaan MBG para orang tua murid mengisi angket persetujuan MBG. Dan yang tidak setuju 60%. Maka sekolah tersebut tidak menerima MBG. MEMANG ada beberapa sekolah yg setujunya menang. Dan otomatis ia dapat MBG.
Nah, jika memang kenyataannya tidak pandang bulu, berarti anggaran tetap turun. Donk.
Atau mungkin ini di kota bekasi doank, di kota-kota lain semua siswa dapat.
Bayung Lembayung
saya pingin ketawa, prabowo ngomong ayam potong 14/10....tapi takut dosa, coba liat tuh yang emak2 posting di medsos, menu mbg kaya apa....
saya tanya sama cucu, enak dong tiap hari makan mbg, bisa makan ayam upin ipin tiap hari...
dia bilang, paha ayam upin nya di potong bagi 2, tempe/tahu oseng, rebus sayuran dan 3 buah lengkeng/1 pisang kecil....
kecuali ada bapak2 yang pakaian bagus ke sekolah/maksudnya pengawas.... makanan baru enak dan ayamnya gede...
Sayang Bapak pengawas sayang tidak datang tiap hari, paling 2 bulan sekali...
maaf ini hanya cerita anak kelas 1 SD, bukan anak internasional....
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PASRAH DAN LEGAWA..
Pak Dahlan menarik ketika menempatkan "pasrah" sebagai jembatan menuju "menerima". Dalam psikologi memang begitu. Orang yang kehilangan sesuatu biasanya melewati fase marah, menolak, pasrah, lalu menerima.
Tetapi dunia usaha sedikit berbeda. Pengusaha boleh pasrah pada cuaca. Pasrah pada harga komoditas dunia. Pasrah pada nasib kapal yang terjebak badai.
Yang sulit adalah meminta pengusaha pasrah pada ketidakpastian.
Karena pengusaha hidup dari perhitungan. Bukan dari perasaan. Ia rela untung lebih kecil. Bahkan rela rugi sesekali. Asal rumus permainannya jelas.
Legawa adalah sikap mulia. Namun dalam bisnis, legawa baru lahir setelah ada kepastian. Bukan sebelumnya.
Itulah sebabnya pasar sering tampak keras kepala. Rupiah belum menguat. Saham belum bangkit. Bukan karena tidak mau legawa. Melainkan karena masih menghitung.
Humornya, pasrah dan legawa sangat cocok untuk urusan jodoh. Ditolak sekali, pasrah. Ditolak dua kali, legawa.
Tapi untuk investasi miliaran rupiah, pengusaha biasanya tidak cukup hanya pasrah dan legawa. Mereka masih membawa kalkulator.
Dan sering kali, kalkulator lebih jujur daripada pidato.
Liáng - βιολί ζήτα
CHDI :
Inilah masa penantian yang bisa pendek bisa panjang: menanti perubahan psikologi para pengusahanya.
Dari sikap menolak ke sikap menerima. Di tengahnya ada fase pasrah dulu –legawa. Dari menolak dan jengkel ke fase pasrah.
Kalau berdasarkan psikologi.....
Tahapan perubahan emosi dari sikap "menolak" menjadi "menerima"..... dikenal dengan istilah "The five stages of grief".
The five stages of grief, diperkenalkan oleh psikiater dari Swiss : Elisabeth Kübler-Ross..... yang dikenal sebagai DABDA.
DABDA : Denial ---> Anger ---> Bargaining ---> Depression ---> Acceptance.
Anda dapat menemukannya dalam Buku yang ditulis oleh Elisabeth Kübler-Ross : "On Death and Dying" (1969).
Bahtiar HS
Pak @Agus SIII,
Kadang ada orang yg dikasih tahu dan dikasih saran dengan cara lembut hingga kasar itu tetap nggak bisa. Maka kisah masa lalu, history, terkadang bisa memberikan nasihat tanpa harus menasihati. Alquran pun banyak memuat kisah umat terdahulu, tentu bukan sekadar kisah. Tp ada pelajaran bagi yg mau memungutnya dengan membacanya, tanpa perlu nasihat nan panjang lebar.
Adapun mengenai kasus MBG 1 itu ya tetap harus diproses utk bs memutus perkara dg seadil2nya. Adapun kisah di bawah hanyalah utk diambil ibrahnya bagi yg merasa atau mengetahui. Tanpa merasa digurui.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Bahtiar..
ABDI DALEM
DAN TUMENGGUNG..
Komentar Pak Bahtiar menarik. Dalam sejarah, memang sering sulit membedakan antara orang yang bersalah dan orang yang dibutuhkan untuk menanggung kesalahan.
Saya jadi teringat kisah lama di keraton. Saat pasamuan agung berlangsung, tiba-tiba terdengar suara kentut yang sangat berwibawa. Semua diam. Semua tahu sumbernya. Tapi tidak ada yang berani tahu.
Sang Raja lalu menunjuk seorang abdi dalem.
"Kamu yang kentut?"
"Inggih, Sinuwun."
Abdi itu dihukum jalan jongkok. Setelah acara selesai, diam-diam diberi hadiah besar. Ia telah menyelamatkan martabat singgasana.
Begitulah politik sejak dulu. Kadang yang dicari bukan penyebab suara. Yang lebih penting adalah siapa yang bersedia mengaku sebagai sumber suara.
Tentu kasus BGN berbeda. Kalau memang ada korupsi, harus dibuka terang-benderang. Yang salah harus dihukum. Yang tidak salah harus dibersihkan namanya.
Karena negara modern tidak boleh memakai logika pasamuan keraton. Harus memakai logika pembuktian.
Kalau tidak, rakyat akan terus bertanya: yang dihukum itu benar pelakunya, atau hanya abdi dalem yang kebetulan berdiri paling dekat dengan sumber bunyi?
Dan pertanyaan seperti itu biasanya lebih berisik daripada kentutnya sendiri.
yea aina
Mungkin ketidakpastian ekonominya, tidak hanya 2 saja. DSI dan MBG, sudah dibuat pasti, tapi respon "pasar" tetap negatif.
Akankah lebih banyak lagi ketidakpastian berikutnya?
Dikabarkan swasembada beras, tapi harga beras semakin meroket. Naik terus.
Pelemahan rupiah, katanya bisa mendongkrak harga berbagai komoditas ekspor. Yang sekarang terjadi: Sebaliknya. Alasan para eksportir, ongkos pengapalan dan kontainer naik gila-gilaan. Yang harus menanggung: harga beli di level produsen. Ditekan semurah-murahnya.
Masalah terlalu banyak, tapi pengambil putusan di level pemerintahan, nampak lambat dan kurang cerdas. Seperti santai-santai saja.
Di podium masih sering dipidatokan: "Tenang sodara-sodara”
Prieyanto
"Dari sikap menolak ke sikap menerima. Di tengahnya ada fase pasrah dulu –legawa."
Mengingatkan pendapat para filsuf:
"Pasrah adalah berhenti bertengkar dengan kenyataan."
Bukan berhenti bekerja. Bukan berhenti berjuang. Bukan menyerahkan nasib begitu saja.
Melainkan berhenti memaksakan agar realitas menjadi seperti yang kita inginkan.
"Terimalah apa yang tidak bisa kamu ubah, agar energimu bisa dipakai untuk mengubah apa yang masih bisa diubah."
Karena selama seseorang masih berada pada fase "menolak", pikirannya terus berputar pada:
Mengapa ini terjadi?
Dulu tidak begini.
Seharusnya pemerintah begini.
Seharusnya pasar begitu.
Kenapa dulu nggak milih si dia
Akibatnya energi habis untuk mengeluh.
Ketika sudah "pasrah", barulah muncul pertanyaan yang lebih produktif:
Baiklah, harga batu bara dan sawit memang turun. $ makin perkasa.
Regulasi memang berubah.
Keuntungan memang tidak sebesar dulu.
Ternyata cerewetnya menyelamatkanku
Sekarang apa yang bisa saya lakukan?
"Pasrah bukan lawan dari ikhtiar. Pasrah adalah syarat agar ikhtiar menjadi jernih. Orang yang masih marah pada kenyataan belum bisa berpikir optimal. Setelah legawa, barulah akal bekerja dengan baik untuk mencari jalan keluar."
#prie
Jo Neka
Pada Tragedi 1998.Saya masih di Jakarta.Masih berjaya.Dan masih lekat di ingatan otak saya.Hampir semua pelaku ekonomi berpikir bahwa Indonesia sudah selesai.Tetapi apa yang terjadi.Ibu pertiwi bangun,bangkit dari keterpurukan.Menghasilkan susu yang lebih banyak.Faktanya demikian.Orang kaya meningkat.Taraf hidup dan kebebasan berpikir semakin baik.Sayang banyak pejabat yang melacur.Menjual ibu pertiwi.Menyusui dengan rakus hampir semua sumber daya alam.Saking banyaknya pejabat buruk.Pejabat yang baik ikut terbawa arus.Yang berkoar² di luar sana.Yang mencitrakan diri baik.Idem dito.Setelah masuk di arena.Malah menjadi salah satu yang paling buruk kinerjanya.Dari jaman Anas sampai Nadiem.Ini faktanya.Bukan sekadar omon².Makanya banyak yang tidak mampu mengubah keadaan.Menepi dan pasrah.Hanya bapak anda sudah tahu.Tetap menulis.Walau terkadang bias politis sangat terasa.Tapi percayalah.Indonesia akan terus barjalan.Walau dengan pemenang dan pecundang yang terus berganti.
mario handoko
selamat pagi bp thamrin, bp agus, bp udin, bp em ha, bp nico, sobat irary, bp mul, bp jo dan teman2 rusuhwan.
setuju dengan abah. sawit bukanlah sda seperti batu bara, migas atau nikel.
sda tercipta tanpa bantuan modal dari manusia.
sebaliknya. untuk jadi cpo. kelapa sawit harus dimodali, dibudidayakan dan diolah manusia.
cpo itu produksi budibaya pertanian. sama seperti beras, jagung, durian dll.
lantas mengapa sawit diperlakukan sama dengan sda? untuk nambah2 cuan pt dsi?
siti asiyah
Kemungkinan ada 2 hal kenapa punya pistol tidak digunakan untuk menembak :
Ke-1 : Pistolnya bermasalah atau tak layak pakai
Ke-2 : Pemilik pistolnya yang bermasalah sehingga lupa cara menggunakannya
Bahtiar HS
Kasus dicopotnya Pak Dadan dan kemudian jadi pesakitan mengingatkan saya pd kisah Tumenggung Endranata.
Adalah Sultan Agung penguasa Mataram ingin mengenyahkan VOC dari Batavia. Maka ditunjuklah Tumenggung Endranata, seorang perwira yg cerdas dan ahli strategi intelijen, jadi salah satu pilar utama dlm operasi militer besar ini. Ia ditugasi mengoordinasi logistik (kalau sekarang MBG kali), mengawasi pergerakan pasukan, dan membangun lumbung-lumbung padi rahasia di sepanjang jalur pantura Jawa spt di Cirebon dan Tegal. Lumbung ini kunci hidup-mati krn ribuan prajurit Mataram hrs jalan kaki ratusan km menuju Batavia.
Thn 1628 serangan dimulai. Tp VOC bergerak cepat dan membakar habis seluruh pasokan makanan Mataram di lumbung2 rahasia. Akibatnya, serangan Mataram lumpuh total. Krn lapar, bukan berperang.
Ktk sisa pasukan pulang ke Mataram, penyelidikan mengarah pd Endranata. Dia didakwa membocorkan info lumbung2 Mataram ke VOC demi sebongkah emas. Ia pun dipancung. Tubuhnya dipotong 3 bagian. Dimakamkan di Imogiri: kepala di anak tangga Supit Urang shg diinjak2 peziarah, badan di bwh pintu gapura utama shg dilangkahi dan diinjak2 org. Smtr kaki di dasar kolam sbg perlambang kedudukan terendah.
Tp para sejarawan modern ada yg punya kesimpulan lain: Endranata dikorbankan utk menyelamatkan muka Sultan. Mrk melihat adanya kemungkinan motif politik internal. Kegagalan menyerang Batavia pd 1628 dan 1629 mrpkn pukulan telak bagi legitimasi spiritual dan politik sang Sultan.
Lekas Jaya
Analisis Abah memotret dengan sempurna culture clash antara mesin birokrasi dan ekosistem bisnis. Fase 'pasrah' yang dialami pengusaha komoditas sejatinya adalah proses kalibrasi psikologis terhadap downward stickiness—kondisi di mana fixed cost dan gaji yang telanjur tinggi sangat sulit diturunkan, meski margin laba kini dipangkas oleh sentralisasi ekspor via Danantara.
Dari kacamata manajemen, rukun iman 'efisien atau mati' dan 'cepat atau lewat' mutlak bagi swasta. Risiko terbesarnya ada pada asimetri kecepatan. Pengusaha dituntut lari maraton memulihkan arus kas, namun 'pemegang pistol' regulasinya berjalan santai karena negara tidak punya kompetitor.
Jika Danantara dan pelaksana MBG gagal mengadopsi corporate agility (ketangkasan korporasi) dan malah menebal jadi tembok birokrasi baru, fase 'pasrah' ini tidak akan berujung pada 'penerimaan' (acceptance). Ujungnya justru capital flight atau mogoknya ekspansi swasta. Pemerintah tidak bisa mati, tapi pasar bisa lumpuh.
sinung nugroho
Melaksanakan kebijakan yang berlaku nasional memang tidak mudah, seringkali digunakan cara penyeragaman sehingga mudah pelaksanaannya dan mudah pengawasannya, misal harga BBM subsidi, untuk bisa lebih rinci diperlukan usaha yang lebih, bansos pemerintahan terdahulu banyak terjadi distorsi atau salah sasaran, begitu juga MBG. Saran nitizen adalah ide-ide ideal tetap pelaksanaannya tidak gampang. Siapa yg harus mendata siapa yg dapat dan siapa yg tidak. Bagaimana pelaksanaan distribusinya. Semua memerlukan effort yg besar dan tidak bisa dalam waktu yg sesegera mungkin
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 27
Silahkan login untuk berkomentar