"Semoga gaji juga bisa disesuaikan dengan biaya hidup yang makin mahal, misalnya lewat kenaikan UMP," harapnya.
Rumah Tangga Merasakan Dampak Kenaikan LPG Non Subsidi
Kenaikan harga gas LPG mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat, termasuk rumah tangga kecil.
Salah satunya oleh keluarga Mirna Lestari. Ia mengaku meski hanya dihuni dua orang, beban pengeluaran dapur tetap meningkat seiring naiknya harga energi tersebut.
Ia bercerita kenaikan harga LPG membuat pengeluaran bulanannya bertambah sekitar Rp50 ribu hingga Rp80 ribu.
“Tetap kerasa sih walaupun di rumah cuma berdua. Meski nggak sering masak, tapi kalau gas naik, pengeluaran juga ikut nambah mungkin sekitar Rp50 ribu sampai Rp80 ribu sebulan,” cerita dia.
Untuk menyiasati kondisi ini, ia terpaksa mengurangi sejumlah pengeluaran non-prioritas. Pengeluaran untuk jajan atau makan di luar menjadi yang pertama dipangkas.
Selain itu, belanja impulsif seperti cemilan juga mulai ditekan.
Di sisi lain, perubahan juga terjadi pada pola memasak di rumah. Ia kini lebih memilih menu yang cepat matang untuk menghemat penggunaan gas.
“Sekarang lebih sering masak yang cepat. Kadang juga masak agak banyak sekalian supaya bisa dimakan beberapa kali, jadi nggak sering nyalain kompor,” ungkapnya.
Kenaikan harga LPG juga membuatnya mempertimbangkan untuk beralih ke LPG ukuran 3 kilogram.
"Kepikiran sih. Untuk prioritas, biasanya tetap utamain kebutuhan pokok dulu kayak beras, lauk, sama kebutuhan harian," paparnya.
Namun demikian, ia tetap memprioritaskan kebutuhan pokok seperti beras, lauk-pauk, dan kebutuhan harian lainnya. Sementara itu, penggunaan listrik dan gas diupayakan lebih hemat agar tidak membebani anggaran rumah tangga.
"Listrik sama gas ya dihemat pemakaiannya biar nggak terlalu berat," imbuhnya.
Marni pun tak menampik jika kenaikan LPG itu juga mengurangi porsi tabungan. Dana yang sebelumnya bisa disisihkan kini tergerus untuk menutup kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari.
Ia pun mengaku khawatir jika tren kenaikan harga energi terus berlanjut hingga akhir tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat semakin menyulitkan masyarakat dalam menjaga kestabilan keuangan keluarga, terutama untuk perencanaan jangka panjang.