Siasat Masyarakat Terdampak Kenaikan BBM dan LGP Non Subsidi Untuk Bertahan Hidup
Melalui kondisi ini, masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga, khususnya untuk kebutuhan pokok dan energi. -dok Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Dalam menghadapi polemik kenaikan harga gas LPG dan BBM non-subsidi ini, para Ekonom memperkirakan bahwa golongan kelas menengah sendiri akan menjadi golongan yang paling terdampak dari keputusan penyesuaian harga tersebut.
Terutama untuk masyarakat yang sehari-harinya bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Bukan tanpa alasan. Pasalnya saat ongkos distribusi naik, UMKM cenderung berada dalam posisi yang terjepit.
Sehingga ketika harga jual dinaikkan, maka pembeli bisa berkurang, sementara jika harga ditahan maka keuntungan justru menyusut.
"Dalam situasi seperti ini, banyak pelaku usaha akan memilih bertahan, menunda ekspansi, bahkan mengurangi aktivitas usahanya. Ini membuat ekonomi kehilangan tenaga dari bawah," jelas Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat.
Lebih lanjut, Achmad juga menekankan bahwa perekonomian sendiri juga bekerja sebagai satu jaringan. Jika biaya kendaraan distribusi naik, maka biaya pengiriman barang ikut naik.
"Bila ongkos pengiriman naik, harga bahan pokok, kebutuhan harian, dan jasa juga akan terdorong. Jadi, walaupun tidak semua orang membeli BBM non subsidi itu secara langsung, mereka tetap akan terkena dampaknya melalui harga barang dan jasa yang mereka konsumsi," tutur Achmad.
Masyarakat Mulai Cari Pemasukan Tambahan
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai menekan pengeluaran masyarakat urban, terutama kalangan pekerja kantoran yang setiap hari bergantung pada kendaraan pribadi untuk mobilitas.
Lonjakan biaya transportasi dinilai memaksa sebagian pekerja untuk lebih cermat mengatur keuangan bulanan, bahkan mulai mempertimbangkan mencari pemasukan tambahan demi menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.
Salah seorang pegawai kantoran di Jakarta, Dirawati, mengaku dampak kenaikan BBM nonsubsidi langsung terasa pada pengeluaran harian.
Menurutnya, biaya transportasi meningkat sekitar 5 hingga 10 persen, sejalan dengan informasi yang ramai dibahas di berbagai portal berita maupun media sosial.
"Kalau saya lihat dan baca dari berita maupun media sosial, kenaikannya sekitar 5 sampai 10 persen. Dan memang terasa di pengeluaran harian," jelas Dirawati saat ditemui disway.id di Jakarta pada Rabu, 22 April 2026.
Meski biaya mobilitas meningkat, Dirawati mengaku belum memiliki rencana untuk beralih ke transportasi umum ataupun kendaraan listrik. Alasannya sederhana, yakni efisiensi waktu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: