Siasat Masyarakat Terdampak Kenaikan BBM dan LGP Non Subsidi Untuk Bertahan Hidup

Siasat Masyarakat Terdampak Kenaikan BBM dan LGP Non Subsidi Untuk Bertahan Hidup

Melalui kondisi ini, masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga, khususnya untuk kebutuhan pokok dan energi. -dok Disway-

Menurutnya, sistem transportasi publik di Jakarta masih belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan pekerja dengan mobilitas tinggi, terutama karena persoalan kemacetan yang masih menjadi momok utama ibu kota.

"Untuk saya pribadi, belum kepikiran beralih ke transportasi umum atau kendaraan listrik. Kalau kendaraan umum, efisiensi waktunya masih belum sesuai, apalagi kemacetan di Jakarta masih terjadi," katanya.

Selain itu, di tengah kenaikan biaya hidup, Dirawati mengaku mulai lebih selektif dalam mengatur pengeluaran bulanan.

Meski bukan penikmat gaya hidup konsumtif seperti nongkrong di kedai kopi, ia mengakui ada sejumlah pos pengeluaran yang kini harus lebih diperhatikan agar tidak terjadi pemborosan.

"Memang ada beberapa hal yang sekarang harus lebih diperhatikan penggunaannya supaya tidak boros," ucapnya.

Namun menariknya, kenaikan BBM belum mengubah kebiasaan berkendaranya.

Dirawati mengaku tetap menggunakan kendaraan seperti biasa, tanpa mengurangi penggunaan AC atau mengubah gaya berkendara menjadi lebih hemat bahan bakar.

Ia juga menyebut frekuensi memantau indikator bensin tetap sama, yakni setiap kali hendak menggunakan kendaraan.

"Setiap kali pakai kendaraan, pasti lihat indikator bensin. Itu sudah kebiasaan," katanya.

Yang menjadi sorotan, kenaikan biaya transportasi ini tidak diimbangi penyesuaian tunjangan dari perusahaan tempat Dirawati bekerja.

Kondisi itu membuat tekanan ekonomi semakin terasa, terutama saat harga kebutuhan pokok ikut merangkak naik.

"Dari perusahaan saya tidak ada kompensasi atau penyesuaian tunjangan transportasi terkait kenaikan ini," ungkapnya.

Situasi tersebut, lanjut Dirawati, mulai memengaruhi cara pandangnya terhadap keseimbangan hidup dan pekerjaan (work-life balance).

Jika sebelumnya penghasilan utama dirasa cukup, kini ia menilai mencari pekerjaan sampingan menjadi opsi realistis agar kebutuhan tetap terpenuhi dan masih ada ruang untuk menabung.

"Menurut saya, sepertinya memang harus cari sampingan supaya semua kebutuhan terpenuhi dan masih bisa save uang," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: