Pasangan ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Moh. Reza Pahlevi Isfahani juga gagal meraih satu kemenangan setelah dibekuk Eloi Adam/Leo Rossi dengan skor 19-21, 19-21.
Di partai terakhir, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri berhasil membuka kemenangan atas Christo Popov/Toma Junior Popov dengan skor 21-18, 19-21, 21-11.
Hasil tersebut membuat Indonesia gagal lolos ke perempat final Thomas Cup 2026 setelah kalah bersaing dengan Thailand dan Prancis.
Indonesia finis di posisi ketiga klasemen dengan mengoleksi dua poin.
Sementara, Thailand lolos sebagai juara Grup D, diikuti Prancis sebagai runner up.
PBSI dituntut tanggung Jawab
Empati dan apresiasi tetap harus kita berikan kepada para atlet yang telah berjuang keras dan berkeringat memikul ekspektasi jutaan rakyat Indonesia. Kekecewaan mereka di lapangan sudah cukup berat.
Namun, di level struktural, kita butuh transparansi institusional. Pemimpin sejati tidak hanya hadir di tengah euforia seremoni pengalungan medali, tetapi justru diuji saat organisasinya berada di titik terendah. Publik bulu tangkis Indonesia kini menanti lebih dari sekadar siaran pers atau permintaan maaf formalitas.
BACA JUGA:PBSI Umumkan 3 Wajah Baru di Pelatnas 2026, Ini Daftar Lengkap 74 Atlet Cipayung
Ini adalah momentum untuk menuntut pertanggungjawaban nyata dari ketua umum PBSI, mulai dari evaluasi performa secara menyeluruh (baik atlet, pelatih, maupun pengurus), perombakan sistem birokrasi pembinaan yang mungkin sudah usang, hingga penyajian cetak biru yang rasional untuk bangkit.
Sejarah buruk ini telah tercatat, tetapi masa depan bulu tangkis Indonesia masih bisa diselamatkan, asalkan federasi memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab penuh dan mengeksekusi perubahan progresif.
Kilas Balik Terpilihnya Fadil Imran
Musyawarah Nasional (Munas) PBSI XXIV yang digelar di Surabaya menjadi panggung suksesi kepemimpinan yang krusial. Proses transisi ini bergulir dengan mulus dan sarat akan konsensus.
Komjen Pol. Dr. H. Mohammad Fadil Imran, yang sebelumnya telah berada di lingkaran dalam sebagai Sekretaris Jenderal, melangkah maju untuk mengambil alih kemudi tertinggi. Kepercayaan terhadapnya mengalir deras dan solid; sebanyak 34 dari 38 Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI se-Indonesia secara aklamasi memberikan mandat penuh kepadanya sebagai calon tunggal.
Ketukan palu di Surabaya hari itu tidak sekadar meresmikan posisinya sebagai Ketua Umum PBSI periode 2024–2028, melainkan sebuah penyerahan tongkat estafet yang diiringi beban ekspektasi raksasa dari seluruh penjuru negeri untuk membangkitkan kembali kejayaan bulu tangkis Indonesia.
Sosok Mohammad Fadil Imran mungkin lebih familier dengan citranya sebagai perwira tinggi Polri. Jenderal bintang tiga yang menduduki posisi strategis sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri ini dikenal luas memiliki aura kepemimpinan yang tegas, terukur, dan mengedepankan kedisiplinan tingkat tinggi.
Profilnya memancarkan keteguhan seorang komandan yang terbiasa memecahkan masalah sistemik di lapangan. Namun, di balik atribut kepolisiannya, Fadil bukanlah “orang asing” yang tiba-tiba “turun gelanggang” ke dunia tepok bulu. Masa baktinya sebagai Sekjen di era kepengurusan sebelumnya telah memberikannya peta jalan yang sangat jernih mengenai anatomi federasi.
Tentu, ia telah melihat langsung dari jarak dekat apa yang menjadi celah dalam birokrasi, kelemahan pada rantai pembinaan, hingga dinamika psikologis para atlet dan pelatih di balik dinding Pelatnas Cipayung.