Yang Saya Dengar dari Timor Leste

Kamis 30-04-2026,08:44 WIB
Oleh: Mashudi

BACA JUGA:Ketika Dampak Menjadi Mantra Baru

Saat itu, masalah gizi dan akses pendidikan masih berat. Lalu 2009–2010, pemerintah mulai mengambil alih.

Menjadikannya program nasional. Dan berjalan sampai sekarang.

Bukan sekadar makan. Tapi cara melawan stunting. Banyak keluarga tidak mampu memberi makan cukup.

Dan program ini membuat anak-anak datang ke sekolah.

Timor Leste negara kecil. Penduduknya sekitar 1,4 juta jiwa. Kalau di Jawa, setara satu kabupaten.

APBN-nya sekitar Rp36 triliun.

BACA JUGA:Peluang Kopi Indonesia di Tengah Dinamika Global

“Kami tangguh. Walau uang kami tidak banyak,” kata Savio.

Saya menangkap satu hal: Mereka ingin serius merawat masa depan. Minyak dan gas tidak dihabiskan.

Ditabung dalam Petroleum Fund. Penggunaannya dijaga.

Ada batas keberlanjutan. Tidak boleh sembrono. Mereka belajar dari Norway.

Negara kaya minyak. Hasilnya tidak dihabiskan hari ini. Mereka simpan.

Mereka kelola. Lewat dana abadi. Hanya sebagian kecil yang dipakai. Sisanya dijaga.

Karena mereka paham satu hal:minyak bisa habis. Negara tidak boleh ikut habis. Timor Leste melihat itu.

BACA JUGA:Masa Depan Cerah Industri Sawit Indonesia

Kategori :