BACA JUGA:Masa Depan Cerah Industri Sawit Indonesia
Pendidikan yang sejati tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk nurani. Ia tidak hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga warga negara yang kritis dan beretika.
Dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Namun “menuntun” membutuhkan kesabaran, keadilan, dan keberpihakan, bukan sekadar kebijakan yang indah di atas kertas.
Maka, Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan slogan.
Ia harus menjadi momen refleksi yang jujur, bahkan jika kejujuran itu terasa pahit. Sebab tanpa keberanian untuk mengakui kegagalan, tidak akan pernah ada perbaikan yang nyata.
BACA JUGA:Di Tengah Gejolak Global, Indonesia Butuh Persatuan, Bukan Narasi Krisis
Jika tema tahun ini ingin benar-benar bermakna, maka “partisipasi semesta” harus dimulai dari keberanian negara untuk mendengar, dari kesediaan untuk mengoreksi diri, dan dari komitmen untuk menempatkan pendidikan sebagai prioritas nyata, bukan sekadar retorika tahunan.
Jika tidak, maka setiap 2 Mei akan terus menjadi perayaan yang khidmat, tetapi hampa, sebuah upacara untuk mengenang cita-cita besar, sambil diam-diam menguburkannya sedikit demi sedikit.
By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta