Kecelakaan Kereta di Bekasi Siapa Salah?

Selasa 05-05-2026,07:00 WIB
Reporter : Tim Lipsus
Editor : Dimas Chandra Permana

Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mencatat, dari total 9.178 kilometer jaringan rel di Indonesia, sekitar 2.233 kilometer di antaranya masih berstatus non-aktif.

Djoko menjelaskan, jika jalur-jalur tersebut dihidupkan kembali, maka distribusi perjalanan kereta api tidak akan terpusat di lintas tertentu saja. 

Dengan begitu, kepadatan jadwal dapat ditekan dan potensi terjadinya konflik perjalanan antar kereta bisa diminimalisir.

Djoko mengemukakan tujuan reaktivasi jalan rel. Pertama, untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat. 

"Memberikan alternatif moda transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat, khususnya di daerah yang konektivitasnya terbatas," urainya.

"Mengurangi ketergantungan pada transportasi jalan raya, yang sering kali macet dan memiliki dampak lingkungan lebih besar," sambungnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, reaktivasi jalan rel juga dapat mengurangi beban jalan raya. Sebab, menurunkan volume kepadatan kendaraan di jalan raya seiring dengan beralihnya penumpang dan angkutan barang ke moda kereta api. 

"Membantu mengurangi kerusakan jalan raya akibat beban angkutan berat (truk). Kereta api memiliki keunggulan di sisi ekonomi pada jarak menengah (750-1.500 km)," ungkapnya.

Melalui komitmen reaktivasi itu, masih kata Djoki, kereta api bukan sekadar sisa sejarah yang berdebu, melainkan nadi yang kembali berdenyut untuk menggerakkan masa depan bangsa.

"Dengan menghidupkan kembali jalur-jalur yang sempat terputus, tidak hanya menyambungkan rel,akan  tetapi juga merajut kembali potensi ekonomi, sosial, dan pariwisata menuju konektivitas nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan," tukasnya.

Pewarta: Cahyono, Candra Pratama, Fajar Ilman & Rafi Adhi

Kategori :