Hasilnya pun cukup menarik. Beberapa pemain berhasil mencatatkan performa luar biasa dan menunjukkan bahwa kualitas fisik student athlete Indonesia semakin kompetitif.
Hasil Yo-Yo test putri DBL Camp 2026.-Media DBL Indonesia-
Di sektor putra, nama Matthew Ivander Setiawan dari SMA Raffles Christian School Jakarta menjadi sorotan utama. Ia berhasil mencatat jarak tempuh sejauh 2.120 meter atau mencapai Level 19.2 dalam Yo-Yo Test.
Jika dikonversi menggunakan standar internasional, capaian tersebut membuat Matthew memiliki angka VO2 Max sebesar 54,21 ml/kg/menit.
Bagi yang belum familiar, VO2 Max merupakan indikator kemampuan tubuh dalam menyerap dan mengalirkan oksigen ketika melakukan aktivitas intensitas tinggi.
Semakin tinggi angka VO2 Max, semakin baik pula kemampuan jantung dan paru-paru seorang atlet dalam menjaga performa saat pertandingan berlangsung.
Dengan kata lain, pemain yang memiliki VO2 Max tinggi akan lebih tahan menghadapi tempo permainan cepat tanpa mudah kelelahan.
BACA JUGA:DBL Camp 2026 Jadi Tempat Coach Jessy Upgrade Ilmu Kepelatihan Basket
BACA JUGA:DBL Camp 2026 Jadi Tempat Coach Mbing Kembangkan Analisis Statistik Basket
Catatan Matthew bahkan masuk kategori Excellent menurut standar Topend Sports. Tidak hanya dirinya, Vinola Ryantoraya dari SMA Zion Makassar dan Demetrius Deric dari SMA BOPKRI 1 Yogyakarta yang mencapai Level 19.1 juga masuk kategori yang sama.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa level kebugaran mereka sudah mendekati standar atlet basket profesional dunia.
Sementara itu, di sektor putri, Kartika Hatta Mahanani dari SMA BPK Penabur Cirebon tampil dominan setelah membukukan jarak tempuh 1.320 meter atau Level 16.6.
Hasil tersebut juga menempatkannya dalam kategori Excellent untuk standar atlet putri. Itu menjadi bukti bahwa daya tahan fisik Kartika sangat siap menghadapi intensitas tinggi selama DBL Camp 2026 berlangsung.
Penerapan Yo-Yo Test di DBL Camp musim ini menjadi tanda bahwa pembinaan basket pelajar Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih modern dan berbasis data.
Kini, kualitas pemain tidak hanya dinilai dari skill di lapangan, tetapi juga kesiapan fisik yang terukur secara ilmiah. (*)