Dudi menambahkan, sepanjang Mei 2026, DLH mengintensifkan sosialisasi berjenjang hingga tingkat keluarga dengan melibatkan Dasawisma dan Jumantik.
Secara bertahap hingga Agustus nanti, penyediaan tong sampah drop point organik akan disiapkan di lapangan.
“Gerakan memilah sampah organik, anorganik, B3 rumah tangga, dan residu dari sumber merupakan langkah sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan,” jelas Dudi.
Ke depan, lanjut Dudi, pola pengangkutan juga berubah. DLH hanya akan mengangkut sampah yang telah terpilah.
BACA JUGA:Walkot Bandung Farhan Fokuskan Pengolahan Sampah Tiap Jumat-Minggu
Sampah organik akan diolah menjadi bubur organik untuk pakan ternak, sampah anorganik bernilai tinggi disalurkan ke bank sampah.
Sedangkan anorganik bernilai rendah diproses di 29 lokasi TPS 3R dan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant yang telah tersedia.
Ketegasan juga menyasar sektor komersial. Sesuai Pergub Nomor 102 Tahun 2021, kawasan hotel, restoran, dan kafe (Horeka) wajib mengelola sampahnya secara mandiri.
"Kami bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DKI untuk pengawasan. Jika membandel, sanksi administrasi hingga publikasi sebagai usaha tidak ramah lingkungan akan diterapkan," tegas Dudi.
Dari Pasar hingga Sekolah
BACA JUGA:Jadwal Layanan SIM Keliling di Jakarta dan Sekitarnya Buka Hari Ini 17 Mei 2026, Cek Lokasi Terdekat
Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna, menilai kunci keberhasilan regulasi ini terletak pada keteladanan birokrasi.
Pemprov DKI Jakarta disarankan memulai gerakan ini secara masif di institusinya.
"Pemprov DKI harus memberi contoh. Mulailah dari pasar-pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Jaya, sekolah-sekolah, kantor kedinasan, hingga rumah sakit daerah. Pastikan pengelola pasar menyiapkan kantong pemilah dan mengedukasi pedagang," ujar Yayat.
Menurutnya, ekosistem di sekolah-sekolah Jakarta yang sudah memiliki basis kegiatan lingkungan dapat menjadi agen perubahan yang efektif.
Kebiasaan memilah sampah yang dibentuk di sekolah akan membawa efek berantai ke dalam rumah tangga melalui perilaku anak-anak.