Banyak Gen Z bekerja sebagai freelancer, ojek online, content creator, admin online shop, atau kontrak tanpa jenjang karier jelas. Pendapatan sektor ini sering tidak stabil.
Musni menilai ketimpangan ekonomi ikut memperbesar tekanan psikologis generasi muda. Media sosial, kata dia, sering menciptakan ilusi bahwa semua orang bisa sukses dan kaya, padahal banyak Gen Z sebenarnya hidup “gaji lewat doang”.
Ini membuat tekanan psikologis meningkat.
ilustrasi kesehatan mental-pixabay-Pixabay.com
BACA JUGA:Dari Kampus ke Gerakan Ekonomi: Saatnya Gen Z Naik Kelas Lewat Koperasi
Di kalangan Gen Z dan masyarakat pada umumnya khusus Ibu-ibu rumah tangga menunjukkan keresahan serupa. Ekonomi terlihat tumbuh, tetapi banyak Gen Z dan masyarakat merasa kesejahteraan tidak ikut naik karena harga kebutuhan meningkat dan gaji stagnan.
Karena itu, tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut menciptakan pekerjaan produktif, menaikkan upah riil, memperkuat kelas menengah dari kalangan Gen Z, dan membuka mobilitas sosial yang lebih adil.
Kalau tidak, pertumbuhan ekonomi hanya terasa hebat di statistik, tetapi tidak terasa di dompet Gen Z.
Tekanan yang dirasakan Gen Z tidak hanya datang dari persoalan pekerjaan dan ekonomi.
Di saat yang sama, generasi muda juga hidup di tengah ruang digital yang nyaris tak pernah berhenti bergerak.
BACA JUGA:Saat Gen Z Tak Lagi Mau Bertahan di Kantor Toxic, Satset Resign demi Tetap Waras
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menilai generasi Z menghadapi tekanan emosional yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Kedekatan yang banyak dibangun lewat media sosial dinilai membuat hubungan terasa cepat terjalin, tetapi belum tentu menghadirkan kedalaman emosional.
Ia menjelaskan, tekanan sosial di media digital seperti fear of missing out (FOMO), budaya validasi online, hingga paparan relasi toksik di internet membuat anak muda kerap sulit membedakan hubungan yang sehat dan hubungan yang melelahkan secara emosional.
Lahargo menyebut Gen Z saat ini cenderung ekspresif secara emosional, tetapi sering kali belum dibekali kemampuan regulasi emosi yang cukup.