JAKARTA, DISWAY.ID - Notifikasi pekerjaan yang masuk bahkan setelah jam kantor, tagihan bulanan yang terus naik, hingga media sosial yang dipenuhi pencapaian orang lain perlahan menjadi tekanan sehari-hari bagi banyak pekerja muda.
Di tengah tuntutan untuk terus produktif dan selalu terlihat baik-baik saja, banyak Gen Z mulai menyadari bahwa kelelahan yang mereka rasakan bukan lagi sekadar capek biasa.
Sebagian merasa sulit benar-benar beristirahat. Sebagian lain mulai mudah cemas, kehilangan motivasi, hingga merasa emosinya terkuras meski hari baru saja dimulai.
Pertumbuhan ekonomi terasa hebat di statistik, tapi tidak di dompet Gen Z.
BACA JUGA:Harga Rumah di Park Serpong Mulai Rp330 Jutaan, Gen Z Bisa Beli Tipe Bronze Crafted
Musni Umar, Sosiolog, Adjunct Professor Asia E University (AeU) Malaysia mengatakan fenomena “ekonomi melonjak versus gaji Gen Z pas-pasan” memang menjadi paradoks yang dirasakan banyak anak muda Indonesia saat ini.
Di satu sisi, ekonomi Indonesia tumbuh cukup tinggi. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen. Namun di sisi lain, banyak Gen Z merasa penghasilan mereka tidak cukup mengejar kenaikan biaya hidup.
Ada beberapa penyebab utama Gen Z pada khususnya merasa kesulitan dalam menghadapi kenyataan hidup.
Pertama, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menaikkan gaji. Pertumbuhan ekonomi sering terkonsentrasi di sektor industri besar, pertambangan, proyek pemerintah, atau investasi. Keuntungan ekonomi lebih banyak dinikmati pemilik modal dan perusahaan besar, sementara pekerja Gen Z tetap menerima upah minimum.
Kedua, biaya hidup naik lebih cepat dari pendapatan. Apalagi melemahnya rupiah terhadap mata uang asing khususnya dolar AS seperti sekarang.
Dampaknya harga makanan, transportasi, sewa kos, pendidikan, hingga gaya hidup digital meningkat.
Akibatnya, secara nominal gaji mungkin naik sedikit, tetapi daya beli Gen Z pada khususnya justru melemah.
BACA JUGA:Korea Kaja Vol.3 Perkuat Koneksi by.U dan Gen Z lewat Ruang Ekspresi KCulture
Ketiga, banyak Gen Z bekerja di sektor informal dan gig economy. Data BPS menyebutkan pekerja informal masih sangat besar di Indonesia.