Pihaknya turut melakukan edukasi dilakukan langsung di tingkat perusahaan dan pabrik melalui serikat pekerja.
Para pekerja baru diberikan pemahaman mengenai hak normatif, keselamatan kerja, hingga cara menghadapi tekanan dunia kerja.
Dirinya berpesan kepada pekerja Gen Z agar menjaga kesehatan mental tanpa harus kehilangan pekerjaan.
Cara Mengatasi Maslaah Kesehatan Mental-totalshape-Unsplash
BACA JUGA:Kompetisi #GreenGeneration Nestlé Dibuka, Gen Z Ditantang Ubah Sampah Plastik Jadi Ide Brilian
Pekerja muda memahami karakter industri yang dimasuki karena setiap sektor memiliki tekanan dan budaya kerja berbeda.
"Secara teori, 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam sosialisasi dalam satu hari. Itu penting untuk menjaga keseimbangan hidup,” tandasnya.
Intinya, menjaga kesehatan mental bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan untuk bertahan.
Di tengah dunia kerja yang bergerak semakin cepat, banyak Gen Z kini tidak lagi sekadar memikirkan cara untuk sukses, tetapi juga bagaimana tetap waras saat menjalaninya.
Sebab bagi sebagian pekerja muda, persoalannya bukan lagi tentang siapa yang paling kuat bertahan lembur, melainkan siapa yang masih mampu menjaga dirinya di tengah tekanan yang nyaris tak pernah berhenti.
Lalu, ketika pekerjaan, tekanan ekonomi, dan media sosial terus berjalan tanpa jeda, apakah dunia kerja hari ini benar-benar memberi ruang bagi generasi muda untuk hidup, atau sekadar bertahan?
REPORTER: Candra Pratama, Fajar Ilman, Rafi Adhi Pratama