الْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ ٱلْقُرْبَانَ، وَجَعَلَهُ شِعَارًا لِلتَّقْوَىٰ وَٱلْإِحْسَانِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ ٱلظَّاهِرَةِ وَٱلْبَاطِنَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ مَا أَوْلَانَا مِنَ ٱلْخَيْرِ وَٱلْإِيمَانِ. وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، سَيِّدِ أَهْلِ ٱلْإِيمَانِ، وَإِمَامِ أَهْلِ ٱلْإِحْسَانِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا تَعَاقَبَ ٱلْجَدِيدَانِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُؤْمِنُونَ، ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ ٱلتَّقْوَىٰ، وَعَظِّمُوا شَعَائِرَ ٱللَّهِ فِي هَٰذِهِ ٱلْأَيَّامِ ٱلْمُبَارَكَةِ، فَإِنَّ فِيهَا تَكْفِيرَ ٱلسَّيِّئَاتِ، وَرَفْعَ ٱلدَّرَجَاتِ، وَفَوْزَ أَهْلِ ٱلطَّاعَاتِ
Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah
Segala puji pada hakikatnya milik Allah, karenanya sudah sepatutnya kita kembalikan semuanya kepada-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan untuk Nabi Muhammad selaku panutan kita, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Selanjutnya, khatib mengajak kita semua untuk terus meningkatkan kualitas ketakwaan kita, terlebih di momen hari raya Idul Adha seperti saat ini. Dalam agama kita, Idul Adha merupakan salah satu hari penting untuk meningkatkan ibadah personal sekaligus ibadah sosial.
Hari raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan pula hanya momentum penyembelihan hewan kurban semata. Idul Adha adalah momentum untuk merefleksikan diri tentang pengorbanan, keikhlasan, ketundukan kepada Allah, dan yang tidak kalah penting adalah membangkitkan empati sosial terhadap kaum dhuafa dan masyarakat miskin.
Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah
Di tengah dunia yang semakin individualis, Islam menghadirkan ibadah kurban sebagai sarana agar manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Melalui ibadah kurban, Islam mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, kita harus melihat kanan kiri kita, betapa masih banyak orang yang sepanjang tahun jarang menikmati makanan yang layak.
Ada keluarga yang hidup dalam kekurangan, anak-anak yatim yang terbatas kebutuhannya, serta masyarakat kecil yang sering kali hanya menjadi penonton kemewahan kehidupan orang lain. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, gaya hidup mewah semakin mudah dikonsumsi oleh siapa saja, terlepas dari tujuan flexing atau sekadar posting belaka.
Maka syariat kurban hadir untuk menghadirkan kebahagiaan bagi mereka, agar pada hari raya ini semua lapisan masyarakat dapat merasakan nikmat dan kegembiraan bersama. Dengan mengonsumsi daging kurban, diharapkan golongan masyarakat bawah pun turut menikmati dan meramaikan hari raya ini.
Karena itu, Allah berfirman di dalam Quran surah Al-Hajj ayat 28:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Artinya, "Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir."
Ayat ini menunjukkan bahwa kurban bukan hanya ritual personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Daging kurban tidak dimaksudkan untuk berhenti di meja orang kaya, tetapi harus sampai kepada orang-orang yang membutuhkan. Bahkan dalam banyak komunitas Muslim, momentum Idul Adha menjadi hari langka ketika kaum miskin dapat menikmati makanan yang mungkin sulit mereka rasakan pada hari-hari biasa.
Syekh Ibnu 'Asyur di dalam kitab tafsirnya, at-Tahrir wat Tanwir juz 17 halaman 246, mengatakan bahwa ayat ini hendak menunjukkan cara bersyukur orang-orang yang mampu atas rezeki yang dilimpahkan kepada mereka, yaitu dengan beribadah kurban dan memberikan dagingnya kepada golongan yang membutuhkan.
Karena itu, lanjut Ibnu Asyur, Allah melanjutkan perintah-Nya untuk berbagi rezeki kepada kaum fakir miskin guna memenuhi kebutuhan mereka, terutama dalam hal makanan sebagai kebutuhan pokok.