5 Khutbah Idul Adha 2026 Versi NU Singkat dan Padat, Referensi untuk Khotib

Minggu 24-05-2026,15:52 WIB
Reporter : Adinda Salsabila
Editor : Adinda Salsabila

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah

Sejatinya, kurban bukan semata-mata soal darah dan daging. Bahkan Allah tidak membutuhkan itu semua. Allah hanya menghendaki ketakwaan dan kepedulian yang hidup dalam hati manusia. Kita perlu mengingat firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Artinya, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. al-Hajj: 37)

Artinya, berkurban bukan berarti hewannya untuk Allah. Tetapi Allah sedang menguji kita, apakah kita yang diberi rezeki lebih mau berbagi kepada sesama. Apakah kita sudi mengorbankan harta yang kita cari dengan jerih payah untuk membantu golongan dhuafa agar turut bersuka cita menyambut hari raya Idul Adha.

Sebagaimana kita ketahui, syariat kurban diadopsi dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ketulusan dan kepatuhannya yang totalitas membuat Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut dengan sepenuh hati.

Namun ketulusan, kepatuhan, dan pengorbanan seperti itu seyogyanya tidak berhenti pada kisah belaka. Ketika Islam membuat ketentuan kurban dan menyuruh umatnya untuk membagi-bagikan dagingnya, kita harus sadar bahwa Islam sedang mengajarkan kita untuk peduli kepada sesama.

Sebab barangkali tidak sedikit dari kita yang rajin beribadah secara personal tetapi kurang memiliki kepekaan sosial. Kita lebih suka menghabiskan harta untuk kesenangan pribadi, tetapi berat hati ketika diminta untuk membantu fakir miskin dan orang yang kesulitan.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah

Nabi kita sendiri sudah mengingatkan umatnya agar memiliki rasa empati kepada orang yang membutuhkan. Di dalam riwayat Imam al-Bazzar disebutkan:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

Artinya, "Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga di sampingnya kelaparan sedangkan dia mengetahuinya."

Tentu saja, tetangga di sini bukan berarti harus tepat di samping rumah kita. Tetangga pada hadits tersebut bisa bermakna orang-orang yang berada di sekeliling kita, khususnya yang sudah saling mengenal satu sama lain. Maka bila kita membiarkan mereka kelaparan, berarti keimanan kita masih jauh dari kata sempurna.

Imam Sufyan al-Tsauri, salah satu ulama hadits dan fiqih terkemuka, menyebutkan sebagaimana dikutip dalam kitab Hilyatul Auliya' juz 6 halaman 386:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْمَالُ لِأَنَّهُ يَمِيلُ الْقُلُوبَ

Artinya, "Harta dinamakan "māl" karena ia dapat memalingkan hati."

Kategori :