Kalimat yang paling saya ingat darinya:
“Hope for the better, but prepare for the worst.”
BACA JUGA:Menlu Sugiono Bersyukur 9 WNI yang Diculik Israel Pulang dalam Keadaan Sehat
Berharap yang terbaik. Tapi tetap bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Cara berpikir seperti itu sangat terasa ketika ia berbicara tentang manajemen risiko.
Menurut Lukman, risk management bukan sekadar urusan direksi atau divisi tertentu. Tapi budaya yang harus hidup di semua level perusahaan.
“Everybody is risk manager,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Jepang hidup berdampingan dengan risiko gempa bumi. Mereka sadar ancaman selalu ada. Karena itu persiapan menjadi bagian dari budaya hidup.
Prinsip sederhana seperti “sedia payung sebelum hujan”, menurutnya, justru sangat relevan dalam dunia bisnis.
Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata bagaimana risiko bisa berubah menjadi peluang.
Saat banyak sektor terpukul, kebutuhan consumer packaging justru meningkat karena layanan online food delivery tumbuh sangat cepat.
“Pandemi mengajarkan kita melihat risiko sebagai peluang,” ujarnya.
Pandangan Lukman juga menarik ketika berbicara soal Artificial Intelligence (AI). Di tengah euforia teknologi, ia tetap melihat pentingnya sentuhan manusia.
Menurutnya, AI memang membantu mempercepat proses pekerjaan. Tapi hasil akhirnya tetap membutuhkan sentuhan manusia.
“AI perlu dukungan sumber daya manusia untuk mereview hasil pekerjaan,” katanya.
Karena pada akhirnya, keputusan-keputusan penting tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Terutama dalam membaca risiko yang kompleks.