Kurban dan Jalan Memulihkan Kemanusiaan

Selasa 26-05-2026,10:53 WIB
Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie

Dalam konteks itu, Idul Adha mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak bumi, tapi khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan.

Ali Syariati (1978) menyebut ibadah haji sebagai “drama simbolik ketuhanan”, yakni perjalanan manusia meninggalkan ego dirinya untuk kembali kepada Tuhan.

Pandangan ini penting karena haji dan kurban sesungguhnya merupakan satu rangkaian pendidikan spiritual yang mengajarkan kesetaraan dan solidaritas.

Ketika jutaan manusia mengenakan ihram di Tanah Suci, semua identitas sosial menjadi runtuh. Tidak ada simbol kekuasaan, jabatan, ataupun status ekonomi. Semua berdiri sama di hadapan Allah.

Wukuf di Arafah memperlihatkan pelajaran besar tentang kesetaraan manusia. Semua mengenakan pakaian yang sama. Semua berdiri sebagai hamba. Semua datang membawa kelemahan dan harapan yang sama di hadapan Allah.

Di tengah dunia yang dipenuhi polarisasi politik, konflik identitas, dan fanatisme sempit, haji menghadirkan pesan universal bahwa manusia sesungguhnya dipersatukan oleh kemanusiaannya.

BACA JUGA:Rifaldy Fajar dan Prihantini Terduga Pemalsu Riset Dikuliti Netizen: Bukan Dokter

Krisis Empati

Masalah terbesar dunia hari ini bukan hanya krisis ekonomi dan politik. Dunia sedang mengalami krisis hati.

Manusia kehilangan empati. Keluarga kehilangan percakapan. Masyarakat kehilangan keteladanan. Media sosial dipenuhi kemarahan dan penghukuman publik. Agama kadang direduksi menjadi simbol identitas dan alat persaingan moral.

Di era digital, manusia semakin mudah memperlihatkan dirinya kepada publik. Akan tetapi, manusia juga semakin mudah kehilangan ketulusan.

Pengorbanan sering berubah menjadi pertunjukan sosial. Kebaikan direkam untuk mendapatkan pengakuan. Kepedulian kadang berubah menjadi konten.

Padahal inti kurban adalah keikhlasan. Idul Adha mendidik manusia agar mampu memberi tanpa harus selalu dipuji. Idul Adha menghadirkan kembali pendidikan tentang virtue atau kebajikan itu.

Ia mengajarkan kesabaran, solidaritas, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.

BACA JUGA:Timwas Haji DPR Temukan Dugaan Pungli Tawaf Lansia, Korban Diminta Rp7,5 Juta

Dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab pernah menangis ketika mendengar tangisan anak-anak kelaparan di Madinah. Ia memikul sendiri gandum dari baitul mal dan memasakkan makanan bagi mereka. Umar memahami bahwa kekuasaan bukan kehormatan pribadi.

Kekuasaan adalah amanah untuk menghadirkan keadilan sosial. Spirit seperti itulah yang semakin dibutuhkan dunia modern.

Kategori :