Kurban dan Jalan Memulihkan Kemanusiaan

Selasa 26-05-2026,10:53 WIB
Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie

JAKARTA, DISWAY.ID - Perayaan Idul Adha selalu hadir membawa dua wajah sekaligus: spiritual dan kemanusiaan.

Idul Adha sejatinya menjadi pengingat bahwa peradaban manusia hanya dapat bertahan apabila di dalamnya masih ada kesediaan untuk berkorban, berbagi, dan merasakan penderitaan sesama.

Dunia modern berkembang sangat cepat. Teknologi melampaui batas-batas yang dahulu sulit dibayangkan. Kecerdasan buatan mulai mengambil sebagian fungsi manusia.

Informasi bergerak dalam hitungan detik. Media sosial membentuk opini dan arah kehidupan manusia modern. Akan tetapi, di tengah kemajuan itu, manusia justru menghadapi krisis yang semakin dalam: krisis empati.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2025 mencatat bahwa sekira 673 juta manusia masih mengalami kelaparan.

Lebih dari 2,3 miliar manusia hidup dalam kondisi kerentanan pangan moderat hingga berat. Pada saat yang sama, dunia menyaksikan paradoks yang menyakitkan, yakni  sebagian manusia membuang makanan dalam jumlah besar, sementara sebagian lain tidur dalam keadaan lapar.

BACA JUGA:Iduladha 2026, 3,5 Ton Hewan Kurban Dibagikan untuk Warga Desa Cicau Bekasi

Di Gaza, anak-anak kehilangan keluarga, rumah, dan masa depannya. Konflik berkepanjangan menghadirkan penderitaan kemanusiaan yang melukai nurani dunia. Organisasi-organisasi internasional memperingatkan ancaman kelaparan akut yang terus meningkat.

Krisis kemanusiaan global memperlihatkan bahwa dunia modern memiliki kemampuan teknologi yang luar biasa, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun solidaritas kemanusiaan yang memadai.

Di banyak kota besar, manusia hidup dalam keramaian tetapi merasa kesepian. Relasi sosial melemah. Percakapan dalam keluarga semakin berkurang. Manusia semakin mudah terhubung secara digital, tetapi semakin sulit saling memahami secara emosional.

Dalam konteks itulah Idul Adha menemukan relevansinya. Idul Adha hadir membawa kritik moral terhadap peradaban yang dibangun di atas kerakusan, egoisme, dan hasrat memiliki tanpa batas.

Peradaban tidak pernah dibangun oleh manusia-manusia yang hanya ingin menguasai. Peradaban tumbuh melalui pengorbanan.

Semua masyarakat besar lahir dari kesediaan sebagian orang untuk memberi, melayani, dan mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan dirinya sendiri.

BACA JUGA:Tebak Berat Sapi Kurban Ukuran Jumbo dari Prabowo-Gibran di Masjid Istiqlal, Jenisnya Limousin

Melampaui Ritual

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah simbol perjuangan manusia melawan ego dan keterikatan duniawi. Allah tidak membutuhkan darah Ismail.

Kategori :