Rupiah Sentuh Kisaran Rp 17.900, Ekonom: Butuh Lebih dari Sekedar Intervensi

Sabtu 30-05-2026,22:59 WIB
Reporter : Bianca Khairunnisa
Editor : M. Ichsan

JAKARTA, DISWAY.ID-- Menyusul kembali anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) hingga mencapai kisaran angka Rp 17.900 pada Jumat (29/05) lalu, sejumlah langkah pun juga turut dikerahkan oleh Bank Indonesia (BI) dalam upaya mengantisipasi dampak pelemahan Rupiah tersebut.

Dalam hal ini, Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menuturkan bahwa BI sendiri juga mengerahkan upaya berupa penetapan threshold  tunai beli valas terhadap Rupiah tanpa  underlying menjadi USD 25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.

BACA JUGA:CoFest 2026 UPJ Hadirkan Ruang Kolaborasi dan Kreativitas Siswa dan Mahasiswa Jabodetabek

Selain itu, Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi. 

"Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," jelas Ramdan dalam pesan singkat yang diberikan kepada Disway dan awak media lainnya.

BACA JUGA:Hasil Kualifikasi Moto3 2026: David Almansa Pole, Hakim Danish Start Kedua, Veda P13

Di sisi lain, Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat turut mewanti-wanti bahwa jika tekanan rupiah terus berlanjut dan ekspektasi inflasi mulai bergerak naik, maka ancaman pelebaran defisit fiskal juga akan membuat memperburuk sentimen pasar.

"Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar cerita tentang dolar yang sedang kuat di seluruh dunia. Ini adalah cerita tentang Indonesia yang sedang diminta membayar premi risiko yang lebih mahal, karena investor global melihat sesuatu yang membuat mereka tidak sepenuhnya nyaman menaruh uang di sini," tegas Achmad kepada Disway, pada Sabtu (30/05).

Dalam menghadapi kondisi ini sendiri, Achmad menilai bahwa Rupiah membutuhkan lebih dari intervensi pasar.

BACA JUGA:270 Keluarga di Desa Jepang Terima Manfaat Program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa

Menurutnya, Rupiah membutuhkan pemulihan kepercayaan, dan kepercayaan tidak dibangun dengan pernyataan, yang dapat dibangun dengan angka yang bisa diuji dan kebijakan yang konsisten.

"Pasar tidak butuh kepastian bahwa semua akan baik-baik saja; pasar butuh kepastian bahwa pemerintah mengerti masalahnya dan punya rencana konkret yang bisa dipertanggungjawabkan," ucap Achmad.

Selain itu, Achmad juga menambahkan bahwa pemerintah pun juga harus menjaga dan memperkuat independensi Bank Indonesia, serta memperbaiki komunikasi publik.

BACA JUGA:PETJAH! Hari Terakhir Konser F✦FOREVER di GBK Heboh, Fans Jerry Yan Seru Sing A Long Bareng

"Menyelamatkan rupiah berarti menjual kembali keyakinan bahwa Indonesia dikelola dengan serius, transparan, dan bertanggung jawab," ujar Achmad.

Kategori :