Ancaman Kanker Kolorektal, Indonesia Butuh Strategi Nasional

Selasa 02-06-2026,09:54 WIB
Reporter : Doddy Suryawan
Editor : Reza Permana

JAKARTA, DISWAY.ID - Kanker kolorektal menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Secara global, penyakit ini mencatat lebih dari 1,9 juta kasus baru setiap tahun dan menempati posisi ketiga sebagai kanker paling umum.

Di Indonesia, kanker usus besar berada di peringkat keempat kasus terbanyak dan kelima penyebab kematian akibat kanker, dengan lebih dari 19 ribu kematian per tahun, sebagian besar akibat keterlambatan diagnosis.

Gejala kanker kolorektal kerap tidak disadari sejak awal, di antaranya perubahan pola buang air besar yang menetap, darah pada tinja, nyeri perut, penurunan berat badan drastis, hingga anemia. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi kunci utama dalam menekan angka kematian.

BACA JUGA:Tak Hanya Leukemia, Ini 5 Jenis Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak Menurut Ahli

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, mengatakan pentingnya langkah konkret dalam penanganan kanker kolorektal di Indonesia.

“Kami berkomitmen mendorong kebijakan skrining nasional yang terstruktur dan berkeadilan, melalui kolaborasi dengan pemerintah serta mitra internasional,” ujar Ari, dijakarta, Sabtu, 30 Mei 2026.

Pendekatan skrining berbasis Fecal Immunochemical Test (FIT) dinilai sebagai solusi paling realistis untuk Indonesia. 

"Metode ini memiliki keunggulan karena biaya rendah, tidak invasif, dan mudah diterapkan secara luas. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada tindak lanjut pasien dengan hasil positif yang belum optimal menjalani kolonoskopi,"kata Ari.

BACA JUGA:Siemens dan Siloam Perkuat Teknologi Baru, Deteksi Kanker Makin Akurat

Pengalaman negara lain menunjukkan hasil signifikan. Program skrining terstruktur berbasis FIT mampu menurunkan angka kematian hingga 35 persen serta mengurangi kasus kanker stadium lanjut secara signifikan.

Hal ini didukung sistem terintegrasi, mulai dari pemanggilan pasien, standar diagnosis, hingga pengawasan kualitas layanan.

Di Indonesia, keterbatasan fasilitas kolonoskopi dan luasnya wilayah menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, strategi bertahap dinilai paling efektif, dimulai dari penerapan skrining di layanan kesehatan primer, penguatan sistem rujukan digital, serta penerapan stratifikasi risiko berdasarkan faktor usia, riwayat keluarga, dan gaya hidup.

Upaya ini diharapkan mampu mempercepat deteksi dini dan menekan beban kanker kolorektal secara nasional.

 

Kategori :