Secara psikoanalitik, fenomena ini dapat dibaca sebagai kembalinya fase infantil dalam budaya visual orang dewasa.
Tokoh-tokoh kartun dengan mata besar, warna cerah, ekspresi lucu, dan bentuk imut menghadirkan rasa aman psikologis.
Mereka mengingatkan pada masa kanak-kanak, ketika dunia terasa sederhana dan menyenangkan. Masih dalam teori psikoanalisa, objek semacam ini bekerja seperti mekanisme regresi, yakni keinginan bawah sadar untuk kembali pada fase hidup yang lebih nyaman ketika realitas belum terlalu menekan.
BACA JUGA:Ramai ‘Cocoklogi’ Lukisan, Pengacara Ridwan Kamil Sebut Ada Peran AI
Masyarakat kontemporer dipenuhi tekanan ekonomi, kompetisi sosial, ketidakpastian kerja, dan kecemasan digital. Di tengah situasi tersebut, estetika kartunal menjadi ruang pelarian emosional.
Dunia yang keras direduksi menjadi visual yang lucu dan menghibur. Karakter imut menjadi semacam “obat penenang visual".
Maka tidak mengherankan jika banyak karya Lowbrow terasa seperti terapi psikologis bagi perupa maupun kolektornya.
Hal ini semakin relevan ketika budaya populer modern sangat bergantung pada nostalgia. Industri hiburan terus menghidupkan ulang karakter masa kecil karena nostalgia terbukti efektif secara emosional dan ekonomis.
Nostalgia bukan lagi sekadar kenangan, tetapi industri afeksi. Seni rupa Lowbrow akhirnya ikut bekerja dalam ekonomi nostalgia tersebut.
Ia menjual rasa rindu terhadap masa kecil, bahkan ketika masa kecil itu sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar ideal.
Dalam absurditas Indonesia, kecenderungan ini juga berkaitan dengan posisi generasi urban menengah. Mereka tumbuh di tengah transisi sosial yang cepat.
Dari masyarakat analog menuju digital, dari budaya lokal menuju budaya global, dari solidaritas komunal menuju individualisme kota. Identitas menjadi cair dan tidak stabil.
Situasi demikian bisa dibilang bahwa, visual kartunal menyediakan identitas alternatif yang mudah dikenali dan mudah dikonsumsi.
Akan tetapi, problem muncul ketika estetika Lowbrow berubah menjadi formula pasar. Banyak karya hanya mengulang karakter lucu, mata besar, humor absurd atau referensi anime tanpa kedalaman gagasan.
Visual menjadi dekoratif semata. Kritik sosial yang dahulu menjadi roh Lowbrow menghilang, digantikan oleh estetika yang aman untuk galeri dan kolektor. Seni tidak lagi menggigit, tapi hanya sekadar menghibur.