Estetika Lowbrow

Sabtu 13-06-2026,12:31 WIB
Oleh: Mayek Prayitno - Seniman dan Kurato

Kartun, anime dan karakter imut akhirnya menjadi dekorasi visual massal yang kehilangan daya ganggunya. Seni berubah menjadi konsumsi visual cepat, seperti budaya makanan cepat saji.

BACA JUGA:Sinopsis Film The Doorman di Bioskop Trans TV Hari Ini 20 Februari 2025, Kisah Mantan Marinir Lawan Pencuri Lukisan

Melalui pendekatan psikoanalisa, repetisi tersebut dapat dibaca sebagai gejala kompulsif. Masyarakat terus mengulang bentuk visual yang sama karena tidak mampu keluar dari lingkaran afeksi nostalgia dan hiburan.

Ada semacam ketakutan untuk menghadapi realitas secara langsung. Maka budaya visual terus memproduksi citra-citra lucu agar kecemasan personal dan sosial dapat ditutupi.

Sementara itu, dunia seni rupa Indonesia yang berlagak kontemporer tampaknya masih menikmati fase euforia Lowbrow.

Kolektor muda menyukai karya yang dekat dengan budaya populer karena terasa akrab dan mudah dimiliki secara emosional.

Galeri juga diuntungkan karena karya seperti ini lebih mudah dipasarkan. Akhirnya, ekosistem seni ikut membentuk kecenderungan estetika tertentu melalui mekanisme pasar.

Problem fundamentalnya kemudian bukan lagi apakah Lowbrow itu seni tinggi atau seni rendah, tetapi apakah ia masih mampu menghadirkan pengalaman estetis yang kritis.

Ketika semua visual menjadi lucu, imut dan kartunal, seni berisiko kehilangan kemampuan untuk mengganggu kesadaran. Padahal seni yang penting sering kali lahir dari ketidaknyamanan, bukan sekadar hiburan.

Mungkin Lowbrow hari ini sedang mengalami nasib yang sama seperti banyak gerakan budaya lain, misalnya dari perlawanan menuju institusi, dari subkultur menuju pasar, dari satire menuju dekorasi.

Ia tetap menarik sebagai gejala zaman, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana kapitalisme visual mampu mengubah bahkan imajinasi masa kecil menjadi komoditas estetika.

Dalam dunia seperti ini, hal paling subtansial bukan apakah seni itu lucu atau serius, akan tetapi, apakah seni masih mampu membuat manusia berpikir di tengah banjir gambar yang terus meninabobokan mereka.

by: Mayek Prayitno - Seniman dan Kurator Seni

 

Kategori :

Terkait

Sabtu 13-06-2026,12:31 WIB

Estetika Lowbrow