Apakah Emas Sudah Murah?

Selasa 23-06-2026,10:32 WIB
Oleh: Wawan Hendrayana

JAKARTA, DISWAY.ID - Awal Juni 2026, harga emas batangan PT Antam masih bertengger nyaman di kisaran Rp 2.911.000 per gram.

Tiga minggu kemudian, papan harga sudah ambles ke Rp 2.668.000 per gram pada perdagangan Senin 22 Juni 2026, turun sekitar Rp 243.000 atau 8,3% dalam waktu kurang dari satu bulan.

Bagi investor ritel yang baru saja melakukan pembelian fisik di awal Juni, koreksi ini cukup menggigit psikologi. Namun bila kita menarik kamera mundur dan melihat dalam horizon satu tahun, gambarannya berbeda.

Harga emas Antam masih tercatat naik sekitar 27% secara year-on-year. Dalam lima tahun terakhir, emas merupakan salah satu kelas aset paling perkasa, mengungguli IHSG, dolar AS dalam Rupiah, dan bahkan saham bluechip global.

Pertanyaannya wajar, apakah pesta sudah selesai atau ini sekadar jeda sebelum gelombang berikutnya?

Mari kita mundur sebentar ke awal tahun. Harga emas internasional yaitu XAU/USD sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 5420 per troy ounce pada akhir Februari 2026.

Pemicu utamanya adalah konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran lewat Operation Epic Fury pada 28 Februari, yang berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran. Pasar minyak dan emas sama-sama melonjak dalam hitungan jam.

BACA JUGA:Cek Update Harga Emas Antam Terbaru 22 Juni 2026, 100 Gram Tembus Rp271 Juta di Pegadaian

Empat bulan kemudian, pada perdagangan Senin 22 Juni 2026, harga sudah berada di kisaran USD 4.150 sampai USD 4.190 per troy ounce, koreksi sekitar 24% dari puncak namun masih jauh di atas posisi awal tahun.

Pertanyaan berikutnya, kenapa koreksi terjadi padahal premi geopolitik biasanya bertahan lama?

Setidaknya ada tiga faktor jangka pendek yang menjadi pemicu. Pertama, dinamika negosiasi damai antara AS dan Iran berkembang sangat cepat dan volatil dalam beberapa minggu terakhir.

Setelah ancaman penutupan Selat Hormuz pada awal Juni, kedua negara mulai membuka pembicaraan damai yang difasilitasi Swiss.

Walau pertemuan yang dijadwalkan 20 Juni 2026 sempat ditunda, sinyal de-eskalasi sudah cukup untuk meredakan premi geopolitik.

Profit taking institusional pun mengalir keluar. Kedua, hasil FOMC tanggal 18 Juni 2026 jauh lebih hawkish dari ekspektasi.

The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh memang mempertahankan suku bunga acuan 3,50 sampai 3,75%, namun 9 dari 19 pembuat kebijakan kini memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga akhir tahun ini.

Kategori :