Pasar saat ini memberikan probabilitas sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga pada FOMC September. Suku bunga riil yang lebih tinggi memberi tekanan ke aset tanpa yield seperti emas.
Ketiga, aliran masuk ETF emas global di kuartal pertama 2026 anjlok 73% dibandingkan periode yang sama 2025, sementara Goldman Sachs baru saja merevisi proyeksi harga emas akhir tahun turun menjadi USD 4.900 dari sebelumnya USD 5.400 per troy ounce. Investor institusional yang lebih cautious mengambil profit di harga tinggi.
Namun di balik koreksi jangka pendek tersebut, struktur permintaan emas global justru sedang dalam fase yang sangat solid.
BACA JUGA:The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Terancam Turun
Bank sentral negara berkembang terus memborong emas sebagai bagian dari strategi de-dolarisasi. People Bank of China, Reserve Bank of India, Central Bank of Turkey, dan National Bank of Poland mengakumulasi total ratusan ton dalam tiga tahun terakhir.
World Gold Council memproyeksikan pembelian bank sentral global 2026 berada di kisaran 700 sampai 900 ton, sedikit melambat dibandingkan rekor 2024 yang menembus 1.045 ton, namun tetap menjadi salah satu tahun terbaik dalam sejarah. Yang lebih mengejutkan adalah pergerakan retail Asia.
Permintaan bar dan koin fisik di kuartal pertama 2026 mencapai 397,7 ton, lonjakan 50% year-on-year dan menjadi quarterly print tertinggi dalam seri data WGC.
Indonesia bukan pengecualian. Antrian di gerai-gerai penjual emas sepanjang Maret sampai Mei lalu menjadi cerminan satu sentimen, yaitu emas tetap dipandang sebagai pelindung nilai oleh masyarakat menengah dan menengah-atas yang khawatir terhadap inflasi domestik dan pelemahan Rupiah.
Divergensi ini menarik untuk dicermati, institusi Barat profit taking lewat ETF, sementara retail Asia justru memborong fisik. Pertanyaan yang sering muncul di kalangan analis adalah siapa yang lebih dulu salah? Bagi investor di Indonesia, harga internasional bukan satu-satunya yang penting.
Tiga komponen yang menggerakkan harga rupiah per gram adalah harga spot internasional dalam dolar, kurs Rupiah terhadap dolar, serta premium retail Antam.
Per 22 Juni 2026, kurs Rupiah berada di kisaran Rp 17.800 per dolar AS, sementara spread antara harga jual Antam (Rp 2.668.000) dan harga buyback (Rp 2.401.000) ada di kisaran 10%.
Kombinasi ini memperkuat harga emas dalam denominasi Rupiah, di mana bila spot internasional turun 5% namun Rupiah ikut melemah 3%, maka harga Rupiah per gram bisa hanya turun 2%.
Inilah yang menjelaskan mengapa harga emas Antam masih relatif tahan banting dibandingkan pergerakan XAU/USD murni.
Lalu bagaimana proyeksi ke depan? Untuk empat bulan ke depan dari Juli sampai Oktober 2026, kami menyusun tiga skenario dengan probabilitas masing-masing sebagai berikut:
Sumber: Infovesta, dengan asumsi kurs Rupiah Rp 17.800 per USD dan premium Antam ~Rp 280.000 per gram--
Skenario Bull dengan probabilitas 25% mengasumsikan negosiasi damai AS-Iran gagal atau ada eskalasi ulang di Selat Hormuz, The Fed memberikan sinyal pemotongan suku bunga di Juli akibat tekanan ekonomi, dan dolar AS melemah ke level DXY 100.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Turun Tajam Rp30.000 Per Gram Hari ini 18 Juni 2026, Cek Daftar Terbarunya di Sini