JAKARTA, DISWAY - Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, studi global terbaru menunjukkan masih ada faktor risiko yang kerap luput dari perhatian, yakni inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah. Kondisi ini tetap dialami banyak pasien meskipun mereka telah menjalani terapi sesuai standar pengobatan.
Temuan tersebut berasal dari studi POSEIDON yang dilakukan Novo Nordisk terhadap 18.904 pasien di 18 negara. Hasil penelitian dipresentasikan dalam Kongres ke-94 European Atherosclerosis Society (EAS) di Athena, Yunani.
Studi ini menunjukkan sekitar dua dari lima penyandang penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA) yang juga mengalami penyakit ginjal kronis (CKD), maupun gagal jantung, masih mengalami inflamasi kardiovaskular. Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.
Inflamasi kardiovaskular merupakan kondisi peradangan pada pembuluh darah. Berbeda dengan peradangan akibat infeksi, inflamasi ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga tidak disadari pasien. Padahal, apabila berlangsung dalam jangka panjang, inflamasi dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena hingga kini sebagian besar tata laksana penyakit jantung masih berfokus pada pengendalian kolesterol, tekanan darah, dan gula darah. Sementara itu, risiko yang dipicu inflamasi masih tetap ada meski pasien telah menjalani terapi sesuai pedoman klinis.
BACA JUGA:Mayapada Hospital Jadi Pelopor ERAS di Indonesia, Operasi Lutut Terbukti Pulih Lebih Cepat
Senior Vice President sekaligus Chief Medical Officer Novo Nordisk, Filip Knop, mengatakan studi POSEIDON memberikan bukti bahwa inflamasi kardiovaskular masih menjadi sumber risiko yang signifikan bagi pasien penyakit jantung.
"Studi POSEIDON yang dilakukan oleh Novo Nordisk menyajikan bukti penting bahwa inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko yang signifikan dan tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, meskipun telah menerima terapi sesuai standar perawatan saat ini," ujar Filip Knop.
Menurutnya, memahami besarnya risiko akibat inflamasi menjadi langkah penting untuk menghadirkan pendekatan pengobatan yang lebih komprehensif.
"Memahami cakupan risiko inflamasi kardiovaskular merupakan hal yang sangat penting, seiring dengan berlanjutnya riset berbasis inovasi yang kami lakukan untuk mengembangkan terapi pertama kalinya yang berpotensi menjawab kebutuhan medis penting yang hingga saat ini masih belum terpenuhi," lanjutnya.
BACA JUGA:Masalah pada Aorta Jantung Bisa Bahayakan Nyawa, Deteksi Sejak Dini
Studi POSEIDON merupakan salah satu penelitian real-world evidence terbesar yang pernah dilakukan untuk mengukur prevalensi inflamasi kardiovaskular pada kelompok pasien berisiko tinggi. Penelitian ini melibatkan 18.904 pasien dari kawasan Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, hingga Asia Pasifik selama periode 20232025.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.475 pasien merupakan penyandang penyakit kardiovaskular aterosklerotik. Sebanyak 5.757 di antaranya atau sekitar 42,7 persen juga mengalami penyakit ginjal kronis. Selain itu, studi juga melibatkan 11.809 pasien gagal jantung yang mencakup seluruh spektrum gagal jantung, mulai dari fraksi ejeksi yang dipertahankan, sedikit menurun, hingga menurun.
Dalam penelitian tersebut, inflamasi kardiovaskular diukur menggunakan pemeriksaan darah high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP), yaitu biomarker yang saat ini paling luas digunakan untuk mengidentifikasi inflamasi pada pembuluh darah. Pasien dengan kadar hsCRP sebesar 2 mg/L atau lebih dikategorikan memiliki inflamasi kardiovaskular.
Profesor Carolyn S.P. Lam, Senior Consultant Department of Cardiology National Heart Centre Singapore sekaligus Profesor pada Duke-NUS Medical School, menilai hasil studi tersebut mengubah cara pandang terhadap risiko penyakit jantung.