Kemiripan visual antara kerbau dan banteng memicu apa yang dalam psikologi komunikasi disebut sebagai cognitive heuristic, yakni jalan pintas pemikiran audiens untuk segera menyimpulkan situasi.
Akibatnya, tindakan kultural murni direkonstruksi secara dramatis oleh lawan politik sebagai sebuah aksi dominasi, penaklukan, dan sindiran terbuka.
Dramaturgi dan Ambiguitas Pesan Non-Verbal
Dalam konsep dramaturgi, seorang tokoh selalu beroperasi di panggung depan, di mana setiap gerak-gerik perilaku dan ucapannya menjadi konsumsi publik. Jokowi, sebagai mantan orang nomor satu di republik ini, masih memiliki magnet politik yang kuat.
Ditambah posisi anak-anaknya yang menjadi Wakil Presiden saat ini, dan menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia. Posisi ini membuat tidak adanya ruang vakum bagi sosok Jokowi, setiap gerak-geriknya dapat dimaknai sebagai simbol politik.
BACA JUGA:Roy Suryo Kesal Sidang Praperadilan Diganggu, Sebut Ada Pengacara Pendukung Jokowi
Komunikasi non-verbal memang tidak bisa dilepaskan dari sosok Jokowi. Komunikasi non-verbal memiliki kekuatan yang signifikan dalam menciptakan ambiguitas pesan yang terencana dan strategis.
Meski tanpa mengucapkan apapun secara eksplisit, pesan non-verbal memiliki makna yang kuat dan dapat diperkuat dengan konstruksi narasi. Kelebihannya adalah ada pada tetap adanya “ruang aman” bagi Jokowi.
Bagaimana tidak, jika Jokowi diserang akibat simbol tersebut, Ia dapat secara valid berlindung di balik argumen pelestarian budaya lokal. Namun di saat yang sama, impak psikologis dan pesan laten terlanjur tersampaikan kepada publik.
Meski begitu, fenomena ini juga menyingkap kerentanan budaya lokal ketika dibenturkan dengan dinamika politik nasional.
Ketika ruang publik didominasi oleh tafsir politik yang terus diamplifikasi dalam algoritma publik, maka nilai sakral yang harusnya melekat dalam adat budaya akan terpinggirkan.
Safari politik Joko Widodo ke Lampung tempo hari sejatinya bukanlah sekadar lawatan kultural biasa, melainkan penanda eksplisit bahwa ia telah sepenuhnya kembali merambah panggung politik pasca-kepresidenan.
Kehadirannya dalam berbagai momentum publik tidak lagi bisa dibaca sebagai ruang hampa, melainkan bagian integral dari cetak biru agenda politik yang tengah ia persiapkan. Hal ini perlahan terkonfirmasi melalui berbagai manuver dan statemen terbukanya yang secara konsisten mengarahkan dukungan politik kepada PSI.
by: Muhammad Iqbal Khatami (Founder Muda Bicara ID)