Bahlil: 56 Persen Solar Nasional Sudah Menggunakan B50

Kamis 09-07-2026,16:39 WIB
Reporter : Anisha Aprilia
Editor : M. Ichsan

JAKARTA, DISWAY.ID-- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. 

Melainkan, keyakinan pemerintah untuk mengambil keputusan agar Indonesia bisa berdiri di atas sumber dayanya sendiri.

BACA JUGA:Resmi! Prabowo Berlakukan Program Biodiesel B50 di Indonesia

"B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. B50 adalah perpaduan antara keberanian mengambil keputusan, keberpihakan kepada rakyat, dan keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas sumber dayanya sendiri," kata Bahlil saat peluncuran B50 di Karawang, Kamis, 9 Juli 2026.

Ia menjelaskan implementasi B50 akan dilakukan melalui masa transisi selama dua bulan.

BACA JUGA:ASYIK! Ancol Bagikan Tiket Masuk Gratis Khusus 10 Juli 2026, Cek Persyaratannya Berikut

Saat ini, sekitar 56 persen konsumsi solar nasional telah menggunakan B50, sementara sisa pengguna B40 akan beralih secara bertahap hingga seluruhnya menggunakan B50.

"Transisi dua bulan saja. Sekarang itu sudah dipakai 56 persen dari total solar yang sudah jalan. Nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50," ujarnya.

"Jadi nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50," sambungnya.

BACA JUGA:Harga Emas Antam Hari Ini Merosot ke Rp2,6 Jutaan, Saatnya Beli dan Investasi

Ketua Umum Partai Golkar ini juga mengungkapkan adanya surplus dana yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dalam tiga bulan terakhir.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi harga bahan bakar berbasis fosil (B0) yang lebih tinggi sehingga dana insentif biodiesel tidak terserap secara maksimal.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk memastikan kebijakan energi tetap berpihak kepada masyarakat, khususnya petani dan nelayan.

"Tadi saya bilang kepada Bapak Presiden, kita ini sangat sayang kepada petani dan nelayan. Jangan kita membuat petani dan nelayan itu harganya mahal," jelasnya.

Kategori :