Reksa Dana dan ETF Berbasis ESG di Indonesia

Kamis 16-07-2026,17:58 WIB
Oleh: Ryan M. Consulting Manager at Infov

Setelah melonjak pada 2022, dana kelolaan mencapai titik tertinggi pada 2023 di kisaran Rp 606,73 Miliar, kemudian bergerak relatif stabil di rentang Rp 575 Miliar sampai Rp 586 Miliar pada 2024 sampai 2025.

Lonjakan AUM dari 2021 ke 2022 sebagian mencerminkan perluasan cakupan produk, bukan semata pertumbuhan organik, mengingat cakupan 2021 baru meliputi lima produk ETF berbasis ESG. 

Pola pertumbuhan AUM ini mengindikasikan segmen yang sudah melewati fase perkenalan namun belum memasuki fase ekspansi secara masif.

Dibandingkan total dana kelolaan seluruh industri reksa dana nasional yang berada pada kisaran ratusan triliun rupiah, porsi produk indeks dan ETF berbasis ESG masih sangat kecil dan berpeluang tumbuh apabila didukung permintaan investor.

BACA JUGA:Ini Dia Rekomendasi Investasi Cuan Ekonom Danamon, Ada Obligasi dan Reksa Dana Pendapatan Tetap

Kinerja Indeks Saham ESG

Dari sisi kinerja, indeks saham berbasis ESG menunjukkan hasil yang beragam dan belum memperlihatkan keunggulan yang konsisten terhadap pembanding pasar.

IDX ESG Leaders mencatat imbal hasil tertinggi pada periode ini sekaligus melampaui pembanding pasar IDX80, namun disertai tingkat risiko yang paling tinggi sehingga berada pada kuadran imbal hasil tinggi dengan risiko tinggi.

Sebaliknya, dua indeks IDX KEHATI mencatat imbal hasil negatif dengan tingkat risiko yang relatif setara pembanding, menempatkannya pada kuadran imbal hasil rendah.

Sebaran ini menegaskan bahwa label ESG bukan jaminan kinerja superior; hasil kinerja sangat bergantung pada metodologi penyaringan, komposisi sektor, dan bobot emiten pada masing-masing indeks.

BACA JUGA:Keuntungan Investasi Saham Dibanding Reksa Dana: Mana yang Lebih Menarik?

Faktor Pendorong dan Tantangan

Sejumlah faktor berpotensi mendorong segmen ini ke depan, antara lain penguatan kerangka pengungkapan melalui revisi POJK 51/2017 dan penerapan TKBI, meningkatnya kesadaran investor institusi seperti dana pensiun terhadap risiko keberlanjutan, serta tren global yang mengalirkan modal ke produk berlabel keberlanjutan.

Di sisi lain, tantangan seperti likuiditas perdagangan ETF di bursa yang masih terbatas, perbandingan data ESG antar emiten yang belum seragam, serta risiko persepsi greenwashing yang dapat menekan kepercayaan investor apabila standar pengungkapan belum konsisten diterapkan.

BACA JUGA:Perusahaan Ini Buktikan Reksa Dana Pasar Uang Jadi Investasi yang Stabil dan Cuan

Kesimpulan

Reksa dana indeks dan ETF berbasis ESG di Indonesia berada pada fase pembentukan pasar.

Dana kelolaan sudah terbentuk pada skala ratusan miliar rupiah, kerangka regulasi sedang diperkuat, namun kinerja indeks acuannya masih beragam.

Bagi investor, keputusan sebaiknya didasarkan pada pemahaman atas metodologi indeks, profil risiko, dan tujuan investasi, bukan semata pada label ESG.

Kategori :