Beban tersebut tidak hanya berasal dari biaya pelayanan kesehatan, tetapi juga pengeluaran yang masih harus dibayar langsung oleh keluarga, seperti transportasi dan kebutuhan selama perawatan, serta hilangnya pendapatan ketika orang tua harus mendampingi anak atau tidak dapat bekerja.
BACA JUGA:Tekan Kasus DBD, Kemenkes Andalkan Vaksin demi Target Nol Kematian 2030
Dari total tersebut, sekitar Rp3,5 triliun diperkirakan ditanggung oleh pasien dan keluarga melalui pengeluaran langsung serta kehilangan pendapatan.
Kehilangan pendapatan akibat tidak dapat bekerja saja diperkirakan mencapai sekitar Rp1,8 triliun.
Angka ini menunjukkan bahwa ketika seorang anak terkena DBD, dampaknya dapat meluas pada pendidikan anak, produktivitas orang tua, dan kondisi keuangan keluarga.
BACA JUGA:Kaltara Masuk Zona Endemik Penyakit DBD, Vaksinasi Pencegahan Paling Efektif
Perlindungan yang Ikut Bergerak Bersama Anak
Melihat risiko dengue yang dapat muncul di berbagai tempat, dr. Ikhsan menekankan pentingnya menerapkan pencegahan secara menyeluruh.
“Perlindungan dari DBD tidak cukup hanya dengan satu cara. Penerapan 3M Plus tetap perlu dilakukan secara konsisten, mulai dari menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang dapat menampung air, hingga menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk. Selain itu, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dengue yang komprehensif,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).
“Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak dan anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan vaksinasi dengue. Pencegahan yang dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dapat membantu memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh bagi anggota keluarga yang memenuhi syarat,” tambah dr. Ikhsan.
BACA JUGA:Kaltara Masuk Zona Endemik Penyakit DBD, Vaksinasi Pencegahan Paling Efektif
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa perlindungan anak dari DBD membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya melihat anak sakit dan tidak dapat menjalani kesehariannya seperti biasa. Ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak. Orang tua mungkin harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak, aktivitas keluarga terganggu, dan muncul biaya yang tidak terduga. Semua orang bisa terinfeksi virus dengue, terlepas dari usia, tempat tinggal, maupun gaya hidupnya.
Karena itu, perlindungan perlu dimulai dari keluarga, dengan orang tua mengambil peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, termasuk melakukan 3M Plus secara berkelanjutan dan mempertimbangkan penggunaan metode pencegahan yang inovatif.
"Namun, tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada keluarga saja. Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030, Takeda berkomitmen terus mendukung upaya pemerintah dan masyarakat melalui edukasi serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia,” tutup Andreas.