Cegah DBD Sejak Dini, Anak SD di Jakarta Diajak Praktik Langsung Gerakan 3M+

Sabtu 01-08-2026,02:15 WIB
Cegah DBD Sejak Dini, Anak SD di Jakarta Diajak Praktik Langsung Gerakan 3M+

Melalui edukasi interaktif Gerakan 3M+ yang meliputi menguras, menutup, dan mendaur ulang, ratusan siswa SD di Jakarta diajak mempraktikkan langsung kebiasaan sederhana yang dapat menekan risiko penularan DBD di lingkungan rumah maupun sekolah.--Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID – Upaya mencegah demam berdarah dengue (DBD) kini mulai diperkuat sejak usia sekolah dasar.

Melalui edukasi interaktif Gerakan 3M+ yang meliputi menguras, menutup, dan mendaur ulang, ratusan siswa SD di Jakarta diajak mempraktikkan langsung kebiasaan sederhana yang dapat menekan risiko penularan DBD di lingkungan rumah maupun sekolah.

Melalui brand lokal unggulannya Soffell, Enesis Group kembali bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan Jakarta, dalam program CSR "Asean Dengue Day 2026" untuk mendukung upaya promotif dan preventif Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. 

BACA JUGA:Mau Vaksin HPV hingga DBD? Kini Bisa Bayar Pakai PayLater

Melalui kolaborasi ini, Enesis Group hadir dalam rangkaian kegiatan roadshow edukasi di SDN 03 & 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, dan SDN 02 Mampang Prapatan.

Program ini menghadirkan edukasi interaktif mengenai Gerakan 3M+, yaitu Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, serta pentingnya melindungi diri dari gigitan nyamuk melalui penggunaan lotion antinyamuk Soffell. Serta memperkuat Gerakan 3M+ upaya mendukung target Indonesia Zero Dengue Death 2030. 

Dengan mengusung tema “Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN”, inisiatif ini diwujudkan melalui edukasi interaktif di beberapa sekolah dasar di Jakarta untuk membangun budaya pencegahan DBD sejak dini.

BACA JUGA:AWAS! Penularan DBD Bisa Terjadi di Perkantoran, Karyawan Perlu SIAP Lawan Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak-anak di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat, kasus DBD tertinggi pada tahun 2025 terjadi pada kelompok usia 15–44 tahun (42%), sementara kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun (41%).

Kondisi ini menunjukkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal DBD.

Artinya, upaya pencegahan harus dimulai sejak usia dini.

BACA JUGA:Kasus Rawat Inap DBD Tembus 1 Juta, Indonesia Bentuk Aliansi Besar Perangi Dengue

Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat. Melalui Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+, yaitu Menguras, Menutup, Mendaur Ulang. Budaya pencegahan DBD ini dapat ditanamkan dan diterapkan secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Direktorat Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan yang diwakili oleh Dr. Agus Handito, menekankan bahwa keterlibatan aktif semua pihak menjadi kunci keberhasilan penanggulangan dengue.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: