Dear Cinta

Minggu 16-08-2026,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

Saya lebih suka judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan Dear You. Terlalu jauh dengan judul asli: Gei Ah Ma de Qing Shu (Surat Cinta untuk Nenek).

Dear You adalah film kedua yang saya tonton tahun ini: karena diundang untuk menontonnya. Bersama para pengusaha besar dan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya: Ye Su.

Film itu memang sangat menyentuh, khususnya bagi keturunan para perantau. Anda sudah tahu: film pertama yang saya tonton tahun ini juga karena kebetulan.

Saat itu saya sedang dalam penerbangan lintas benua. Untuk mengatur agar tidak jetlag saya tidak boleh tertidur. Bacaan sudah habis. Menulis artikel sudah selesai. Kebetulan ada pilihan film ringan yang sudah lama ingin saya tonton: Michael! Tentang Michael Jackson.

Sambil nonton Dear You saya terus bertanya-tanya: mengapa untuk pasar internasional film ini diberi judul Dear You. Di Tiongkok memang sudah biasa: nama asing untuk sebuah merek tidak harus terjemahan dari bahasa asli. Mercy, misalnya, di Tiongkok disebut Benze. Toyota disebut Fengtian. Starbucks dibuat agak mirip dengan artinya: Xing Pa Ke.


--

Mungkin judul Dear You dimaksudkan untuk mendapatkan makna yang lebih luas tapi tetap ''menyasar'' ke hati: you! Pemakaian kata ''dear' juga begitu. Kata 'dear' sering dipakai sebagai pembuka sebuah surat di masa lalu.

Film Dear You memang bicara tentang surat-surat dari perantauan di zaman jauh belum ada WA. Tahun 1940-an. Surat-surat cinta itu banyak yang tidak sampai ke alamat.

Para perantau di zaman itu juga banyak yang tidak bisa baca tulis. Tapi cinta sejati bisa mencari jalan keluar yang unik. Ada perusahaan jasa membacakan surat. Termasuk jasa menuliskan surat. Sekaligus mengirimkannya. Di masa lalu cinta terlihat lebih suci: begitu sulit menyatakan cinta tapi tetap bisa melakukannya.

Kisah Dear You dimulai ketika seorang gadis cantik di desa Shantou –bernama Ye Shurao– dijodohkan oleh orang tuanyi. Tapi bukan calon suami itu yang dia cintai. Akhirnya dia kawin lari dengan pemuda idamannyi sendiri: Zheng Musheng.

Suami istri itu pun hidup bahagia. Punya anak tiga.

Sampai bencana tiba: perang candu. Kerajaan mewajibkan semua anak muda ke medan perang. Nama Musheng termasuk dalam daftar. Sang istri setuju suaminyi menghilang: merantau ke Nan Yang. Daripada ikut perang dengan risiko tewas di medan perang.

Berlayar ke Nan Yang memang amat populer zaman itu. Nan Yang adalah sebutan untuk wilayah yang sekarang disebut Asia Tenggara. Belum ada Malaysia, Singapura mau pun Indonesia saat itu. Semuanya disebut Nan Yang (laut selatan).

Dari pelabuhan Shantou, Musheng berlayar meninggalkan istri tercinta dan tiga anak kecilnya. Setelah sebulan di laut Musheng mendarat di tanah Melayu. Lalu pindah ke utara: ke Bangkok. Di Bangkok lebih banyak perantau sekampung: sama-sama bersuku Zhaozhou (Tiuchu). Di Bangkok Musheng bisa serasa di kampung sendiri. Di Bangkok juga lebih banyak perantau dari suku Hakka, tetangga Zhaozhou.

Di Tiongkok suku Zhaozhou tinggal di tiga kabupaten paling utara provinsi Guangdong. Lebih dekat ke Xiamen daripada ke ibu kota provinsnya sendiri: Guangzhou.

Maka dialog di film Dear You sendiri pakai bahasa Zhaozhou. Bukan Mandarin. Penonton terbantu oleh teks bahasa Inggris dan Indonesia.

Selesai menonton saya hampiri seorang wanita kaya asal Singkawang. Dia bersuku Zhaozhou: separo Tionghoa Singkawang memang suku Zhaozhou. Separonya lagi suku Hakka.

Wanita itu istri seorang pengusaha terkaya Surabaya meski sang pengusaha selalu tampil seperti orang kebanyakan. Perusahaan kopinya terbesar di Indonesia. Punya pabrik kopi di beberapa negara.

"Apakah Anda mengerti sepenuhnya dialog di film tadi?" tanya saya.

"Mengerti separo," katanyi.

"Kan Anda orang Zhaozhou....".

"Iya, tapi itu bahasa asli di sana," jawabnyi.

Lalu saya menoleh ke suaminyi. Ia suku Fujian dari nenek moyang di Quangzhou.

"Anda mengerti berapa persen?"

"Hanya mengerti satu dua kata," jawabnya.

"Anda tadi menangis?" tanya saya lagi.

"Tidak," jawabnyi.

"Saya menangis...." kata saya.

Memang, dua kali saya berlinang air mata.

Cinta Musheng ke Ye Shurao sangat murni. Biar pun di rantau masih tetap miskin ia tetap kirim surat sebulan sekali. Di surat itu disertakan uang 20 dolar Hongkong. Sang istri juga selalu kirim surat balasan ke suami: mengabarkan keadaan dan perkembangan tiga anak mereka.

Di rantau Musheng kos satu kamar berdesakan empat orang. Juragan kos-kosan yang selalu mabuk itu punya anak gadis nan jelita. Namanyi: Xie Nanzhi. Gadis anak juragan itu juga buta huruf. Si gadis sangat terkesan dengan Musheng yang baik hati dan pekerja keras. Apalagi ketika rumah kos-kosan itu terbakar. Sang juragan sedang mabuk. Tidak sadar kalau rumahnya sedang dilalap api. Anak gadisnya, Nanzhi, sampai harus menggendong sang ayah, tapi selalu jatuh tersungkur di tengah nyala api yang berkobar.

Musheng masuk rumah menerobos api. Maunya menyelamatkan uang simpanan yang akan dikirim ke istri di kampung halaman. Tapi ia melihat si gadis kesulitan menyelamatkan ayahnyi. Ia gendong juragannya menerobos api. Selamat. Lalu ia bergegas balik menembus api: ingin selamatkan uangnya. Terlambat. Uang sudah terbakar.

Musheng pun mencari siapa yang membakar rumah itu: ketemu! Yakni investor yang pernah datang untuk membeli rumah kos-kosan itu. Harga tidak cocok. Ia akan menjadikannya real estate. Musheng pun menghajar investor itu. Babak belur. Musheng ditangkap polisi. Dimasukkan penjara.

Saat Musheng di penjara si gadis sudah mulai bisa membaca. Nanzhi diam-diam mengintip pelajaran membaca untuk anak-anak perantau di salah satu kamar kamar kos.

Setiap kali ada surat dari istri Musheng dia antarkan surat itu ke penjara. Sambil bawa makanan untuk Musheng yang telah berjasa menyelamatkan ayahnyi. Musheng minta si gadis membacakan isi surat istrinya. Dari surat menyurat itu si gadis pun tahu betapa murni cinta mereka.

Selama Musheng di penjara tentu tidak punya penghasilan. Musheng juga tidak mau istrinya tahu kalau suaminyi sedang kena musibah. Sang istri sendiri yakin suaminyi baik-baik saja di rantau. Buktinya tiap bulan masih kirim surat dan masih kirim uang dengan jumlah yang sama.

Sang istri tidak tahu kalau yang selalu kirim surat dan uang itu sebenarnya si gadis Nanzhi.

Sekeluar dari penjara Musheng dapat pekerjaan sebagai penarik becak. Becak gaya Thailand. Lama-lama hasilnya bisa untuk menyewa kapal kayu. Musheng pun punya kapal kecil. Ia mulai jadi pengusaha angkutan sungai.

Si gadis tahu Musheng sudah punya penghasilan. Sudah bisa kirim uang sendiri. Dia tidak perlu lagi menulis 'surat palsu' ke istri Musheng.

Musibah lagi. Di dermaga kapal itu ada perampokan. Di kegelapan malam Musheng membantu menangkap orang yang merampok perahu di sebelah perahunya. Musheng kalah. Tewas. Dibuang ke laut.

Si gadis anak juragan amat sedih kehilangan orang yang amat dia sayangi. Dia sampai bikin papan arwah (神主牌) Musheng. Papan arwah itu ditaruh di kelenteng. Si gadis sembahyangi terus papan arwah itu secara rutin.

Bertahun-tahun pula gadis Nanzhi selalu kirim surat ke istri Musheng seolah sang suami baik-baik saja. Nanzhi juga terus kirim uang seakan-akan dari suami.

Ketika usia gadis Nanzhi kian tua dia berada di satu dilema besar: apakah akan tetap terus menulis surat ke istri Musheng –seolah Musheng masih hidup. Atau mulai berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia.

Dia putuskan: tidak. Dia tidak sampai hati membayangkan betapa sedih istri Musheng. Maka, si gadis tiap bulan tetap kirim uang ke istri Musheng. Disertai surat cinta seperti biasanya. Sang istri juga selalu membalas surat itu.

Pernah uang kiriman itu dipakai sang istri ke kota: untuk berfoto keluarga. Sang istri ingin suaminyi tahu bahwa dia masih tetap cantik dan anak-anak mereka sudah mulai sekolah.

Si gadis sangat sedih setiap kali membaca surat balasan istri Musheng. Melihat foto anak-anak Musheng, si gadis tidak hanya kirim uang tapi juga kirim sepeda. Betapa senang mereka menerima kiriman sepeda. Anak-anak itu pun belajar naik sepeda. Pun sang istri.

Mereka pun berkesimpulan Musheng baik-baik saja, bahkan penghasilannya mulai besar. Bisa kirim sepeda.

Akhirnya si gadis yang mulai berumur memutuskan: saatnya berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia. Tapi itu harus dijelaskan dengan surat yang amat panjang. Dia sertakan pula foto ketika Musheng dan dirinyi berfoto bersama beberapa anak perantau yang belajar membaca di rumah kos-kosan.

Surat panjang itu tidak pernah sampai. Tukang pos-nya terpeselet masuk sungai yang airnya deras. Semua surat hanyut. Yang terselamatkan hanya satu foto tadi.

Foto itulah yang dikirim ke rumah sang istri. Bencana. Melihat foto itu sang istri mengira suaminyi kawin lagi di rantau dan sudah punya banyak anak. Habislah hatinyi. Hancurlah cinta sucinyi. Sangat kecewa.

Apalagi sejak itu dia tidak pernah menerima surat lagi dari sang suami. Si gadis memang tidak merasa perlu menulis surat lagi karena di surat terakhir sudah diberitahukan bahwa Musheng sudah meninggal.

Sang istri menderita batin sampai tua. Sampai sudah punya cucu. Zaman juga sudah berubah. Apalagi di Tiongkok. HP sudah jadi barang biasa.

Maka cucu yang di Shantou ingin mencari kakek mereka ke Bangkok. Dengan hati marah. Sang cucu ke Bangkok dengan niat merebut harta waris.

Berdasar alamat di surat-surat masa lalu ditemukanlah "istri" kakeknya. Punya rumah bagus. Sang cucu mendamprat habis wanita itu sebagai tidak berhak atas harta waris kakeknya. Istri yang sah, yang berhak atas warisan, adalah ibunya yang di Shantou.

Akhirnya si cucu tahu bahwa kakek mereka tidak pernah kawin di rantau. Tidak pula punya harta. Mati muda. Akhirnya tahu wanita yang didamprat tadi adalah wanita luar biasa baik pada keluarganya.

Sang cucu menghubungi neneknya lewat video call. Dijekaskanlah semuanya. Istri Musheng pun menyesal telah bersedih seumur hidupnyi. Cinta suami ternyata masih tetap murni sampai akhir hayatnya.

Akhirnya, setelah sangat tua, sang istri ingin bertemu wanita baik itu. Dia ke Bangkok. Pakai pesawat. Ketika akhirnya bertemu wanita baik tadi dia kecewa: wanita itu telah pikun. Tidak ingat apa pun, termasuk namanyi.

Tentu tidak semua perantau, kala itu, seperti Zheng Musheng. Banyak juga perantau yang kawin lagi dengan wanita lokal. Lalu terjadi masalah ketika istri yang di sana menyusul ke sini.

Dear You adalah film Tiongkok yang sangat sukses. Biaya pembuatannya hanya USD2 juta. Hasil sementaranya sudah USD260 juta. Memang masih kalah jauh dari film Avatar –yang hasilnya masuk hitungan miliar dolar.

Film Dear You, produksi Shenzhen, adalah kisah perjuangan berat para perantau. Bagi generasi sekarang itu bisa jadi pendorong semangat betapa berat kehidupan pendahulu mereka.

Di zaman ini yang seperti itu tidak bisa terjadi lagi. Istri zaman sekarang selalu bisa mengejar: sedang di mana, dengan siapa... (Dahlan Iskan)


Pengumuman Gathering Perusuh #6--

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 15 Agustus 2026: Tepat Waktu

Kurniawan Roziq

Hari ini catatan harian Dahlan tidak saya baca , saya hanya berharap penulis nya tahu harga bawang merah per kilo gram

heru santoso

Cerita imajiner (lanjutan): --- Arwahku sejenak membeku. Nama yang membuat dadaku sesak itu begitu jelas, bahkan akrab di ingatanku. Dia memang tak pernah membuka jendela mobil pengantar di pintu gerbang rumah yang dulu aku jaga. Aku hanya mencatat namanya dari sopir yang mengantar dan menjemput esok paginya. Kegiatan apa yang terjadi di dalam rumah, tentu aku tidak pernah mengerti. Hanya kadang-kadang aku dipanggilnya sekadar untuk membelikan sebungkus rokok dan minuman kaleng kesukaannya. --- Aku masih bergelantung, mengambang di ruang dingin ini. Terdengar lirih suara orang berdasi: “Coba petakan *timeline* kapan ani-ani dimunculkan. Mulai dari kasus Clinton, Presiden PKS, hingga Menteri BTS.” Tak berapa lama, di layar lebar itu muncul algoritma waktu beserta catatan kejadian. Garis-garis waktu bergerak, titik-titik peristiwa menyala satu per satu, saling terhubung oleh garis tipis yang berdenyut. Sebagai arwah *mendang-mending*, tentu aku tidak paham keruwetan algoritma yang muncul di layar itu. Aku juga tidak mengerti mengapa aktor wanita sering dimunculkan dalam suatu kasus… mungkin Anda sudah tahu, toh itu tidak sesulit menebak siapa penulis prompt yang dibacakan Presiden dalam pidato sidang pleno yang tepat waktu kemarin itu. Aku hanya menatap. Nama itu masih menggantung di udara ruang rahasia, seolah menunggu diputuskan: akan disimpan dalam folder gelap, atau justru digarisbawahi dengan tinta merah.

Pak De Kumis

Padahal, Pak Jo Neca sang pecetus istilah perusuh saja, tidak pernah ngaku-ngaku perusuh senior.

Jokosp Sp

Acara hari Sabtu pagi yang wajib adalah antar Ibu Negara ke pasar. Sebelum sampai di pasar mampir ke warung nasi kuning langganannya yang memang satu arah menuju pasar. Setelah menu lontong sayur dengan iwak haruan bumbu habang tersaji, tiba-tiba Pak Kumis mendekat sambil membawakan teh panas manis yang kami pesan. "Maaf mas kalau iwaknya dihalusi potongan dagingnya". Kenapa Pak Kumis kok dikurangi ukuran besar potongannya?. "Belinya jadi mahal semua bahan-bahan lauk dan bumbu-bumbunya. Sementara kami tidak bisa menaikkan harga jualnya begitu saja". Penyebabnya apa pak?. "Ini namanya ekonomi biaya tinggi". Waduh....tinggi banget bahasanya?. "Ya...kami harus menyesuaikan mau tidak mau. Semua yang jualan di pasar juga mengeluh, ongkos angkutnya semua serba naik. Coba lihat di depan kita.....antrian cari pertalit dan solar jam 04.00 subuh sudah pada antri. Antrian tiap hari sampai 2 km". "Rakyat bawah ini bisanya apa?. Kita cuma bisanya menyesuaikan diri saja dengan kondisi ini". "Harga pertalit di eceran Rp 15.000,-/ltr, padahal di POM aslinya Rp 10.000,-/ltr. Naiknya 50%. Sama, harga solar juga Rp 15.000,-/ltr di eceran dari Rp 6.800,-/ltr di POM. Naiknya gila sekali sampai 120%. Bukannya semua angkutan menggunakan solar?". Iya bener juga saya menjawab. Gila memang ini sudah kondisinya ya Pak Kumis?. "Inggih Mas...ndak tahu di mana pemerintah ini ketika usaha serba sulit ini?". Pada tidur mungkin Pak Kumis..., saya menjawab sak kenanya.

Pak De Kumis

Berarti perusuh kadang-kadang seperti saya ini tidak dianggap?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@Murid SD Inpress.. MUKTAMAR PERUSUH DISWAY: DARI AGRINEX SAMPAI PACET.. Ini sejarah adanya muktamar perusuh. Bukan organisasi. Tidak punya AD/ART. Tetapi selalu ada yang mengorganisir. Dan selalu ada yang datang. 1) Pertama, Agrinex, Pandeglang, Banten, 30–31 Desember 2022. Pesertanya 22 orang. Tempatnya disponsori pemilik Agrinex, bu Rifda. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan Agrinas ya. 2) Tahun 2023 dilaksanakan di Candi Prambanan, Yogyakarta. Sekitar 40 perusuh berkumpul. Ada diskusi, guyon, ada perkenalan. Ada senam "keperkasaan" di hotel. Ada senam biasa di Candi Prambanan. Dunia maya mendadak menjadi dunia nyata. 3) Tahun 2024, giliran ke Pacet. Di DIC Farm. Ada senam di Surabaya, ada sarasehan, menggambar, makan, dan tentu saja merusuh. 4) Tahun 2025 malah dua kali. Yang pertama, bulan Agustus di Bandung. Disponsori Kang Yana, perusuh sekaligus developer. Sekaligus memperingati ulang tahun Pak Dahlan dan ulang tahun perkawinan pak Dahlan yang ke-50. Ada kunjungan ke Saung Angklung Udjo. Ada sarasehan. Ada senam bersama di kawasan perumahan Kang Yana. 5) Tahun 2025, yang kedua kembali di Pacet. Ada peluncuran buku PERUSUH DAHLAN ISKAN. Ditulis oleh 45 perusuh. Tebalnya 350 halaman. Juga ada penyematan kaos untuk perusuh "terusuh" 6) Nah, 22-23 Agustus 2026 ini yang ke 6. ### Mengapa pada semangat datang? Karena saat sarasehan selalu ada sharing bisnis dari pak Dahlan. Dan juga perusuh yang sukses mengambil inspirasi dari pak Dahlan.

Pak De Kumis

Di Agrinek : gratis. Di Bandung : gratis Di Prambanan : gratis Di Pacet yang dulu : gratis. Itu semua saat saya tidak bisa terdaftar. Saat saya daftar, kok jadi bayar, kok tidak gratis lagi? Bukannya acara gathering disway ini acaranya Mas Dahlan? Kok sekarang jadi acara dari perusuh untuk perusuh? Apa Mas Dahlan sudah kehabisan dana sehabis nonton piala dunia di Amerika itu?

Eyang Sabar56

Banyak yang berharap, utama ASN dan pensiunan di pidato Presiden kemarin soal kenaikan gaji, tidak sampai kenaikan gaji hakim yang gila-gilaan. Yang penting naik. Semua sudah tau, antara besaran gaji ASN dan harga kebutuhan sekarang sudah tidak seimbang. Tapi apa dikata, berharap tinggal harapan.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PIDATO KENEGARAAN: DARI 17 AGUSTUS KE 16 AGUSTUS.. Ada yang menarik dari sejarah pidato kenegaraan Presiden RI. 1) Pada masa Bung Karno, pidato kenegaraan disampaikan pada 17 Agustus, tepat hari Proklamasi. Bung Karno memang punya panggung sendiri: Hari Kemerdekaan, Istana, dan pidato yang sering terasa seperti manifesto perjuangan. Tradisi itu berubah pada 1967. Soeharto, ketika masih Pejabat Presiden, berpidato di depan DPR-GR pada 16 Agustus. Sehari sebelum HUT Kemerdekaan. Inilah awal tradisi pidato kenegaraan sehari menjelang 17 Agustus. Tradisi itu kemudian berjalan melewati Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, hingga Jokowi. Setelah Reformasi, formatnya makin konstitusional. Presiden menyampaikan pidato di depan lembaga perwakilan. Bahkan sejak 1999 muncul Sidang Tahunan MPR. Tahun 2024 Jokowi masih menyampaikan pidato pada 16 Agustus. Tahun 2025 giliran Prabowo. Namun kalender kadang membuat tanggal bergeser. Tahun ini, tradisi itu kembali mengingatkan kita: sebelum bangsa berpesta pada 17 Agustus, Presiden lebih dulu mengajak bangsa bercermin.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Ali Fauzi, @pak Tivibox.. PERSAMAAN MATEMATIKA SIDANG TAHUNAN MPR.. Misalkan, ini dianggap benar: 1) Kalau pak Jokowi hadir, maka bu Mega tidak akan hadir. 2) Kalau bu Mega hadir, maka pak SBY tidak hadir. 3) Kalau pak SBY hadir, pak Jokowi hadir. Maka: J = pak Jokowi hadir M = bu Mega hadir S = pak SBY hadir Sehingga: J → ¬M. M → ¬S. S → J. Kalau dirangkai: S → J → ¬M → S. ### Lho... Berarti: S → S. Secara matematika, ini benar. Tapi secara politik, justru bikin penasaran. Apakah ini kebetulan? Atau ada “teorema ketidakhadiran” dalam politik Indonesia? Yang hadir bukan sekadar orang. Yang tidak hadir pun ternyata punya persamaan.

Antonio Samaran

Dari persamaan matematika di atas dpt ditarik satu kesimpulan sederhana: semua mantan presiden pernah jadi anak kecil, dan rupanya sifat kekanak-kekanakannya msh terbawa sampai tua. Bedanya secara unum anak perempuan memang lbh sensitif dan lbh mudah ngambek dgn durasi yg sangat panjang. Sementara anak laki2 sedikit lbh mudah mengalah demi menjaga suasana. Hanya saja ketika sifat itu terbawa sampai panggung politik, istilahnya menjadi lbh elegan; bukan ngambek melainkan ketidak hadiran, bukan mengalah melainkan menjaga situasi. Jadi mungkin persamaan matematikanya benar, yg menarik justeru variabel manusianya. Yg tidak hadir pun bisa memberi makna yg sangat hadir.

Tivibox

Segi tiga mantan presiden. Menarik sekali mengamati relasi 3 mantan presiden kita. Kalau digambar dalam noktah segitiga, maka penggambaran garisnya bisa seperti ini : A. Bu Mega B. Pak SBY C. Pak Jokowi. Kalau dari titik A ke titik B garisnya tidak lagi merah, tapi sudah agak biru, walau belum hijau. Terbukti beliau berdua sudah pernah duduk 1 meja di gala diner KTT G 20 di Bali tahun 2022. Walau saat itu beliau berdua kursinya tidak berdampingan. Ini tentu andil Pak Jokowi yang saat itu Presiden. Kalau dari titik B ke titik C, garisnya hijau kebiruan, walau sebelumnya ada sedikit rona merah. Seperti saat Pak Jokowi tiba-tiba berkunjung ke proyek wisma atlet Hambalang tahun 2016, saat jadi presiden. Kalau dari titik A ke titik C, ini garisnya merah merona. Bahkan merahnya sangat pekat. Belum ada potensi menjadi biru atau hijau dalam waktu dekat. Kecuali ada keajaiban.

Joko Wito

Ditengah ekonomi yg lesu,daya beli menurun,pidato presiden tidak menarik perhatian masyarakat.Pidato yg seharusnya membangkitkan rasa syukur, harapan, optimis.bangga sebagai rakyat Indonesia.Semua karena akumulasi pidato2 selama ini ..kata2 kotor seperti ndasmu, bajingan,londo ireng dst. Belum lagi yang tidak masuk akal, penggilingan padi untung 2 trilliun per bulan.Terbaru kemarin menghadirkan ibu suzana bekerja kupas bawang dengan upah 700 rb/ kg yang sekarang viral di medsos.. Semakin meragukan kapasitasnya.

Tivibox

Wartawan : "Apa pekerjaan ibu ?" Ibu : "mengupas bawang" Wartawan : "berapa ibu dikasi imbalan ?" Ibu : "700 ribu per kg..." disebelahnya.... Wartawan : "apa pekerjaan bapak ?" Bapak : "..anu,... dulu saya petani bawang yang sukses, tapi sekarang saya sudah berhenti. Sekarang saya mantapkan hati jadi pengupas bawang...." Wartawan : "Lho kok gitu pak ? kan harga bawang lagi mahal-mahalnya sekarang ?" Bapak : " ah semahal-mahalnya, harganya tak sampai 150 ribu per kilo gram. Mending saya ikut ngupas bawang, dapat 700 ribu per kg. Nggak sampai sejam kok, udah dapat 700 ribu....." Wartawan : ?????????

Joko Wito

Harusnya ibu bekerja kupas bawang, bapak buka penggilingan padi.. Itu baru mantap.. Hhh

Murid SD Inpres

kuota gathering ke-6 perusuh disway katanya 60 peserta, kok yang terdaftar final cuma 57 peserta? sisa 3 lagi siapa? gaib? atau kebetulan tahun ini mentok hanya 57 peminat?

hoki wjy

Setelah Londo ireng mengatakan profesi ibu Susana sebagai pengupas bawang dengan bayaran Rp 700.000/Kg tentu banyak yg akan melamar jadi tukang pengupas bawang bayangkan jika sehari anda cukup hanya mengupas bawang 5.Kg saja berarti bayaran anda Rp 3.500.000 sehari dan sebulan anda begaji Rp 105.000.000.!!!

Sadewa 19

Kami rakyat kecil sangat seneng melihat wajah wajah wakil rakyat di sidang tahunan itu. Mayoritas yg pria gagah, pakai jas, sehat dan bugar. Begitupun yg wanita, mereka cantik dan bening bening. Seakan menandakan bahwa kesejahteraan dan kekayaan sudah merata di semua anggota dewan. Tidak ada satupun yg tersorot kamera, wajah anggota dewan yg sedih atau pakainnya compang camping. Semoga rakyat yg diwakilinya juga seperti itu keadaannya. Rakyatnya makmur dan sejahtera. Dulu seorang Sultan di Baghdad, pernah bertanya kepada seorang gila. "Apa hukuman bagi rakyat yg mencuri?" Orang gila itu menjawab : "Jika rakyat yg mencuri menjadikan itu sebuah pekerjaan, maka hukumannya adalah potong tangan. Namun jika rakyat yg mencuri karena kelaparan, maka hukum potong tangan berlaku bagi para penguasa" Sang Sultan tertegun, dengan penjelasan orang gila tersebut.

Achmad “Yoming Afuadi” Fuadi

Sayang seribu kali sayang dalam pidato bapak Presiden tidak disinggung bencana yg menimpa sumatera bagian utara, dari aceh sd sumbar, bagaimana upaya pemerintah mengatasi bencana dan memitigasi risiko penyebab bencana, termasuk tamu vip tidak ada yg dari penyintas bencana.

alasroban

Mereka tak layak di sebut nagarawan. Mungkin lebih tepat keluarga wan. Lha koq? Mereka sebenarnya hanya kumpulan wali murid yg ingin memastikan anak-anaknya dapet pekerjaan. Malaikat menangis menyaksikan fenomena ini. Apes temen dadi WNI. Maka mereka mendoakan. Agar semua WNI diampuni. Kelak kita mati tak satu pun yg masuk neraka. Kenapa tak boleh masuk neraka. Nanti mereka ketemu pemerintah nya lagi. :(

Sri Wasono Widodo

Ada yang belum disinggung Abah yaitu Sekolah Nasional Terintegrasi. Jenjang SMP dan SMA menjadi satu. Siswanya diambil dari yang paling berprestasi di daerah itu (yang mau). Meski tidak berasrama sekolah ini menerapkan bilingual dalam pembelajaran. Sudah berdiri di sejumlah kabupaten. Di Jateng saat ini ada dua yaitu di Jepara Banyumas. Program ini minim kritik karena bukan program politik. Dan kelihatannya running well tanpa beban korupsi. Bravo Presiden.

Sugi

Noted. Ternyata pidato gaya amerika seperti itu adanya. Baru tahu juga Bah. Tapo keren sih, sehingga pendengar bisa lebih aware dengan pidatonya, siap kalo tiba2 disebut namanya. Rasa berbunga2 ketika dipanggil pasti mengaburkan kefokusan terhadap isi pidatonya. Yang paling pas ya menonton pidato beliau dari media lain. Seperti yang abah lakukan. sehingga bisa melakukan analisis dan kritik terhadap gaya pidato dan isi pidato. Semoga segala manuver kejutan dari Presiden selalu membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia. Menjadi pemimpin memang nyatanya lebih sulit, bahkan sejak dari menentukan gaya berpidato.

Eko Darwiyanto

Data APBN pelengkap pidato: Pendapatan 3.153,6 T sementara Belanja 3.842,7 T Defisit (-) 689,1 T. ([Kemenkeu Budget][1]) Target defisit (keseimbangan primer) -89,7 T ([Kemenkeu Budget][1]) ==> Kelewat defisit 600 T Hutang Pemerintah : 10.293 T Bayar Pokok : 833 T Bayar Bunga : 559 T Bayar Hutang : 1392 T Pendapatan : 3153,6 T % Pendapatan untuk bayar hutang : 44.13%

Taufik Hidayat

Wah, saya sendiri tidak lagi suka menyimak pidato presiden kali ini, Tapi saya koq lebih tertarik melihat nama nama perusuh yang hafir di DIC Farm, Maaf saya tidak dapat hadir karena kebetulan ada acara raker kampüs di Bogor. Salam şaka buat abah dan semua perusuh. Semoga bisa hadir pada kesempatan berikut

Lagarenze 1301

Dua nama itu masuk daftar peserta Gathering Perusuh Disway ke-6. Muliyanto dan Putu Wijana. Semoga ada yang menuliskan tingkah laku kedua perusuh itu saat gathering nanti. Andai saya hadir, saya akan menuliskan first impression saat bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Lalu, saya akan mengamati tingkah lakunya. Point yang menarik adalah apakah ketika bertemu secara langsung di satu momen mereka akan selalu berdua dan terus tektokan, sama seperti di kolom komentar CHDI? Atau, jangan-jangan Bli LP dan Cak Mul justru malu-malu kucing dan hanya saling lirik sesekali? Yang paling penting adalah saat pertemuan dengan Pak Bos. Apakah Dulur Darjo dan Rungkut akan tampil seperti halnya di dunia maya? Saya pingin banget mendengar langsung Bli LP bertanya ke Pak Bos. Atau mengkritik Pak Bos. Soal nggak berani nambah itu. Wani?

Kategori :

Terkait

Minggu 16-08-2026,04:00 WIB

Dear Cinta