Memaknai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan

Senin 17-08-2026,20:25 WIB
Oleh: Prof. Asep Saepudin Jahar

Ketika sebagian masyarakat mengalami kesulitan, masyarakat lainnya perlu hadir memberikan dukungan. Semangat gotong royong yang menjadi karakter bangsa harus terus dipertahankan dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan saat ini. 

Kepedulian terhadap mereka yang mengalami musibah, kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian, maupun mereka yang menghadapi keterbatasan merupakan wujud nyata dari rasa kebangsaan.

Dengan demikian, nasionalisme tidak hanya hadir dalam simbol dan upacara, tetapi juga dalam tindakan sederhana untuk memastikan bahwa tidak ada sesama anak bangsa yang merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan hidup.

Kebijakan Pemerintah dan Sikap Kritis Masyarakat Akademik

Dalam konteks pembangunan nasional, masyarakat juga perlu memberikan dukungan terhadap berbagai upaya pemerintah dalam menjalankan agenda pembangunan. Dukungan terhadap pemerintah merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan, terutama ketika kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat daya saing Indonesia.

Namun, dukungan tersebut tidak berarti menghilangkan sikap kritis. Demokrasi selalu membutuhkan ruang bagi kritik dan koreksi yang disampaikan secara bertanggung jawab. 

Untuk itu, sebagai masyarakat akademik, kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan pandangan secara objektif, berbasis data, ilmu pengetahuan, dan kepentingan publik. Seluruhnya dilakukan untuk kepentingan kehidupan bangsa.

Perguruan tinggi dapat memberikan dukungan yang konstruktif melalui penelitian, kajian kebijakan, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta pengabdian kepada masyarakat. Sedang kritik yang berbasis pengetahuan pada hakikatnya juga merupakan bentuk kontribusi untuk memastikan pembangunan berjalan semakin baik.

Sebagai kekuatan bangsa, perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis. Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan dan pemberian gelar. 

Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Ilmu pengetahuan yang berkembang di kampus harus memiliki keterhubungan dengan kebutuhan masyarakat.

Penelitian harus mampu menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan nyata di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga pengabdian kepada masyarakat harus menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk hadir dan memberikan manfaat secara langsung. 

Sementara itu, pendidikan harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga memiliki karakter dan tanggung jawab sosial.

Tanggung Jawab PTKIN

Dalam konteks mengisi kemerdekaan, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah binaan Kementerian Agama RI seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki tanggung jawab tak kalah  luas. Diantara bentuk tanggungjawabnya adalah mempertemukan keilmuan, keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan.

PTKIN perlu terus melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan profesional sekaligus memiliki integritas, kepedulian sosial, kemampuan menghargai perbedaan, serta kesadaran yang kuat sebagai bagian dari bangsa Indonesia. PTKIN harus membentuk manusia yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaannya.

Peran tersebut juga perlu diwujudkan melalui riset dan inovasi berbagai PTKIN yang relevan dengan persoalan bangsa serta pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan kekuatan akademik yang dimiliki, PTKIN optimistis bisa terus meningkatkan kontribusinya dalam memberikan gagasan dan solusi bagi pembangunan nasional.

Kategori :