Tiga Inklusif

Tiga Inklusif

--

Hampir pasti peluang Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar tertutup untuk bisa terpilih sebagai ketua umum tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tidak mungkin beliau meletakkan jabatan sebagai menteri untuk mencalonkan diri di Muktamar NU di Jombang minggu depan (27-31 Agustus).

Kian ke sini calon utama yang santer disebut tinggal dua orang: Gus Kikin dari Tebuireng Jombang dan Gus Yahya, incumbent.

Melihat bahwa keduanya seperti sedang berhadapan langsung barulah muncul calon lain yang menyebut dirinya "poros tengah": Gus Rozin dari pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jateng.

Tentu sempat muncul calon-calon lain. Tapi sifatnya lebih karena ada yang mendorong untuk maju. Misalnya tokoh Golkar yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid mendorong KH Zulfa Mustofa. Beliau adalah ulama yang sempat jadi penjabat ketua umum PBNU di tengah konflik syuriah dan tanfidziyah. Eksistensi "penjabat ketua umum'' ini menguap karena ternyata bukan jalan keluar dari konflik.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar mendorong kiai dari Jateng, KH Yusuf Chudlori. Nama ini kian hari juga kian surut.

Berarti tiga calon yang kelihatannya akan bersaing ketat: Gus Yahya, Gus Kikin, dan Gus Rozin. Tiga-tiganya ''darah biru'' NU. Semuanya cucu kiai besar di dunia NU. Bahkan tiga-tiganya bisa dibilang tokoh inklusif.

Saking inklusifnya, Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sampai disemprot sebagai antek Yahudi. Gus Yahya telah berjuang sangat keras untuk mengubah NU: agar tidak hanya kaya di akhirat tapi juga bisa kaya di dunia; lewat tambang batu bara. Siapa tahu cita-cita yang belum terwujud itu bisa terjadi di masa kepengurusan periode keduanya.

Gus Kikin? Ia juga sangat inklusif. Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) yang juga ketua PWNU Jatim adalah kiai yang juga pengusaha migas. Saya tidak pernah menyangka Gus Kikin akhirnya mau pulang kampung dan mau didaulat jadi kiai di Tebuireng, Jombang. Padahal ia sudah begitu mapan sebagai pengusaha yang tinggal di Jakarta. Memang, setelah Gus Sholah (Salahuddin Wahid, adik Gus Dur) meninggal, tinggal Gus Kikin-lah dhuriyah yang paling senior di Tebuireng.

Gus Rozin juga inklusif. Juga tidak ambisius –awalnya. Gus Rozin (Abdul Ghaffar Rozin) maju karena terpanggil sebagai memimpin NU yang netral. Yakni yang tidak terlibat konflik besar antara rais aam syuriah (KH Miftakhul Akhyar) dan ketua umum Tanfidziyah (Gus Yahya).

Gus Rozin adalah lulusan Monash University, Australia setelah kuliah di Paramadina. Ia juga pernah mondok di pesantren Kwagean, Kediri setelah lulus ibtidaiah sampai aliyah di Kajen. Doktornya dari UIN Walisongo, Semarang. Ia juga pernah mendalami filsafat di lembaga Katolik Driyakarya.

Semua berdarah biru yang inklusif. Itulah wajah baru kepemimpinan NU di tingkat pusat. Apakah tiga-tiganya jadi maju tentu akan bisa dilihat tanggal 29 Agustus. Tanggal itu acara-acara awal muktamar sudah selesai. Pendaftaran calon pun dibuka. Bisa mendaftar sendiri juga bisa didaftarkan.

Yang lebih krusial kelihatannya justru di level kepengurusan dewan syuriah –berkedudukan lebih tinggi daripada kepengurusan eksekutif tanfidziyah.

Pemilihan rais aam (ketua) dewan syuriah tidak lagi lewat pemungutan suara di lantai muktamar. Rais Aam dipilih oleh ''majelis kiai se Indonesia'' secara tertutup. Istilahnya Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA). Masing-masing dewan syuriah NU di cabang (tingkat kabupaten/kota) dan di wilayah (tingkat provinsi) mengajukan sembilan nama. Berarti akan terkumpul ratusan nama. Yang namanya ditulis terbanyak otomatis sebagai rais aam. Delapan lainnya jadi anggota dewan syuriah.

Selama ini tiga nama kiai besar yang muncul ke permukaan: incumbent KH Miftakhul Akhyar, Surabaya; KH Said Agil Siroj (mantan ketua umum tanfidziyah); dan KH Ma'ruf Amin, mantan wakil presiden RI.

Secara teori, cara pemilihan seperti itu sangat bagus. Bisa menghindarkan politik uang. Tapi tidak sepenuhnya begitu. Belakangan ini syuriah di daerah-daerah dikumpulkan oleh kekuatan tertentu: diarahkan untuk memilih siapa. Lalu ditinggali amplop –yang penting isi amplop itu.

Bahkan dari rekaman pembicaraan telepon yang sampai ke saya terdengar ''mainnya'' agak kasar. Blangko pencalonan yang sudah diisi nama calon dibagikan. Untuk dimintakan tanda tangan. Lalu ada kesulitan: mereka tidak membawa stempel. Malam itu juga dibikinkan stempel.

Semuanya dibuat tiga rangkap. Rangkap yang akan diserahkan ke panitia sudah dikumpulkan di satu orang tim sukses.

Tentu yang seperti itu belum tentu bisa terlaksana di lapangan. Apa lagi kalau tiba-tiba ada serangan fajar yang peluru amplopnya lebih tebal.

Muktamar NU tinggal seminggu lagi. Para pemain dan broker sedang sibuk-sibuknya. Ini NU. Bukan Muhammadiyah. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 19 Agustus 2026: Prabowo Mahathir

Ima Lawaru

Di era ini, banyak orang Indonesia ingin jadi pengupas bawang. Kalau boleh usul, gatherig Disway ke 6, adakan lomba mengupas bawang ala perusuh. Yang menang dapat hadiah lungsuran dari Abah. Wkwkwk

Kalender Bagus

Saya ga ngerti mengapa Abah begitu yakin sejuta persen bahwa Haji Isam mengakuisisi mayoritas saham BR. Ntah dari mana sumber keyakinan ini. Padahal humas BR tak mengiyakan, walaupun tak jua menolak. Kalaupun beneran terjadi akuisisi itu, ga mungkin Haji Isam menggunakan penyertaan modal dari negara mirip dengan kasus Guthrie Plantation, pasti ribut seribut-ributnya. Skenario yang mungkin adalah ada invisible enterpreneur yang ikut urunan. Ntah itu siapa.

Achmad Faisol

pak mahfud pernah bilang bahwa pejabat tahu masalah yang ada... namun, mereka berpikir biar diselesaikan pejabat berikutnya... yang penting aman hingga akhir masa jabatan... dan, begitu pun penggantinya...

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

APA YANG SUDAH DAN AKAN DILAKUKAN SETELAH BAYAN DIAMBIL ALIH: POSISI SAAT INI Membeli 62 persen saham Bayan bukanlah garis finis. Itu baru pintu masuk. Setelah pengambilalihan, pertanyaan berikutnya sederhana: apa yang dilakukan pemilik baru? Apakah Bayan akan tetap menjadi perusahaan publik yang profesional? Apakah manajemennya dipertahankan? Apakah investasi tambang dilanjutkan? Bagaimana utang, dividen, belanja modal, dan ekspansi perusahaan? Ini penting karena pelajaran Guthrie bukan terletak pada siapa yang membeli. Tetapi apa yang terjadi sesudah dibeli. Mahathir tidak berhenti setelah memenangkan Dawn Raid. Aset itu dikelola. Dikembangkan. Kemudian tetap berhubungan dengan pasar modal. Maka posisi Bayan hari ini perlu dilihat dari angka. Harga saham. Kapitalisasi pasar. Produksi batu bara. Cadangan. Laba. Dividen. Belanja modal. Dan struktur utangnya. Dari situlah kita bisa menilai: pengambilalihan ini sekadar perpindahan kepemilikan, atau bagian dari strategi bisnis yang lebih besar? Sebab membeli perusahaan Rp300 triliun tentu hebat. Tetapi membuat perusahaan Rp300 triliun itu semakin bernilai, jauh lebih hebat.

Jokosp Sp

Kalau pertanyaannya : Menyamakan yang terjadi di Malaysia dengan yang terjadi sekarang ini di Indonesia dengan pembelian saham BAYAN oleh H.Isam (Group JB), ya jelas: lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di negara jiran benar-benar profesional dan dilakukan atas nama dan untuk negara. Sedang di sini mengatasnamakan perusahaan pribadi atas nama JB dari BAYAN. Kalaupun di belakangnya ada kekuatan penguasa saat ini, yang tercium sangat menyengat dan tidak bisa dielakkan itulah kebenaran bagi orang yang di luar pagar kekuasaan. Jadi keuntungan apa yang diperoleh dari pengalihan saham BAYAN ke JB?. Jelas JB dan kelompoknya yang membeli. Kalaupun nanti bau menyengat itu diketahui publik dan mereka yang dapat keuntungan jelas merekalah para pemainnya. Negaranya dapat apa?. "Tidak dapat apa-apa". Loh tambang itu milik negara kan?. "Teorinya mengatakan itu, bahkan UUD 45 di Pasal 33 Ayat 3 berbunyi : Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat". "Itu yang tertulis, prakteknya jelas menyimpang: untuk kepentingan kelompok, pribadi dan kekuasaan". Negara dan rakyat?. "Cuma melongo menyaksikan ketidak adilan".

Kalender Bagus

Saya tetanggaan sama Haji Isam. Beberapa orang di Tanbu banyak yang protes bahkan menghujatnya. Kebanyakan karena berdasarkan rumor. Terus saya katakan pada mereka, jauh lebih mending Haji Isam yang menguasai Batubara di sini. Kita masih lihat karyanya. Ada mesjid yang megah, jumat berkah yang rutin, buka dan sahur bersama, mendatangkan kiyai-kiyai terkenal, kampung jadi aman karena premannya sudah ditertibkan Blio, Batulicin Festival tiap penghujung tahun, dan banyak lagi karya lainnya. Bandingkan zaman sebelumnya, sebut saja namanya PT K*d*c*. Perusahaan kayu lapis ini hanya meninggalkan debu di atap rumah, jalanan rusak, dan CSR yang seuprit. Atau bandingkan dengan daerah lain yang batubaranya dikuasai oleh Konglo Jakarta atau Konglo Luar Negeri. Uang itu mengalir ke Jakarta atau ke luar negeri sana. Terus terang sebagai Anak Gen X Asli Tanbu, kondisi jaman Haji Isam sekarang jauh lebih baik ketimbang dekade 80-90an tempo hari, ketika PT itu berkuasa.

Taufik Hidayat

Saya agak kaget membaca judul artijel . Pertama begitu mudah menyamakan Mahathir dengan Prabowo? Mahathir adalah PM Malaysia yang setidaknya pernah disamakan denga trio LKY dan Suharto walau hasil akhir trio ini berbeda nasib. Prabowo baru mulai dan terseok seok dengan kehebohan yang sudah kita semua rasakan. Lalu yg paling menyedihkan adalah ada frasa menyatakan asli dan asing. Saya tidak tahu apakah Haji Isam Asli sementara LTK memang WN Singapura? Apakah ini nasionalisasi? Maafkan kalau saya salah. Masih ingat kisah sejarah zaman orde lama , nasionalisasi perusahaan Belanda yang akhirnya menyebabkan kehancuran ekonomi di ujung kekuasaan BK. Juga politik konfrontasi di Indonesia yang mengganyang Malaysia yang hampir bersamaan denga separasi Malaysia dab Singapura. Apa semuanya berkelindan .. !!!

WASITH channel

Tulisan hari ini akan lebih lengkap jika Abah tambahkan cerita bagaimana proses nasionalisasi PT Freeport Indonesia pada zaman wong Solo berkuasa. Bagaimana hasilnya? Juga dampaknya bagi ekonomi Indonesia sampai saat ini?

Jo Neka

NB.Tulisan hari ini hanya omon omon saja.Bukan kenyataan.

Jo Neka

Rakyat Borneo..bersuaralah.Percuma daerah anda kaya raya.Tetapi cuma dinikmati seGelintir orang.Saya tidak iri pada kekayaan segelintir orang itu.Saya hanya coba mengetuk nurani mereka..Buanglah remah² kekayaan anda demi sejahteranya Bumi yang engkau pijaki.Sesekali cobalah melihat antrean BBM.Sesekali cobalah melihat mobil logistik terperosok dalam kubangan jalan raya.Sesekali cobalah jenguk para pekerja sawit yang tidur di rumah papan.Di dalam hutan.Yang harga beras layak konsumsi 18.000/kg.Janganlah berhati batu.

Reza Meifia Fitra

Menurut keyakinan saya, secara kasat mata dan kaca mata bisnis oada umumnya, ini hanya aksi korporasi biasa. Tapi jika melihat gelagatnya, uget-ugetnya, dan cara mainnya... faktor intervensi dari penguasa saat ini sangat terasa. Saya sebagai pelaku UMKM, dalam keyakinan saya jika di posisi Datuk, pasti ogah lah melepas perusahaan yg sangat menguntungkan secara signifikan. Ngapain exit klo sy masih untung dan prospektusnya sangat menjanjikan. Secara 300T, harus di rincikan, apakah ini murni dana segar net invesment atau ada beberapa pengambilalihan hutang. Disisi lain, aksi ini sangat senyap, supaya market tidak terkejut dan melakukan aksi jual/beli secara serentak. Saya cukup berprasangka baik saja bahwa ini murni aksi korporasi. Buruk sangka nya saya pendam sendiri aja, hehehehe

Beny Arifin

Harga saham BYAN sendiri di bursa bisa dibilang "semu". Bid offer nya tipis tipis yang berarti sangat mudah untuk dinaikkan dan diturunkan. Dua hari ini naik sampai 43%, tapi nilai transaksi tidak terlalu tinggi, hanya ratusan milyar rupiah. Sama sekali tidak mencerminkan 300T yang ditulis pak DI.

Tivibox

Sudah dua kali CHDI menulis tentang akuisisi 62 % saham Bayan Resources oleh Haji Isam. Pada edisi CHDI "Datuk Merdeka" bahkan diyakini itu terjadi berdasarkan informasi sumber terpercaya Disway. Lengkap dengan foto Datuk Low dan Haji Isam didampingi 2 anak muda. Di lain pihak, sumber berita resmi, media-media besar lainnya memberitakan itu baru rumor dengan mengutip keterangan Corporate Secretary Bayan Resources yang mengatakan pihak perusahaan belum mengetahui rencana akuisisi itu. Yang mana sebenarnya yang mendekati kebenarannya ? Pasti informan CHDI juga bukan kaleng-kaleng. Sampai keluar 2 edisi tentang itu.

hoki wjy

Jika dibeli dg harga 99.Triliun ( saya heran kenapa 99.triliun harus ditulis 90.Ton?} tdk masuk akal kalau LTK mau mejual 99 trilun itu terlalu murah berati perlembar sahamnya hanya dihargai Rp 4.771/per lbr sedangkan saat ini harga saham BYAN ada di Rp 16.725 sedangkan LTK memilikki 20.750.7550570 lbr saham itu setara Rp 347 Triliun.

Juve Zhang

Umur perusahaan perkebunan bisa ratusan tahun karena berkesinambungan...beda sama perusahaan tambang ada batas nya ada istilah nya cadangan batubara terbukti....jadi beli Guthrie sama beli BYAN sangat beda....pun beda uangnya Guthrie dibeli dengan uang negara sedang BYAN murni swasta....dalam membeli BYAN tentu pembeli sudah hitung berapa umur tambang ini sisa hidupnya....berapa bunga pinjaman yg harus dibayar untuk beli BYAN ada bunga kredit yg sangat tinggi jika pun dipake uang modal PT Jhonlin punya pak haji gak cukup level nya masih kecil....jadi minjam ke Bank harus hitung Beaya bunga pinjaman yg sangat mahal di Indonesia sekarang ini....jadi harus juga dihitung hutang dan obligasi BYAN jadi tanggung jawab pembeli baru....jelas kalau di beli 300 Ton sesuai keyakinan Don Dahlan Iskan gak masuk secara hitungan keuangan....kalau harga 99 Ton masih masuk akal...dengan catatan itu dia bunga bank di Indonesia sangat tinggi akan memakan Beaya sangat tinggi.......nah bunga pinjaman tinggi ini merepotkan hitungan siapapun pembeli nya....kalau ada bunga murah anda harus minjam ke New Development Bank di Shanghai....itu milik BRICS....sangat murah bunganya....cuma apakah swasta bisa minjam jelas gak bisa kecuali negara yg minjam ke NDB....baru dari negara di pake oleh swasta....rumit juga ya muter muter...yg jelas segi pendanaan ini bagian terumit dari transaksi ini....entah bagi yg banyak duit nganggur.... mungkin gak seribet hitungan ahli keuangan....tinggal bawa koper selesai.

Muh Nursalim

Haji isam. Jadi haji terkaya se indonesia. Ini kemajuan dan prabowo paham. Menjadi modal sosial calonan berikutnya. " Nah tu. Hanya d eraku haji bisa jd kaya raya".

hoki wjy

Menyamakan Prabowo dg Mahathir sangatlah jauh ibarat langit dan sumur .. umpama pak DI adalah Presiden lalu disuruh membaca text kpd rakyat Indonesia bahwa Susana pengupas bawang dengan bayaran Rp 700.000 per kg apakah Pak DI mau membacakannya? Begitu juga ketika Presiden berteriak teriak sudah membangun 3.395 jembatan apa mau langsung percaya? jika Presiden baru berkuasa selama 720.hari berarti dalam sehari ada 4,7 jembatan yg telah dibangun masuk akalkah itu? jika Mahathir mengambil yg diambil itu adalah perusahaan Inggris tentu beda jauh dg Presiden yg dicaplok adalah perusahaan anak Indonesia sendiri lain ceritanya jika Presiden berani mengambil tambang emas Freport milik Amerika yg ijinnya malah diperpanjang sampai Th 2061.

COMET 01

Kalo aja model serangan fajar negeri jiran itu dipake pemerintah di konoha buat beli saham jaringan ritel nasional yg warna kuning atau merah itu. Kemudian setelah nasionalisasi tinggal tambah label kopdes merah putih. Kemudian produk2 ukm boleh isi sebanyak2nya. Tentu yg penuhi standar kwalitas. Sukses cepat dalam semalem, kopdes langsung jelas beri manfaat bukan kontroversi kyk sekarang.

Jhel_ng

Program "prioritas super penting" terbukti ada korupsi, terbukti ada jual beli titik, terbukti ada penerima manfaat ganda, terbukti ada markup bahan baku. Padahal bulan Mei, sebelum Bunda Kesayangan Anda semua menjadi Kepala Badan, dia sesumbar, "kalau ada korupsi mana pelakunya kok belum ditangkap?" Begitulah. Setelah terbukti, kita paham betapa ini program penuh pemborosan. Setelah dihemat, ternyata negara bisa berpikir lebih jernih: tentang kekurangan guru, tentang guru PPPK, tentang rekrutmen ASN. Baru tadi malam ada pres rilisnya. Coba bayangkan seandainya urusan makanan itu dikembalikan ke mekanisme ekonomi murni: pekerjaan tersedia, kesejahteraan dari upah meningkat, gizi anak terpenuhi di rumah, berapa banyak kebijakan urgent yang bisa diselesaikan? Coba dipikirkan.

hoki wjy

Surat Corparate Secreatary PT.Byan.. Tgl 18-8-2026 kepada BEI mengatakan perseroan tidak mengetahui adanya rencana akuisisi perseroan oleh Jhonlin Group termasuk Haji Isam membeli 62.2% saham BYAN. jika kelak ternyata benar Haji Isam benar telah membeli saham BYAN 62.2% maka Corparate Secreatary BYAN yg mengatakan tdk mengetahuinya apakah masuk akal tdk mengetahuinya?berarti menyampaikan surat yg tidak benar kpd BEI?

Jo Neka

Bapak Presiden.Tolong perhatikan warga kelas bawah.Terutama pegawai P3K Paruh Waktu.Gaji 1.500.000/bln.Sangat tidak cukup.Lebih tepatnya tidak manusiawi.Gaji setara 100kg beras.Beras yang paling murah.

Irary Sadar

Saya jadi bertanya-tanya darimana datangnya ide Abah yang menilai bahwa apa yang dilakukan Mahathir sama dengan apa yang dilakukan Prabowo sekarang. Apalagi judulnya Prabowo Mahatir. Seperti 2 kembaran saja. Menurut saya, yang dilakukan Malaysia adalah pengabilalihan lahan perkebunan yang strategis. Lahan plantation yang bisa dikembangkan terus menerus. Pun juga dilakukan oleh seorang Gubernur Bank Sentral serta CEO BUMN. Tentunya langkah ini dilakukan atas nama Negara. Yang di BAYN, transaksi itu dilakukan oleh pengusaha ke pengusaha atas nama pribadi. Tidak ada jabatan yang melekat pada sang pembeli yang bisa mengatasnamakan negara. Dan lagi perusahaan Batubara bukan perusahaan yang bisa tumbuh. Ianya perusahaan yang akan habis masa pakainya. Jadi beda kelas apa yang terjadi di Malaysia pada 1981 dengan yang terjadi di Prabowo saat ini. Jauh... Beberapa tulisan Abah sekarang sedang banyak memuji tuan besar itu. Ada apa ya? Hanya Abah yang tahu...

Juve Zhang

@Hoky .....harga deal 99 Triliun untuk beli BYAN sudah sangat bagus ....sudah hampir 3 kali lebih harga buku nya....di industri tambang batubara harga ITMG sekarang cuma 0,9 harga buku....Adaro sekitar 1,2 harga buku....jadi BYAN dibeli 3 kali lebih harga buku sudah harga tinggi sekali....toh hutang BYAN juga di beli oleh pak haji semua tanggung jawab bayar hutang entah ke Bank atau Obligasi ya menjadi tanggung jawab pembeli....saya kira pak Haji dan Datuk sudah Deal terbaik di harga 99 Triliun....yg hebat justru pendanaan pembelian ini serbaguna gelap....biasanya kalau di LN dibuka skema pendanaan nya bagaimana....ini sepertinya ditutup rapat-rapat....sampai harga jual pun beda beda sumber Don Dahlan Iskan bilang harga jual 300 triliun sumber berita online bilang harga jual 99 Triliun....kalau menghitung secara ilmu ekonomi rasanya harga Rp 99 Triliun memungkinkan bagi keduanya Deal .....kalau harga Rp 300 triliun rasanya itu mirip beli Avanza dengan Harga Ferari.....gak masuk akal.... kemahalan....soal harga saham agak repot BYAN ini saham beredar sedikit sekali sulit kalau dinilai mencerminkan harga murni pasar....harga Gorengan julukan yg lebih cocok.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

IKUTAN PAK LIAM, NGITUNG ORANG LAIN: 62% SAHAM BYAN ITU RP99 TRILIUN ATAU RP300 TRILIUN? Saya cek dulu angka dasarnya. Pak Low Tuck Kwong bukan pemilik 62% BYAN. Per 31 Maret 2026, Low memegang 40,22%. Putrinya Elaine 22%. Jadi angka 62,22% adalah gabungan blok keluarga pak Low. Dengan 33,33 miliar saham, nilai 62,22% pada harga Rp16.725 maka nilai saham tersebut adalah sekitar Rp347 triliun. Jadi angka Rp300 triliun masih masuk wilayah valuasi pasar. Apalagi Rp99 triliun. Karena itu berarti hanya sekitar Rp4.770 per saham. Diskonnya luar biasa. Tetapi ini poin terpenting: Sampai sekarang saya belum menemukan keterbukaan resmi yang membuktikan transaksi Rp99 triliun maupun Rp300 triliun. Jadi keduanya belum layak disebut harga deal final. Apakah Rp99 triliun “masuk akal”? Bisa saja. Tapi bukan berarti benar. Soal utang, BYAN per Juni 2026 punya total liabilitas US$1,196 miliar. Namun hampir seluruhnya bukan pinjaman bank. Bank loan tercatat nol. Apakah pak Low “rela” dengan transaksi ini? Belum ada bukti unsur paksaan. Pertanyaan paling menariknyanjustru: Siapa membeli saham siapa, berapa sahamnya, dan uangnya datang dari mana? Di situlah cerita sebenarnya. Yang mungkin atau pasti udah jelas. ### Sayalah yang belum tau Belum jelas.. He he..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LANJUTAN KOMENTAR SEBELUMNYA: UTANG BYAN DAN LIKA LIKUNYA.. (Bagian 2) Per 30 Juni 2026, total liabilitas BYAN US$1,196 miliar. Dengan kurs sekitar Rp16.500, kira-kira Rp19,7 triliun. Tetapi ini bukan berarti BYAN punya utang Rp19,7 triliun kepada bank. Pinjaman banknya justru nol. Lalu utangnya apa? 1) Terbesar adalah utang dividen US$500 juta, sekitar Rp8,25 triliun. Ini kewajiban membayar dividen yang sudah ditetapkan. Bukan kredit bank. 2) Ada utang usaha sekitar US$235 juta atau Rp3,9 triliun. Ini tagihan pemasok dan pihak terkait. 3) Ada akrual sekitar US$147 juta. 4) Ada utang pajak sekitar US$58 juta. 5) Sisanya antara lain kewajiban pajak tangguhan, imbalan kerja, serta kewajiban reklamasi dan restorasi tambang. Jadi istilah yang lebih tepat: liabilitas, bukan utang bank. Ini penting dalam menghitung harga akuisisi. Kalau pak Haji Isam membeli saham BYAN, bukan berarti otomatis harus menyediakan Rp19,7 triliun untuk melunasi semuanya hari itu juga. Karena sebagian besar adalah kewajiban operasional yang memang berjalan bersama bisnis. Nah, di sinilah hitungan Rp99 triliun versus Rp300 triliun menjadi menarik. Anda tertarik?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LANJUTAN KOMENTAR: DI SINILAH MENARIKNYA RP99 TRILIUN VS RP300 TRILIUN.. (Bagian 3). Menariknya justru di selisihnya. Bisa Rp201 triliun. Yaitu selisih angka 300 vs 99. Bukan selisih uang receh. Kalau yang dibeli benar 62,25% saham BYAN, nilai berdasarkan harga bursa sekitar Rp347 triliun. Tetapi angka 62% itu bukan saham Low seorang diri. Low tercatat 40,25%. Elaine Low 22%. Jadi sekitar 62% adalah gabungan keluarga Low. Rumor yang beredar sekarang menyebut nilai transaksi sekitar US$5,5 miliar. Dengan kurs Rp16.500, sekitar Rp90,75 triliun. Ini dekat dengan angka Rp99 triliun. Perbedaan hanya masalah asumsi kurs. Nah, kalau benar Rp99 triliun, pembeli mendapat aset bisnis yang nilai pasarnya jauh lebih tinggi. Tapi kalau benar Rp300 triliun, ceritanya berubah total. Harga belinya mendekati nilai pasar 62% saham. Itulah menariknya. Bukan sekadar: Haji Isam membeli murah atau mahal. Pertanyaan besarnya: Apa sebenarnya yang dibayar? 1) Sahamnya? 2) Pengendaliannya? 3) Aset tambangnya? 4) Atau ada struktur transaksi lain yang belum dibuka? Sebelum dokumen resminya keluar, angka Rp99 triliun maupun Rp300 triliun masih harus dianggap sebagai angka yang beredar. Bukan angka final. Dan pasar memang paling suka cerita yang belum selesai. Anda juga kan?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 54

  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Mbah Mars
    Mbah Mars
    • Mbah Mars
      Mbah Mars
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • mohammad aris
    mohammad aris
  • Jhel_ng
    Jhel_ng
  • Muhammed Khurmen
    Muhammed Khurmen
  • Leong Putu
    Leong Putu
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Gerring Obama
    Gerring Obama
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • abi nadine
    abi nadine
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • hilman g
    hilman g
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Liam Then
      Liam Then
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • DeniK
    DeniK
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • alasroban
    alasroban
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Sugi
    Sugi
  • alasroban
    alasroban
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Muhammed Khurmen
      Muhammed Khurmen
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman