Sementara itu, tim medis dari Klinik Mu Ende dan Klinik Universitas Muhammadiyah Kupang telah berada di Mbay untuk memberikan layanan kepada masyarakat terdampak.
Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) Peduli NTT bersama Rumah Amal Salman juga telah tiba di Labuan Bajo dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Barat untuk melanjutkan perjalanan menuju Ruteng.
Tim tersebut selanjutnya menargetkan penyaluran bantuan ke wilayah Reok yang terdampak gempa.
Kemdiktisaintek mengapresiasi respons perguruan tinggi yang bergerak tidak hanya untuk memastikan keselamatan sivitas akademika, tetapi juga mengambil bagian dalam membantu masyarakat di wilayah terdampak.
Dalam kondisi tertentu, sejumlah akses menuju wilayah terdampak masih sulit dijangkau sehingga koordinasi dan penyaluran bantuan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan.
Selain respons tanggap darurat, perhatian juga diberikan kepada mahasiswa yang sedang menjalankan aktivitas akademik di wilayah terdampak.
BACA JUGA:ASN Pemprov DKI Kirim Bantuan Kemanusian untuk Korban Gempa NTT Rp3,8 Miliar
Kondisi Mahasiswa
Sebanyak 61 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang berada di Kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur dilaporkan selamat dan telah dievakuasi bersama warga ke wilayah yang lebih aman.
Perhatian juga diberikan kepada mahasiswa peserta KKN Tematik GENTASKIN Tahun 2026.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh sivitas akademika dan menjaga agar penanganan berlangsung cepat serta terkoordinasi,” tegas Menteri Brian.
Dalam aspek keberlanjutan pembelajaran, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk menerapkan fleksibilitas akademik bagi mahasiswa yang terdampak langsung maupun tidak langsung oleh bencana.
Keselamatan mahasiswa dan tenaga pendidik harus menjadi pertimbangan utama sebelum kegiatan pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan di wilayah yang fasilitasnya belum dinyatakan aman.
BACA JUGA:Penampakan Pengungsi Gempa M7.7 NTT, Warga Tidur Beralas Seadanya
Perguruan tinggi dapat menerapkan pembelajaran jarak jauh atau metode pembelajaran alternatif apabila kondisi jaringan dan infrastruktur memungkinkan, melakukan penyesuaian jadwal, serta menunda kegiatan akademik yang mengharuskan mahasiswa berada di lokasi yang belum aman.
Penyesuaian juga dapat diberikan terhadap perkuliahan, praktikum, ujian, tugas akhir, penelitian, maupun kegiatan akademik lainnya agar mahasiswa tidak dirugikan akibat kondisi kedaruratan.