JAKARTA, DISWAY.ID - Ada satu interpretasi yang sering muncul setiap kali pasar bergerak: "Asing jual, makanya pasar turun."
Banyak investor ritel memperlakukan arah dana asing, atau net foreign buy/sell, seperti lampu lalu lintas. Hijau jika asing beli, merah jika asing jual. Suatu anggapan yang sederhana dan mudah diingat, namun berpotensi menyesatkan.
Permasalahannya, kebanyakan orang menganggap pergerakan harga saham sebagai akibat dari aksi jual atau beli asing, seolah asinglah yang menyetir pasar.
Padahal keduanya tidak selalu memiliki hubungan sebab-akibat, melainkan perlu dibaca berdampingan. Ada empat skenario yang bisa terjadi ketika arah harga dibaca berdampingan dengan arah dana asing.
--
Dalam matriks di atas, dapat dilihat dua kuadran berada pada satu garis lurus, di mana harga dan dana asing bergerak searah, yaitu Kuadran 1 saat keduanya naik dan Kuadran 3 saat keduanya turun. Ini merupakan skenario yang membuat banyak investor menyimpulkan bahwa ketika terjadi net sell asing, maka pasar pasti turun.
BACA JUGA:Menguat di Penutupan, IHSG Akhiri Perdagangan di Level 6.463
Dua kuadran lainnya, Kuadran 4 dan Kuadran 2, adalah kondisi divergensi, yaitu ketika arah harga dan dana asing berlawanan. Di sinilah asumsi selalu searah runtuh.
Apa arti setiap kuadran bagi investor? Pada Kuadran 1, tren naik ditopang aliran dana masuk asing. Yang perlu diwaspadai adalah euforia di tahap akhir, karena asing kerap baru masuk setelah harga sudah tinggi.
Kuadran 3 paling perlu diperhatikan, karena jika jual asing dibarengi pelemahan rupiah, maka tekanan jualnya cenderung nyata dan berkelanjutan.
Pada Kuadran 2, pertanyaan utamanya adalah siapa yang menyerap. Selama permintaan domestik cukup kuat, aksi jual asing tidak otomatis menjadi sinyal untuk ikut keluar.
Kuadran 4 bisa menjadi petunjuk awal asing mulai masuk saat harga murah, meski belum tentu menjadi sinyal rebound yang andal. Intinya, keputusan investor tidak dapat ditentukan oleh satu variabel saja, melainkan oleh gabungan sinyal dan profil risiko masing-masing.
Secara keseluruhan, 2026 bukan tahun yang mudah. Tekanan jual asing sangat besar dan IHSG terkoreksi cukup dalam di paruh pertama tahun ini, kurang lebih seperti yang digambarkan oleh Kuadran 3 pada matriks di atas.
Namun, yang menarik adalah periode tertentu, ketika asing tetap menjual namun IHSG justru bergerak naik. Contohnya pada pekan 20 sampai 24 Juli 2026.
Investor asing membukukan jual bersih sekitar Rp3,38 triliun, tetapi IHSG justru menguat 0,34% ke level 6.196. Menurut logika lampu lalu lintas, hal ini mustahil.