Jaga Udara Jakarta Tetap Sehat, DKI Operasikan Water Mist 8 Jam Sehari

Senin 24-08-2026,12:10 WIB
Reporter : Cahyono
Editor : Tri Broto

Memasuki puncak musim kemarau 2026, Wibi mengatakan kombinasi pemantauan, intervensi cepat, pengendalian sumber pencemar, dan keterlibatan masyarakat diperlukan untuk menjaga kualitas udara Jakarta tetap lebih baik bagi warga.

Agustus 2026 Puncak Musim Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September.

Agustus diperkirakan menjadi bulan dengan wilayah terdampak musim kemarau paling luas.

BACA JUGA:Update Mutilasi di Depok, 2 Potong Betis Korban Ditemukan Radius 3 Kilometer dari Lokasi Pembunuhan

Pada awal Agustus, sebanyak 535 Zona Musim atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Pada Dasarian I Agustus, curah hujan di 90,79 persen wilayah Indonesia berada dalam kategori rendah.

Sebanyak 87,28 persen wilayah juga mengalami sifat hujan di bawah normal.

DKI Jakarta termasuk wilayah yang mengalami musim kemarau.

Kondisi kering membuat risiko penurunan kualitas udara meningkat karena berkurangnya hujan mengurangi proses pencucian polutan di atmosfer.

BMKG pada akhir Juli 2026 juga menyatakan El Nino telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat.

BACA JUGA:Protes Warga Manggarai Dicap Kampung Tawuran: Itu Bukit Duri, Jangan Sampai Kami Susah Dapat Kerja!

Fenomena ini berpeluang memperkuat kondisi kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama di sejumlah wilayah.

Dalam kondisi atmosfer kering, partikulat dan polutan lebih sulit tercuci oleh hujan.

Konsentrasinya dapat meningkat ketika kondisi atmosfer dan pola angin mendukung.

Ketua Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA Institut Pertanian Bogor, Ana Turyanti, menilai penguatan sistem peringatan dini kualitas udara yang disiapkan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta penting dilakukan.

Kategori :