Informasi kualitas udara, kata dia, dapat ditampilkan di lokasi-lokasi strategis yang banyak dikunjungi masyarakat.
BACA JUGA:Perjalanan KRL Jakarta-Bogor Tertahan Imbas Tawuran di Manggarai, Begini Kondisi Terkini
"Dengan begitu, awareness masyarakat terhadap kondisi kualitas udara dapat meningkat," kata dia.
Menurut Ana, kualitas udara Jakarta cenderung menurun saat musim kemarau.
Kondisi itu tidak hanya dipengaruhi sumber emisi, tetapi juga cuaca dan musim yang menentukan penyebaran serta pencucian polutan di atmosfer.
Berkurangnya hujan membuat proses pencucian polutan semakin minim.
Kondisi ini diperkuat fenomena El Nino pada periode Juni hingga pertengahan Agustus 2026.
BACA JUGA:Pramono Usul Rusun Jakarta Terintegrasi, Dilengkapi Sekolah hingga Pasar
Rata-rata lima wilayah Jakarta mengalami sekitar 44 hari tanpa hujan berturut-turut.
Di sejumlah lokasi, periode tanpa hujan bahkan mencapai 55 hari.
Pada musim kemarau, kata Ana, angin dominan bertiup dari timur dan tenggara Jakarta.
Pola angin ini berpotensi membawa polutan dari wilayah sekitar ke Jakarta.
Karena itu, persoalan kualitas udara tidak sepenuhnya dapat dilihat berdasarkan batas administrasi.
BACA JUGA:Pelajar Tewas Kecelakaan, Pramono Segera Bereskan Pasar Tumpah di Kramat Jati
"Potensi pencemaran udara lintas batas administrasi semakin kuat dengan adanya pola angin tersebut, yaitu angin muson tenggara," ujar dia.
Ana juga meminta pemerintah memperketat pengendalian sumber polusi dari aktivitas masyarakat, termasuk pembakaran sampah secara terbuka.