JAKARTA, DISWAY.ID - Tak perlu menunggu titik api muncul untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) kini dikembangkan untuk membaca potensi dan tingkat risiko Karhutla hingga 24 bulan ke depan, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan lebih awal.
Pengusaha sekaligus pengembang teknologi asal Kalimantan Barat, Hajon Mahdy, melalui Hotama Technologies, menghibahkan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan untuk membantu memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 24 bulan ke depan.
Teknologi tersebut dihibahkan secara gratis untuk mendukung upaya pencegahan dan mitigasi Karhutla, khususnya di Kalimantan Barat.
BACA JUGA:Pramono Manfaatkan Teknologi AI untuk Tangani Banjir Jakarta, Begini Cara Kerja Sistemnya
Sistem yang dikembangkan Hotama Technologies menggunakan pendekatan predictive analytics berbasis AI, dengan mengolah berbagai variabel dan data terkait untuk menghasilkan pemetaan tingkat risiko Karhutla pada suatu wilayah dalam periode tertentu.
Kemampuan proyeksi hingga 24 bulan tersebut tidak dimaksudkan untuk menentukan secara absolut kapan dan di mana kebakaran akan terjadi, tetapi menghasilkan indikasi probabilitas dan tingkat risiko yang dapat menjadi dasar pendukung pengambilan keputusan serta diperbarui seiring masuknya data terbaru.
“Selama ini teknologi banyak digunakan ketika titik api sudah muncul. Kami ingin mendorong pendekatan yang lebih preventif. Dengan data yang cukup, AI dapat membantu membaca pola dan memberikan gambaran risiko jauh lebih awal, sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan mitigasi,” ujar Hajon.
BACA JUGA:Yandex Bidik Industri Telekomunikasi Indonesia Lewat Teknologi AI Generatif Terbaru
Diperkenalkan dalam Forum Lintas Instansi di Kalimantan Barat
Inisiatif tersebut telah diperkenalkan dalam diskusi strategis penanganan Karhutla di Kalimantan Barat yang diinisiasi PMI Kalimantan Barat, sebagaimana diberitakan Pontianak Post pada 26 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut membahas potensi Karhutla, pemetaan wilayah berisiko, kondisi gambut, serta prioritas mitigasi dengan dukungan sistem informasi.
Forum tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya PMI Kalimantan Barat, Balai Pengelola Ekosistem Gambut dan Mangrove KLH, Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Kementerian PU, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Bank Indonesia, serta Bank Kalbar.
BACA JUGA:Spesifikasi Samsung Galaxy A57 5G, Foto dan Video Kamu Dijamin Lebih Jernih Pakai Teknologi AI
Dalam forum tersebut, Hajon memperkenalkan sekaligus menyampaikan komitmen untuk menghibahkan teknologi sistem informasi dan AI yang dikembangkan Hotama Technologies untuk membantu penanganan Karhutla di Kalimantan Barat.
Pembahasan lintas instansi menjadi penting karena kemampuan sistem prediksi sangat bergantung pada integrasi berbagai sumber data. Semakin lengkap dan berkualitas data yang tersedia, semakin besar peluang model menghasilkan pemetaan risiko yang dapat digunakan sebagai pendukung mitigasi di lapangan.