“Kita harganya Rp1,5 juta yang kejual. Terus yang satu lagi, yang jenis Bubo sumatranus Rp5 juta,” ujar Jisung.
Bagi sebagian pengunjung, Flona bukan semata tempat untuk berburu tanaman atau satwa.
Pameran ini juga menjadi ruang belajar bagi anak-anak.
Riyanto (35), misalnya, datang bersama istri dan anaknya untuk menghabiskan akhir pekan.
Ia menilai Flona memberikan pilihan rekreasi yang sekaligus memperkenalkan anak pada flora dan fauna.
BACA JUGA:Fin Strike Digelar Jadi Ajang Silaturahmi Wartawan Jabodetabek
“Bagus acaranya. Anak-anak bisa belajar juga soal flora dan fauna. Jadi wisata edukasi juga,” ujarnya.
Selain pameran dan bazar, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari aktivitas komunitas, lokakarya, *school visit*, Edu Eco Tour, lomba kicau burung, hingga olahraga bersama.
Pembukaan Flona 2026 di Lapangan Banteng juga dikemas melalui konsep “Blooming Jakarta”.
Konsep ini menggambarkan Jakarta sebagai kota yang terus tumbuh dan bertransformasi menuju kota global, tetapi tetap membawa akar budaya dan kekayaan Nusantara.
Suasana pembukaan semakin meriah dengan pertunjukan angklung Harmoni Sekar Setaman, tari kolosal yang melibatkan 90 penari, serta penampilan grup band rock legendaris SLANK.
BACA JUGA:Jadwal Layanan SIM Keliling di Jakarta Hari Ini 30 Agustus 2026, Buka Setengah Hari
Kekayaan Flona Nusantara
Pemprov DKI Jakarta menempatkan Flona 2026 bukan hanya ajang pameran tanaman dan satwa, tetapi juga sebagai ruang edukasi lingkungan dan rekreasi warga.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak mengenal kekayaan flora dan fauna Nusantara sekaligus memahami pentingnya menjaga ruang hijau dan keanekaragaman hayati di Jakarta.
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Afan Adriansyah Idris mengatakan, konsep tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Flona tahun ini.