BOGOR, DISWAY.ID-- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor membuka opsi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kekeringan yang semakin panjang.
Namun, upaya itu belum bisa maksimal karena dalam beberapa hari terakhir minim awan yang berpotensi dijadikan hujan.
Hal itu disampaikan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Menurutnya, modifikasi cuaca sebenarnya telah dilakukan di wilayah udara Jabodetabek oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
BACA JUGA:Hari Pelanggan Nasional Diperingati 4 September 2026, Intip Tema dan Sejarahnya
Akan tetapi, hasilnya belum maksimal karena awan yang tersedia tidak cukup mendukung.
“BNPB dari kemarin melakukan beberapa modifikasi cuaca di wilayah udara Jabodetabek. Tetapi tidak banyak potensi-potensi awan yang bisa dijadikan hujan,” ujar Rudy kepada wartawan, Kamis, 3 September 2026.
Menurutnya, Pemkab Bogor masih terus memantau kondisi cuaca. Jika ditemukan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan modifikasi, langkah tersebut akan diupayakan untuk membantu mengatasi kekeringan.
“Kita sudah mengalami kekeringan lebih dari sebulan, bahkan kita menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan sebelum masuk puncaknya, kemudian kita perpanjang status tanggap tersebut sampai 15 September 2026 nanti,” jelasnya.
Penanganan dilakukan dengan distribusi air bersih setiap hari oleh BPBD, Damkar, dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
BACA JUGA:Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia di Asia Pasifik: Sahabat Terpercaya!
Pemkab Bogor juga menyiapkan toren di sejumlah desa sebagai tempat penampungan air.
Selain itu, Pemkab Bogor menginventarisasi sumber mata air yang belum dikelola optimal untuk dibuatkan penampungan dan didistribusikan kepada masyarakat di wilayah sekitar.
Rudy menyebut persoalan kekeringan berpotensi berlangsung lebih panjang. Prediksi puncak musim kemarau yang sebelumnya diperkirakan terjadi September kini berpotensi bergeser hingga Oktober.
“Kita terus berupaya dan berikhtiar bersama-sama menghadapi musim kemarau yang cukup panjang,” pungkasnya.