Saya tersenyum kecil ketika membaca berita mirip meningkatnya produksi pangan ini: "Peserta Gema Selawat Nabi Mencapai 115 Persen dari Target".
Rupanya membaca selawat pun ada targetnya.
Di peringatan Maulid Nabi Muhammad sekarang ini targetnya 1,8 juta orang. Ternyata tercapai 2,04 juta orang.
Rupanya Kementerian Agama kini punya program menggalakkan selawat. Nama pogramnya: Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan.
Gerakan tersebut diluncurkan Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar 26 Agustus lalu. Temanya: Berselawat untuk Negeri, Meneladani Sirah Nabi.
--
Selawat diharapkan sebagai upaya rohaniah untuk ikut mengatasi berbagai musibah di samping usaha ilmiah dan fisik.
Jenis selawat yang diandalkan Menag adalah Dalā’il al-Khayrāt. Dimulainya 31 Agustus 2026. Berakhir tanggal 7 September 2026 –tepat di peringatan Maulid Nabi Muhammad.
Selawat adalah doa, pujian, dan penghormatan untuk Nabi Muhammad. Selawat biasa dilantunkan di bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi: tanggal 12 Maulid –bertepatan dengan tanggal 7 September 2026. Anda pasti ingat tanggal tersebut: tanggal merah –hari libur.
Di desa-desa pada tanggal tersebut sangat ramai dengan berbagai acara. Saya tidak akan lupa: waktu kecil ada makan-makan bersama di masjid –kenduri. Tiap rumah membawa sejenis tumpeng ke masjid. Terkumpul sekitar 20 ambeng –seperti tumpeng tapi nasinya tidak dibentuk seperti kerucut. Lalu dimakan bersama.
Sebelum makan, ada pembacaan selawat --dipimpin oleh imam masjid. Pada bagian akhir selawat semua berdiri: melantunkan 'asrakal' dengan semangat. Bagi anak-anak semangat itu muncul karena setelah ''asrakal'' berarti saat makan segera tiba.
Di masjid kami jenis selawat yang dibaca adalah Barzanji. Buku Barzanji ditulis oleh Ja'far al-Barzanji, ulama Kurdistan yang pernah menjadi mufti di Madinah. Barzanji meninggal dunia tahun 1764.
Kami, waktu itu, tidak mengenal selawat jenis Dala'il. Saya baru tahu Dala'il setelah masuk pesantren. Ternyata selawat Dala'il juga sangat populer. Bahkan dipercaya lebih membawa 'khasiat': berkah dari Nabi.
Untuk membaca Dala'il pun ada 'protokol'-nya. Satu buku Dala'il terbagi menjadi tujuh bagian --untuk dibaca selama tujuh hari, satu bagian satu hari. Tebalnya Dala'il sekitar 120 halaman, tergantung besar kecilnya huruf yang dipakai.
Berarti pada hari ketujuh tamatlah itu pembacaan Dala'il. Setelah itu Anda bisa mendapat ijazah. Siapa yang memberi ijazah? Banyak kiai yang dipercaya untuk memberi ijazah Dala'il. Salah satu yang paling ''laris' adalah KH Badhawi Basir dari Kudus. Nama pesantrennya: Darul Falah.
"Kapan bermalam di sini lagi?" tanya Kiai Basir saat saya telepon kemarin.
Saya memang pernah bermalam di pesantren Darul Falah ketika menjabat sesuatu dulu. Waktu itu pun Kiai Basir sudah 'berpraktik' memberi ijazah Dala'il. Sudah ribuan.
Praktik memberi ijazah Dala'il itu sudah dilakukan di Darul Falah sejak kakeknya dulu: juga seorang kiai. Dilanjutkan oleh bapaknya: juga kiai. Lalu 'diwariskan' ke kiai Basir.
Seorang kiai tidak dipercaya bisa memberikan ijazah kalau tidak pernah ''dibai'at'' sebagai pemberi ijazah oleh kiai pemberi ijazah sebelumnya.
Ijazah 'Dala'il' bertingkat-tingkat. Ada yang sekadar setelah pembacaan selawat Dala'il selama tujuh hari. Ada yang sebelum itu harus puasa dulu sekian hari. Ada yang puasanya sampai 40 hari. Bahkan ada ijazah Dala'il yang baru diberikan kalau Anda sudah berpuasa selama tiga tahun.
Dulu Gus Basir menjalani semua protokol yang terberat itu. Lalu jadilah ia kiai. Kemudian diberi wewenang untuk memberi ijazah.
Kata ''ijazah' sudah dikenal berabad-abad lalu di dunia sufi Islam. Lalu diadopsi oleh sistem pendidikan modern dengan nama ijazah --sebagai tanda telah tamat sekolah.
Salah satu yang mendapat ijazah Dala'il dari Kiai Basir adalah Imam Jazuli. Bukan sembarang ijazah. Imam Jazuli dapat jazah setelah menamatkan bacaan Dala'il yang didahului tirakat dan puasa selama tiga tahun. Sekarang Imam Jazuli menjadi kiai terkenal di Cirebon. Pesantrennya, BIMA, sangat terkenal. Alumni pesantren BIMA 100 persen diterima kuliah di luar negeri: Mesir, Maroko, Jerman dan kini Tiongkok. Di forum debat santri dalam bahasa Mandarin yang dilaksanakan Disway Ahad lalu BIMA mengirim 30 santri.
Belakangan Kiai Imam Jazuli juga sudah dipercaya memberikan ijazah Dala'il bagi siapa saja. Yakni yang sudah menjalankan protokol Dala'il. Sistemnya sudah sangat modern. Anda bisa mendaftar lewat aplikasi.
Terakhir pemberian ijazah Dala'il dilakukan Imam Jazuli dalam satu acara besar di hotel bintang empat di Cirebon: ribuan orang.
Sejak kecil Kiai Jazuli memang diinginkan jadi kiai. Ayahnya selalu menekankan untuk sering-sering membaca Dala'il lengkap dengan seluruh protokol terberatnya: termasuk puasa selama tiga tahun. Ia pernah tergoda mendalami ilmu kesaktian di Banten tapi ayahnya melarang diteruskan. "Saya khawatir kamu nanti jadi dukun," kata sang ayah. "Kamu sendiri saya beri nama belakang Jazuli supaya bisa seperti penulis kitab Dala'il," ujar sang ayah. Anda sudah tahu siapa penulis Dala'il: Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli --ulama Maroko dari suku Jazulah abad ke 15.
Ada lagi pembawa selawat yang sangat terkenal. Dari Solo. Anda pasti sudah tahu namanya: Habib Syech. Inilah selawat jenis pop. Dilagukan. Pakai alat musik tepuk. Larisnya bukan main.
Kalau Anda ingin mendatangkan Habib Syech bisa-bisa harus antre dua tahun. Saya termasuk yang sering hadir di pelantunan selawat Habib Syech. Biasanya saya diminta duduk di panggung, di sebelahnya.
Begitu banyak pengagum Habib Syech sampai mereka membentuk organisasi dengan nama Syecher Mania. Saya pernah diangkat secara informal sebagai ketua nasional Syecher Mania.
Selawatnya Habib Syech bukan Dala'il. "Buku selawat yang saya rutinkan baca adalah maulid Simtud Duror dan Burdah," ujar Habib Syech kemarin.
Selawat Simtud Duror (untaian mutiara) lebih banyak menceritakan sejarah Nabi Muhammad. Penulisnya Habib Ali Muhamad al-Habsyi. Al-Habsyi adalah ulama Hadramaut (Yaman) yang wafat tahun 1915 di kota yang saya kunjungi tahun lalu: Syai'un.
Jadi, mana jenis selawat yang paling banyak dibaca orang di bulan Maulid seperti sekarang ini? Barzanji? Dala'il? Simtud Duror? Burdah?
Anda yang bisa jawab. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 10 September 2026: Resto Kuburan
Irary Sadar
Persis seperti penthil Durian, dari sekian ribu hanya beberapa yang berhasil. Sisanya rontok. Masalahnya, itu KDMP bukan dibangun dengan duit dia, jadi jangan seenaknya. Anggaran sebesar itu hanya untuk ujicoba..? Amsionglah...
Kholison
Dulu listrik adalah salah satu energi vital bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Memilih seorang leader PLN dari kalangan pemimpin surat kabar,yang punya leadership dan kemampuan manajerial,juga bisa dibilang sebuah perjudian besar. Tapi perjudian itu ternyata menghasilkan perubahan. Muncul program “Sehari Sejuta Sambungan” dan berbagai terobosan lainnya, yang ikut mendorong perubahan PLN sekaligus memperbaiki citra perusahaan menjadi lebih bersih, profesional, dan berhasil. Andai saja ada sosok leader dengan keberanian, leadership, dan kemampuan manajerial seperti itu yang ikut membuldoser KDMP, bukan tidak mungkin koperasi desa ini justru menjadi cikal bakal untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, khususnya amanat Pasal 33 UUD 1945. Memang risikonya besar. Tapi sejarah juga menunjukkan, perubahan besar hampir selalu dimulai dari sebuah keberanian mengambil risiko. Kita doakan saja KDMP bukan berakhir menjadi “restoran” atau “kuburan”, tetapi benar-benar menjadi jalan menuju cita-cita ekonomi kerakyatan. Aamiin.
dm ikan
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Apakah itu juga yang diusahakan oleh pemerintahan saat ini, salah satunya dengan pembangunan KDMP? Semoga bisa meminimalisir jurang pemisah yang ekstrim antara kelas atas dan bawah. Mungkin tidak semua KDMP akan belok kiri ke kuburan, tapi mungkin nantinya ada berapa % yang bertahan dan berhasil, berapa % yang akan rontok secara alami, dan mungkin juga ada berapa % yang akhirnya perlu di-pruning.
HANVINCY ADNOV
Jalan tengah antara kapitalisme dan komunisme adalah koperasi menurut Bung Hatta Menurut saya koperasi di zaman sekarang masih relevan n bisa berkembang, jika dengan tata kelola yg benar dan transparan termasuk anggota akan mendapatkan SHU walaupun kecil tergantung besar kecilnya koperasi tsb n mungkin juga keaktifan anggota. Mungkin yg membedakan koperasi dg sistem kapitalis adalah manfaat akan kembali ke anggota termasuk keuntungan melalui SHU, walaupun tata kelolanya seperti koperasi di Belanda tsb karena sudah besar. Yaa kadang ide n gagasan besar itu akan terlaksana jika situasi n kondisi menghendaki, termasuk pendirian koperasi di tiap desa tsb.
Laksana DedeS
Keadilan itu mitos yang ada di kepala homo sapiens. Begitupula cita-cita luhur yang ditulis dalam konstitusi atau UUD, semuanya mitos. Jargon "gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo" cuma ideal-ideal dalam imajinasi yang belum pernah dicapai dalam kenyataan sejarah. Faktanya kapitaliesme adalah "agama" yang sekarang dipercaya dan dianut peradaban modern. Walaupun prakteknya sinkretisme (bercampur) dengan kepercayaan sosialisme seperti contoh koperasi di Jepang dan Belanda yang ditulis Abah. Praktek kepercayaan baru sinkretisme seperti itu biasanya sukses dilakukan oleh pemimpin budayawan, yang memahami realitas sosial ekonomi masyarakatnya. Bukan oleh pemimpin elit yang berjarak dan tidak memahami dan mengalami realitas mayoritas sosial ekonomi masyarakatnya. Apalagi pemimpin yang hanya menerima laporan dari lingkaran penjilat, pragmatis sesaat, yang justru memberikan disinformasi. Sepertinya kita akan segera menghadapi persimpangan ke kuburan..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PENTAGON MENOLAK MEMBAYAR TUNJANGAN PERANG KEPADA KELUARGA TENTARA AS YANG TEWAS DI IRAN: ALASANNYA, KARENA AMERIKA BELUM DAN TIDAK MENYATAKAN PERANG TERHADAP IRAN.. Bingung, kan? Tentara AS tewas di medan tempur Iran. Korban di pihak Iran jauh lebih banyak. Senjata ditembakkan. Rudal beterbangan. Nyawa melayang. Tetapi secara administratif, perang itu ternyata belum tentu disebut perang kalau belum ada "pernyataan perang". Inilah keanehan perang modern. Operasionalnya ada perang. Administrasinya tidak ada perang. Di medan tempur, peluru tidak pernah bertanya apakah Kongres sudah memberikan stempel. Tetapi ketika keluarga korban menagih tunjangan, stempel itu mendadak menjadi sangat penting. Suaminya mati dalam perang. Namun keluarganya dianggap tidak berhak menerima tunjangan perang karena negaranya belum secara resmi menyatakan perang. Tentara yang berperang saja bisa bingung. Apalagi keluarganya. Apalagi rakyat biasa. ### MUNGKIN inilah politik. Di medan perang, yang berlaku adalah hukum peluru. Di meja administrasi, yang berlaku adalah hukum dokumen. Yang satu bisa membunuh manusia. Yang lain bisa membunuh haknya. Ironisnya, keduanya sama-sama memakai seragam negara.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
"Tidak ada presiden Indonesia senekad Prabowo." Ejaan yang benar adalah "nekat" (artinya: berkeras hati), bukan "nekad". Memang agak rancu dengan kata "tekad" yang artinya kehendak. Agak mirip tapi beda. Anda sudah tahu, Bonek itu bondo nekat, bukan bondo tekad. Nah mungkin Abah terbiasa menyebut bondo nekad karena menyatukan antara nekat dan tekad. Atau mungkin menurut Abah, nekad itu artinya "sangat nekat" karena pakai qolqolah. ttd Editor Partikelir
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 kok cuma mikirnya harus buat Koperasi? Padahal yang paling penting dari Pasal 33 adalah: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat." Jika memang mau melaksanakan itu, harusnya semua kekayaan alam itu MILIK NEGARA. Orang yang diberi hak mengelola hanyalah operator. Harusnya operator hanya dapat jasa sebagi operator. Tapi faktanya operator yang dapat keuntungan terbesar. Hasilnya sekarang ini: "... dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran warga megara yang dapat konsesi. " Negara dapat cipratannya saja. Itupun di pemerintahan masih di korupsi sehingga rakyat cuma dapat ampasnya saja. Alih-alih kemakmuran, asap kebakaran hutan, banjir, dan longsor itulah yang didapat oleh rakyat.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Okelah saya ikut husnuzan seperti Abah ke Presiden Prabowo. Tujuan Prabowo pakai buldoser MBG dan Kopdes itu bagus. Masalahnya semua itu tidak dilaksanakan dengan hati-hati sehingga "bocor" di sana-sini. Bocor itu ya berarti ada korupsi. Mark-up adalah korupsi yang paling banyak terjadi. Tujuannya jelas: memperkaya diri dengan mendapatkan untung sebesar-besarnya. Lalu, jika kita mau tetap husnuzan sama Presiden terhadap praktik korupsi ini, maka skenarionya adalah: Prabowo membiarkan semua orang korupsi itu agar ia terpilih lagi di tahun 2029. Merangkul banyak koruptor itu bisa jadi salah satu strategi karena mereka berjejaring sangat kuat. Bayangkan berapa banyak keluarga yang terlibat MBG dan Kopdes di seluruh Indonesia! Itu jaringan yang sangat kuat dan pasti bisa memengaruhi pemilih di 2029. Nah, baru nanti di periode kedua itulah Prabowo akan menyikat habis para koruptor karena tak lagi punya kepentingan di 2034. Demikian husnuzan saya.
Eksan Susanto
Tapi Ingat Bah... Presiden Prabowo bukan Bonek... bukan modal nekat aja, modalnya gede dari uang rakyat. Anda sudah tahu, dimana2 proyek yg pakai uang rakyat, rawan bocor. konsep KDMP sendiri monoton. satu desa sudah ada 2 alfamart, 1 indomaret, 2 toko madura... lah kok tetap bikin KDMP dengan jualan yg sama.. piye toh yo ???
Bahtiar HS
pak @Irary S, Betulll. Mie instan adalah mie halu. Berani mengklaim instan, tp pas mau dimakan masih butuh proses. Kan halu, namanya?
Bahtiar HS
Bertahap / gradual itu sudah menjadi ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlaku di muka bumi ini. Baik dalam ranah biologis maupun sosiologis. Baik dalam penciptaan alam (kauniyah) maupun penetapan syariah (tasyri'iyyah). Alam semesta saja diciptakan Allah dalam enam masa. Meskipun DIA mampu membuatnya sekali jadi dalam kedipan mata: KUN! FAYAKUN! Allah ingin mengajari manusia tt hukum bg makhluk-Nya bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tunduk pada proses dan waktu. Ar-Razi berpendpt Allah sengaja menciptakan alam semesta secara bertahap utk mengajari manusia sifat al-Anah atau ketelitian / tidak tergesa2. Ora grusa-grusu. Jika dilakukan sekaligus, katanya, maka keindahan keteraturan dan keterikatan sebab-akibat (sunnatullah) akan tampak gak jelas bg akal manusia. Syariat pun diturunkan secara bertahap sedikit demi sedikit pd manusia agar mampu beradaptasi dan tdk merasa terbebani scr ekstrem sekaligus. Kita bs lihat dari sejarah pensyariatan khamr misalnya. Mk siapapun yg ingin yg ingin melakukan perubahan sosial atau perbaikan diri, tp mengabaikan hukum gradual / bertahap krn inginnya instan, mk ia melawan sunnatullah. Semua yg melawan sunnatullah pastilah akan menemui kegagalan. KDMP pun spt itu. Pengin sak gradagan bangun koperasi di 80000 desa adalah keinginan instan yg melawan sunnatullah. Nir kajian, nir perencanaan yg baik, nir testing, nir pilot project dll. Pasti banyak lubang yg menganga. Kegagalan di depan mata. Kpd Pres PS: Bpk knp kok gak sadar2 ya?
Lagarenze 1301
Santai Sejenak Dalam pertemuan bilateral AS dan Rusia, Donald Trump berbisik ke Vladimir Putin. Trump: "Jika saya meninggal, saya yakin Anda akan datang mengencingi kuburan saya." Putin: "Tidak, saya tidak akan melakukannya." Trump: "Anda orang baik. Tapi, kenapa Anda tidak melakukannya?" Putin: "Saya tidak suka mengantre."
Lagarenze 1301
Santai Sejenak (Lagi) Pria kulit hitam masuk ke restoran. Ia melirik papan besar di dinding yang bertuliskan: "Orang Kulit Berwarna Dilarang Masuk." Saat pria itu duduk, seorang pria kulit putih terburu-buru mendatanginya dan berkata, "Permisi, Pak. Kami tidak melayani orang kulit berwarna di restoran ini." Pria kulit hitam tersenyum, menatap pria kulit putih, dan berkata, "Pak, ketika saya lahir kulit saya saya berwarna hitam, ketika sakit tetap berwarna hitam, ketika kedinginan berwarna hitam, ketika marah berwarna hitam, dan ketika sedih saya juga masih berwarna hitam." Kemudian, dia melanjutkan, "Tetapi Anda, ketika lahir kulit Anda berwarna merah muda, ketika sakit berwarna hijau, ketika kedinginan berubah menjadi biru, dan ketika marah berubah menjadi merah." "Dan, Anda berani menyebut saya kulit berwarna!" ujarnya dengan keras.*
djokoLodang
-o-- ... Yang miskin memang bisa meloncat, tapi dengan kecepatan kodok. ... *) Ada ilmu kodok yang sangat hebat. Kap-Moa-Kang andalan Si Racun Barat Auyang Hong, salah satu Tokoh Lima Besar dalam Legenda Pendekar Memanah Rajawali. --0-
my Ando
ngaco... Koperasi, KOPER adl wadah utk nyimpan barang² untuk bepergian dan ASI adl singkatan dari Anda Tau Sendiri
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Leong Putu.. KELUARGA BESAR BUMN..? Pak Leong ini memang berbahaya. Pasal 33 ayat (1) dibawa ke wilayah hukum keluarga. Secara konstitusional, benar: Pasal 33 ayat (1) tidak mengatakan bahwa bentuknya wajib koperasi. Yang ditekankan adalah perekonomian sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Tetapi “asas kekeluargaan” tentu bukan berarti BUMN boleh dikelola seperti family business: Bapaknya di sini. Anaknya di sana Dan cucunya di perusahaan lain, cicitnya ikut menikmati warisan. Secara ilmiah, asas kekeluargaan lebih tepat dipahami sebagai prinsip: 1) kebersamaan, 2) partisipasi, 3) keadilan, dan 4) orientasi pada kepentingan bersama Bukan hubungan darah atau kedekatan pribadi. Jadi masalahnya bukan BUMN atau koperasinya semata. Masalah utamanya adalah tata kelola. Kalau governance kuat, keluarga besar bisa tetap sehat. Kalau governance lemah, yang tumbuh bukan kekeluargaan. Melainkan: Dinasti.
Johannes Kitono
Medali Emas 3 M. Ketika melepas 432 atlet Asian Games dari 35 Cabor ke Aichi Nagoya, Jepang. Presiden menjanjikan hadiah Rp.3 mily bagi atlet pemenang medali emas. Juga kenaikan pangkat istimewa bagi atlet Polri dan TNI yang bertarung di arena itu. Team NKRI punya potensi mendapat Medali Emas di cabor Bulu Tangkis, Panjang Tebing, Angkat Besi dan Dayung. Kalau team Bulu Tangkis dan Dayung yang dapat medali emas. Menkeu Purbaya pasti sudah bisa siapkan rupiahnya dari dana Taktis Istana.Tentu saja hadiah 3 M itu besar dan sangat berarti bagi seorang atlet profesional. Para atlet adalah pahlawan olahraga yang berjuang menaikkan bendera Merah Putih dengan kumandang lagu Indonesia Raya. Kita sebagai rakyat NKRI tentu bangga dan terharu. Ironisnya, sesudah pensiun. Tidak semua atlet bisa melewati hari tuanya dengan sejahtera. Mereka seperti Habis Manis Sepah dibuang. Masih ingat Gurnam Singh. Atlet Sumut yang gadaikan Medali Emas Asian Games 1962. Dan melewati hari tuanya dengan Penarik Becak di Medan. Semoga Atlet NKRI berjaya dan kita semua sempat menyaksikan Sang Saka Merah Putih berkibar di Nagoya. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
Edi Sampana
Sdh banyak yg meminta agar proyek MBG dirubah total atau distop, Krn keracunan yg terus terjadi. Prof Mahfudz MD sdh mengusulkan distop dgn memberikan kompensasi pd pemilik dapur, pak Zulhas sdh bicara bahwa proyek MBG gagal. Akankah Abah akan mengusulkan stop MBG, dengan tegas. ?
Leong Putu
Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 berbunyi: "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan". Ndak ada keharusan membuat koperasi!!!!. Yang penting ada unsur usaha bersama dan kekeluargaan. Bukankah BUMN juga telah dikelola secara (usaha) barsama²? Bersama handai taulan dan kerabat dekat. Usaha bersama untuk mengeruk uang dalam jumlah besar guna keperluan logistik politik. Kekeluargaan? Bukankah BuMN itu sudah seperti keluarga? Ada anaknya, ada cucunya ada cicitnya. Yang belum jelas, siapa suaminya, kok sampai punya anak dan cicit.
-