JAKARTA, DISWAY.ID - Sepak bola Malaysia kembali menjadi perhatian setelah muncul polemik terkait tata kelola federasi, prosedur pendaftaran pemain, hingga persoalan naturalisasi.
Kondisi tersebut membuat AFC didorong untuk mengambil sikap tegas terhadap berbagai persoalan yang tengah berkembang.
Polemik terbaru turut beririsan dengan agenda pemilihan Presiden FAM yang dijadwalkan berlangsung pada 17 September 2026.
Di tengah proses tersebut, muncul sengketa hukum yang ikut mempertanyakan transparansi serta kredibilitas Federasi Sepak Bola Malaysia.
Salah satu sorotan diarahkan kepada Ketua Komisi Pemilihan, Prof. Datuk Dr. Abdullah Muhammad Said.
Pengacara olahraga Malaysia, Nick Erman Nick Roseli, mempertanyakan latar belakang akademis Abdullah yang disebut berasal dari bidang perencanaan kota dan studi lingkungan.
Persoalan tersebut kemudian dikaitkan dengan ketentuan dalam kode etik FAM 2026 yang disebut mengatur persyaratan bagi ketua komisi pemilihan.
Pengamat sepak bola Datuk Pekan Ramlee juga ikut memberikan kritik terhadap proses kongres tersebut.
Ia bahkan menyindir proses pemilihan yang dinilainya seperti pertunjukan wayang karena hasilnya diduga telah diatur.
Ia turut mendorong munculnya wajah-wajah baru di jajaran komite eksekutif serta sosok presiden yang dinilai lebih tegas.
Di tengah polemik tersebut, AFC melalui Sekretaris Jenderal Datuk Seri Windsor Paul John tidak memberikan komentar mengenai kelayakan ketua komisi pemilihan.
Sikap tersebut membuat publik Malaysia masih menantikan langkah otoritas sepak bola Asia dalam menyikapi persoalan administrasi yang berkembang.
Polemik Naturalisasi Picu Kemarahan Suporter Malaysia
Persoalan tata kelola federasi semakin memanas setelah muncul skandal terkait dugaan pemalsuan dokumen pemain keturunan.
Dugaan keterlibatan federasi dan klub dalam proses pendaftaran pemain tersebut kemudian memicu reaksi keras dari kelompok suporter.