JAKARTA, DISWAY.ID - Perombakan besar-besaran badan usaha milik negara (BUMN) di era Presiden Prabowo Subianto mendapat sorotan media asing.
The Telegraph menyoroti langkah pemerintah setelah pemetaan menemukan sebanyak 1.074 entitas BUMN yang berada dalam lingkup Danantara Indonesia.
Dalam analisis berjudul Indonesia’s ‘Prabowonomics’ is shaming the West’s approach to reform, Profesor Departemen Hubungan Internasional Webster University Rovshan Ibrahimov menilai langkah tersebut menunjukkan keberanian pemerintah mengambil keputusan sulit terhadap struktur yang telah terbentuk selama puluhan tahun. (Telegraph)
"Untuk mencabut struktur yang telah berakar kuat, diperlukan tangan yang cukup tegas," jelas Ibrahimov dikutip The Telegraph pada Jumat, 18 September 2026.
BACA JUGA:Kasus Korupsi MBG, Direksi BUMN Periode 2017-2026 Diperiksa Kejagung
Ibrahimov menyoroti skala restrukturisasi BUMN yang berada dalam lingkup Danantara Indonesia.
Pemetaan yang dilakukan pemerintah menemukan 1.074 entitas, jauh di atas perkiraan awal sekitar 300 hingga 400 entitas.
Menurutnya, kompleksitas tersebut terbentuk dari jaringan anak perusahaan dan entitas turunan yang berkembang selama bertahun-tahun.
Struktur berlapis itu dinilai berpotensi menciptakan fungsi tumpang tindih, melemahkan akuntabilitas, serta meningkatkan pemborosan.
BACA JUGA:Prabowo Targetkan 700 BUMN Ditutup hingga Desember 2026, Negara Bisa Hemat Rp100 Triliun
Hingga Agustus 2026, Danantara disebut telah menghapus 290 entitas melalui merger, likuidasi, dan divestasi.
Sementara target pemerintah adalah melakukan restrukturisasi terhadap 300 entitas hingga akhir tahun.
Langkah tersebut, menurut Ibrahimov, tidak lepas dari kritik terhadap Danantara.
Lembaga itu dinilai memiliki kekuasaan ekonomi besar dengan pertanggungjawaban yang pada akhirnya berada kepada Presiden.
BACA JUGA:Hutama Karya Perkuat Pendampingan Hukum untuk Kawal Penataan BUMN dan PSN