Judi: Menang yang Kalah

Kamis 01-10-2026,08:19 WIB
Oleh: Ahmad Sihabudin

Masalahnya, kemenangan kecil sering dijadikan alasan untuk terus bermain, sementara kekalahan dianggap sebagai sesuatu yang harus ditebus.

Kalah sedikit, tambah taruhan.

BACA JUGA:Allah Sudah Menunjukkan Tanda, Manusia Malah Sibuk Menjadi Tuhan

Kalah lagi, tambah modal.

Kalah semakin banyak, semakin sulit berhenti karena muncul pikiran: uang saya harus kembali.

Di situlah jebakan psikologis bekerja.

Orang bukan lagi mengejar kemenangan. Ia sedang mengejar uang yang sudah hilang.

Judi akhirnya bukan permainan uang, tetapi permainan ketidakmampuan menerima kekalahan.

Ironisnya, semakin seseorang berusaha mengembalikan uang melalui judi, semakin besar kemungkinan ia kehilangan lebih banyak.

BACA JUGA:Perubahan Dukungan Prabowo terhadap Palestina dari Kuat Menjadi Semakin Kuat

Maka judulnya memang pantas: menang yang kalah.

Menang sekali, tetapi kalah berkali-kali.

Menang uang, tetapi kalah akal.

Menang taruhan, tetapi kalah dalam kehidupan.

Al-Qur'an Sudah Mengingatkan

Jauh sebelum internet ditemukan, Al-Qur'an telah berbicara tentang hakikat perjudian.

Kategori :