Beberapa tahun lalu tepatnya 18 November 2024 di Sindo News.com, saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Gibran, He Is the Man.”
Waktu itu Gibran Rakabuming Raka baru saja memasuki panggung politik nasional dengan segala kontroversinya. Banyak yang meragukan, banyak pula yang mencibir.
Ada yang mengatakan ia belum berpengalaman. Ada yang menyebutnya planga-plongo. Ada yang mempertanyakan kemampuan komunikasinya. Bahkan ada yang merasa lebih tahu masa depan Gibran daripada Gibran sendiri.
BACA JUGA:Allah Sudah Menunjukkan Tanda, Manusia Malah Sibuk Menjadi Tuhan
Menariknya, waktu berjalan. Gibran ternyata tidak hilang dari panggung. Ia justru semakin berada di tengah panggung.
Dan seperti lazimnya panggung politik Indonesia, kalau seseorang mulai terlihat semakin terang, biasanya bukan hanya lampu sorot yang datang. Nyamuk pun ikut berdatangan.
Semakin terang seseorang, semakin banyak pula yang merasa perlu memadamkan lampunya. Itulah politik.
Dari “Planga-Plongo” ke Wakil Presiden
Dulu Gibran sering menjadi bahan olok-olok. Istilah “planga-plongo” bahkan seolah menjadi semacam gelar akademik tidak resmi yang diberikan oleh para pengamat media sosial. Aneh memang.
BACA JUGA:Ketika Manusia Membela Tuhan
Seseorang disebut tidak mampu, tetapi terus dibicarakan. Seseorang disebut tidak punya kapasitas, tetapi terus dicari kesalahannya. Seseorang dianggap tidak penting, tetapi setiap gerak-geriknya dipantau.
Kalau benar-benar tidak penting, bukankah lebih baik dibiarkan saja?
Dalam komunikasi politik, perhatian adalah modal. Bahkan kritik yang berlebihan kadang-kadang justru bekerja seperti iklan gratis.
Bedanya, iklan dibayar oleh pemasang, sedangkan kritik politik sering kali dibayar dengan tenaga, waktu, dan emosi sendiri.
Gibran mungkin tidak perlu memasang baliho. Para pengkritiknya sudah membantu memasang baliho dalam bentuk perdebatan setiap hari. Begitulah paradoks politik.