Memasuki usia ke-23 tahun, Yayasan Al Qohhar terus berupaya mempertahankan semangat awal pendiriannya, yakni menjalankan amanat untuk memperhatikan anak yatim dan yatim piatu. Dari sebuah majelis taklim, yayasan kini berkembang dengan berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan.
Perhatian juga diberikan kepada para lansia melalui program pemberian sembako secara rutin. Namun, anak yatim dan yatim piatu tetap menjadi salah satu fokus utama.
Bagi anak-anak yang kehilangan orang tua, pendampingan semacam itu bukan hanya soal berapa rupiah yang mereka terima setiap bulan. Lebih dari itu, ada rasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Ada yang membantu ketika biaya sekolah harus dibayar, ada yang mencarikan pengobatan ketika tubuh mereka sakit, ada yang menyediakan fasilitas ketika mereka membutuhkan alat belajar, dan ada pula yang hadir untuk memberikan nasihat ketika mereka sedang mencari arah.
Itulah yang selama 23 tahun berusaha dibangun Yayasan Al Qohhar: bukan sekadar tempat menerima santunan, melainkan ruang untuk tumbuh, belajar, dan menatap masa depan.
BACA JUGA:Dukung Proses Pembelajaran, Kemensos Gaet Unhan Lewat Program Pengabdian
Bagi Haji Robert, meneruskan amanat sang guru berarti memastikan anak-anak yatim dan yatim piatu tetap mendapatkan perhatian, kasih sayang, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.